Indonesia: revolusi Asia telah dimulai
Berita pengunduran diri Soeharto telah mengguncang dunia layaknya
ledakan bom. Selama tiga puluh dua tahun, setelah meraih kekuasaan
dengan melangkahi mayat lebih dari sejuta orang, Tiran yang
berlumuran darah ini memerintah Indonesia dengan tangan besi.
Sekarang ia telah dihempas seperti sehelai daun kering di tengah
badai. Gerakan massa yang menakjubkan, yang terdiri atas para
mahasiswa dan buruh pekerja, telah meraih kemenangan besar. Sampai
menit terakhir, Soeharto masih memegang kukuh kekuasaannya, mengancam
akan terjadinya kolam darah jika massa terus tidak mau mematuhinya.
Tetapi saat kebenaran muncul, itulah saat seluruh bangunan besar
represi runtuh, kolaps seperti rapuhnya rumah-rumahan kartu saat
berhadapan dengan kebangkitan rakyat banyak. Ini awal sebuah
revolusi. Mirip seperti tahun 1931, saat monarki Spanyol diruntuhkan
lalu diproklamasikan berdirinya Republik Spanyol. Hal ini membuka
pintu air bagi datangnya banjir bandang revolusi. Indonesia saat ini
memasuki jalan yang sama.
Kejadian-kejadian di Indonesia telah menimbulkan kejutan di dunia
kapitalisme Internasional. Tepat pada saat semua terlihat indah bagi
kaum Borjuis, krisis di Asia menyerang dengan kekuatan menghancurkan
dari sebuah puting beliung tropis. Sekarang krisis ekonomi telah
menampakkan dirinya dalam wujud sosial dan politik. Seperti biasa,
media massa mencoba menutupi keadaan yang sebenarnya dengan melukis
gambaran mengenai chaos dan anarki. Tetapi, di antara mereka sendiri,
para penyusun strategi kapitalis mengetahui bahwa apa yang muncul di
Indonesia bukan semata kerusuhan. Itu awal dari sebuah revolusi.
Adalah penting bahwa setiap pekerja dan buruh yang memiliki kesadaran
mengetahui benar apa yang tengah terjadi di negara kunci di Asia ini.
Untuk beberapa bidang, kaum borjuis hanya bisa menyalahkan diri
mereka sendiri atas apa yang terjadi baru-baru ini. Berpuluh tahun
mereka telah menjarah perekonomian Asia, Afrika, dan Amerika Latin,
memaksa negara-negara di sana untuk membuka diri terhadap
perusahaan-perusahaan raksasa multinasional dan terhadap
imperialisme, menurunkan tarif mereka, memaksa mereka menjual
industri dan perangkat mereka dengan harga yang menyedihkan. Harga
bahan baku yang merupakan ekspor utama negara-negara itu ditekan
serendah mungkin sementara harga dari komoditas dan mesin-mesin yang
merupakan ekspor negara-negara yang lebih maju dari Dunia Ketiga itu
secara konstan terus bertambah. Jumlah hutang negara-negara bekas
jajahan telah mencapai posisi melangit dan tak akan pernah dapat
dilunasi. Bunga hutang yang mematikan telah menghancurkan
perekonomian mereka. Lalu polisi internasional dari dunia kapitalis,
yaitu IMF dan Bank Dunia, mengawasi seperti rajawali bertengger untuk
memastikan bahwa tiap sen hutang itu terbayar, atas penderitaan
akibat sanksi-sanksi yang pedih. Jadi, imperialisme dunia telah
menempatkan dua per tiga populasi dunia ke dalam angka-angka
kelaparan.
Keserakahan kaum borjuis disertai oleh berlusin-lusin kebodohan.
Mereka percaya bahwa pawai gemerlap dari pengerukan uang ini akan
berlangsung selamanya. Mereka telah menemukan batuan kimiawi yang
bisa merubah logam dasar menjadi emas. Fakta bahwa emas ini terbentuk
dari darah, keringat, dan air mata berjuta-juta orang paling miskin
dan paling tertindas di muka bumi, adalah hal yang mereka abaikan
begitu saja. Para lintah darat ini hanya tertarik untuk meraup
keuntungan maksimum dengan bayaran yang minimum, dan peduli setan
dengan segala macam konsekuensi. Tetapi kekejaman yang menekan
orang-orang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin telah membangun
kontradiksi-kontradiksi tak terpecahkan selama berpuluh tahun. Kini
tibalah saatnya perhitungan dilakukan.
Kejadian-kejadian di Indonesia membuat mereka terlongong bengong.
Mereka berusaha membuat diri mereka nyaman dengan pikiran bahwa ini
"cuma kerusuhan belaka". Hal itu terpaksa mengingatkan orang kepada
raja Perancis tahun 1789, saat ia bertanya pada salah seorang
punggawanya apakah yang berada di luar (istananya) adalah suatu
kerusuhan dan ia mendapat jawaban, "Bukan, Baginda, itu revolusi."
Kedunguan macam itu adalah tipikal dari kelas yang diruntuhkan, yang
menolak untuk percaya bahwa demikianlah yang telah dituliskan untuk
sistemnya. Di Zimbabwe dan Tanzania telah timbul kerusuhan akibat
provokasi tak berperikemanusiaan dari IMF. Itu sudah merupakan sebuah
peringatan bahwa kesabaran massa telah mencapai limitnya. Namun
kejadian-kejadian di Indonesia berbeda secara kualitatif. Bukan
semata kerusuhan-kerusuhan, tetapi awal mula dari sebuah revolusi
yang tidak akan terpatahkan dalam bilangan bulan dan tahun, serta
akan mengguncang Asia dan dunia. Dalam waktu semalam dunia
"menemukan" bahwa Soeharto adalah seorang diktator yang berlumuran
darah, yang telah menjagal jutaan orang. Kaum imperialis meremas
tangan mereka dan menghimbau untuk adanya demokrasi dan perdamaian,
tetapi ini sepenuhnya merupakan lelucon hipokrit. Dunia Barat telah
mengetahui siapa Soeharto secara keseluruhan, dan telah pula
mendukungnya bermegah-megah. Tahun 1965, ketika Soeharto mencapai
kekuasaan dengan melewati timbunan lebih dari sejuta mayat kaum
Komunis, publik Barat menoleh ke arah lain, tetapi secara diam-diam
memberi selamat terhadap pembantaian itu dan aktiv berpartisipasi di
dalamnya. CIA memberikan nama dan alamat semua kaum Komunis dan
simpatisannya yang diketahui kepada militer di Indonesia, nama
orang-orang yang kemudian dibunuh. Lebih dari tiga puluh tahun Wall
Street dan City of London membiayai pembunuhan massal ini tanpa
sedikitpun rasa cemas menyusupi nurani mereka.
Pemerintahan-pemerintahan Barat --termasuk, alangkah memalukan!,
pemerintahan Partai Buruh yang sekarang berkuasa di London-- terus
menjual senjata dan perlengkapan keamanan ke Jakarta. Meskipun
bantuan militer Amerika Serikat telah dihentikan sejak 1992, Pentagon
telah mengadakan latihan bersama dengan pasukan elit militer
Indonesia di bawah program JCET (Joint Combined Exchange and
Training). Sejak 1993 Angkatan Bersenjata AS telah mengadakan 41
latihan bersama dalam program JCET dengan ABRI, seharga 3,4 juta
dolar. Apa hal ini menjadi persoalan selama uang mengalir masuk?
Peribahasa Jerman mengatakan, "uang tidak berbau". Soeharto adalah
penjaga stabilitas dan stabilitas, sebagaimana setiap orang akan
mengatakan kepada Anda, adalah syarat pertama untuk menghasilkan uang
secara serius. Pembunuhan terhadap lebih dari sejuta orang, para
wanita dan anak-anak hanyalah sebuah detilitas kecil, adalah hal yang
lebih jauh dapat dibenarkan dalam lapangan ekonomis. Ini memulihkan
martabat "orde", sekalipun orde yang tegak di atas pekuburan. Semua
kelihatan menyenangkan bagi hamba-hamba uang di London dan New York.
Hingga sekarang.
KAPITALISME KRONI
Ledakan yang terjadi di Indonesia bukanlah sesuatu tanpa asal. Hal
itu bahkan bukan merupakan akibat kolaps ekonomi yang baru terjadi di
Asia, meskipun krisis Asia tak dapat disangkal telah menjadi katalis
yang kuat. Apa yang terjadi di Indonesia merupakan akumulasi dari
kontradiksi yang tak terpecahkan selama puluhan tahun. Seperti semua
macan ekonomi lain, Indonesia dijadikan contoh cemerlang dari apa
yang dapat dicapai oleh kapitalisme terhadap negara yang dulunya
terbelakang. Pada kenyataan sesungguhnya, penanaman modal asing dalam
jumlah besar tidak memecahkan satupun masalah fundamental dalam
masyarakat Indonesia, tetapi malah memperparahnya. Apa yang telah
dilakukan modal asing sebenarnya malah memperkuat kelas menengah,
yaitu kelas pekerja, satu-satunya kekuatan yang benar-benar dapat
menunjukkan jalan keluar dari kebuntuan dan membawa sebuah
transformasi masyarakat yang progresif dan menyeluruh.
Sama halnya dengan seluruh kaum borjuis di negara-negara bekas
jajahan, kaum borjuis Indonesia pada intinya curang dan korup.
Golongan ini telah memperlihatkan ketidakmampuannya untuk
mentransformasikan masyarakat Indonesia berdasarkan garis progresif.
Setelah setengah abad dari apa yang dinamakan kemerdekaan, kaum ini
tidak memecahkan satu pun problem dasar --problem agraria, problem
nasional, modernisasi, demokrasi, bahkan kemerdekaan sejati tidak
tercapai. Kaum borjuis Indonesia terlambat menapaki tahapan sejarah
untuk memainkan sebuah peranan progresif. Lemah dan memburuk
keadaannya, mereka hanya dapat memainkan peran pesuruh lokal bagi
imperialisme asing. Perwujudan paling jelas dari hal ini adalah
perampasan kekayaan negara oleh keluarga Soeharto dan antek-anteknya,
yang memiliki dan mengatur sebagian terbesar perekonomian. Dengan
demikian, dalam kondisinya yang berkelimpahan sumber daya alam,
negara terpadat keempat populasinya di dunia ini telah direduksi
untuk mengemis dan bergantung secara memalukan kepada belas kasihan
IMF. Inilah hasil akhir dari setengah abad "kemerdekaan" kaum borjuis
di Indonesia.
Selama 32 tahun keluarga Soeharto telah memerintah Indonesia
seperti sebuah dinasti kerajaan atau, lebih tepatnya, seperti para
bangsawan maling. Mereka memiliki bagian terbaik dari ekonomi yang
mereka jarah tanpa kendali, memberi sebuah arti yang seluruhnya baru
terhadap ungkapan "Keep it in the family". Presiden Soeharto dan
keenam anaknya mempunyai jaringan kekayaan yang besarnya diperkirakan
mencapai 40 milyar dollar Amerika, sama dengan setengah GNP
Indonesia. Pengaruh mereka mencakup hampir semua aspek kehidupan di
Indonesia: mereka mengontrol aset minyak dan listrik untuk pesawat
terbang, mobil, jalan tol, dan media massa. Sigit Harjojudanto, putra
tertua Soeharto, bersama Bambang memiliki sebagian besar sektor
petrokimia. Bambang Trihatmojo, putra ketiga, mengontrol bank
Andromeda (25 persen saham), memiliki kelompok PT Bimantara Citra
yang mengatur stok pasar Jakarta, dan di waktu senggangnya mejadi
bendahara Golkar, "partai" yang berkuasa. Dia juga memiliki saham di
bidang perkapalan di Osprey Maritime dan memilkiki andil 75 persen
saham lahan petrokimia Chandra Asri. Si Bobrok Hutomo (Tommy) Mandala
Putra memiliki Bank Utama secara join dengan Siti Hutami, menjalankan
proyek mobil nasional Timor dan PT Timor Putra Nasional. Dia juga
membangun serta mengontrol Grup Humpuss, dan juga PT Humpuss
Intermoda Transportasi. Tambah lagi dia menjalankan perusahaan yang
memonopoli cengkeh (sekarang sudah dibubarkan), dan memiliki
kompanion Goro. Cukuplah ini dulu bagi para anak lelaki Soeharto.
Namun demikian, para anak perempuannya pun tidak terlalu bertindak
jelek. Siti Hardijanti Rukmana (Tutut), putri pertama presiden,
mengontrol PT Citra Marga Nusaphala Persada yang mengoperasikan jalan
tol, memiliki bank Yama, ketua komisi Golkar, sekaligus Menteri
Sosial. Tutut membangun Grup Citra Lamtoro Gung dan bersama Sigit ia
mempunyai andil atas 30 persen saham Bank Central Asia. Siti Hediati
Harijadi Prabowo, puteri tengah memiliki 8 persen saham Bank
Industri. Puteri bungsu, Siti Hutami Endang Adiningsih, hanya pemilik
join dari Bank Utama, bersama Hutomo.
Inilah "kapitalisme kroni" dalam skala besar, di mana seluruh
kekayaan yang amat besar dan potensial dari negara secara sistematis
dicukur oleh klik Soeharto dan imperialisme asing. Kemarahan dan
ketidakpuasan terhadap situasi negara yang begini perlahan bergolak
menjangkiti semua kelas, tidak hanya pada kelas pekerja dan buruh
tani, tetapi juga pada sejumlah besar kaum borjuis kecil dan para
mahasiswa, menciptakan situasi yang secara potensial bersifat
eksplosif. Untuk beberapa waktu lamanya hal ini ditutupi topeng
pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan prospek yang lebih baik. Tetapi
krisis di Asia secara cepat sekali mereduksi mimpi-mimpi ini menjadi
abu. Dalam waktu semalam ekonomi Indonesia jatuh ke dalam krisis.
Rupiah jatuh hingga angka 11.000 per satu dolar. Bangkrutnya ekonomi
secara cepat menjadi dasar kebangkrutan rezim.
Kejadian-kejadian di Indonesia haruslah dilihat dalam konteks
keseluruhan krisis di Asia, yang secara khusus telah memukul
Indonesia secara telak. Krisis di Asia telah menimbulkan dampak yang
menghancurkan pada kerja, upah, dan standar hidup. Banyak buruh
diberhentikan dari kerja mereka, sekarang berhadapan dengan prospek
kenaikan harga bahan kebutuhan pokok. Juru bicara Asosiasi Perempuan
Indonesia untuk Keadilan (APIK) Sriwiyanti menandaskan bahwa para
pemilik perusahaan menggunakan krisis ekonomi yang memburuk untuk
membenarkan gelombang pekerja yang di PHK dan dirumahkan akhir-akhir
ini. Dia menambahkan: "Tak usah ditanyakan bahwa krisis ini telah
menggiring banyak perusahaan menjadi bangkrut, tetapi banyak
perusahaan yang belum terpengaruh parah telah menggunakan isu ini
untuk mencoret pekerja atas nama efisiensi," klaimnya. (The Jakarta
Post, 5/5/98).
"Kenaikan harga diikuti pemberhentian jutaan pekerja, disebabkan
kolapsnya perekonomian dan depresiasi rupiah. Kekacauan berkembang di
seluruh negeri begitu pemerintahan Soeharto mengakhiri subsidi
terhadap barang-barang kebutuhan pokok sesuai syarat-syarat yang
ditetapkan IMF untuk paket bantuan ekonominya. (Sidney Morning
Herald, 7/5/98.)
Kejatuhan rupiah sekitar 2.400 level terhadap dolar Juli lalu
mendorong Indonesia ke dalam jurang kisis ekonomi terburuk sejak
Soeharto mengambil alih kekuasaan pada pertengahan tahun 60-an.
Inflasi dan pengangguran melonjak, sebagain besar industri bangkrut
secara teknis, perdagangan mengalami kemacetan. Kenaikan harga bahan
bakar sebagai bagian perjanjian dengan IMF, jelas menyebabkan
terjadinya kesukaran di negara yang bergantung pada transportasi di
antara 17.500 pulau yang terbentang sepanjang 5.000 kilometer (3.000
mil) di khatulistiwa. Diukur dalam dolar Amreika, pendapatan per
kapita di Indonesia turun setidaknya 60% dalam 6 bulan terakhir. Hal
ini tercermin dari makin banyaknya orang yang tak mampu membeli bahan
kebutuhan pokok semenjak harga melangit. Harga sembako, termasuk di
dalamnya minyak goreng, naik 20%. Penimbunan membuat beberapa jenis
barang menjadi langka, termasuk beras. Menghadapi gelombang panik
pembelian besar-besaran, pemerintah terpaksa mengumumkan akan
mengimpor setengah juta ton beras untuk memenuhi kebutuhan dalam
negeri.
Tidak sepenuhnya benar bahwa yang bertanggungjawab atas ledakan
ini adalah tindakan-tindakan IMF. Hal itu hanya letikan yang menyulut
tong mesiu. Seperti yang pernah dikatakan Hegel, Keharusan
(Necessity) menampilkan diri melalui kebetulan. Dengan atau tanpa
syarat-syarat yang diajukan IMF, tetap akan terjadi erupsi.
Landasannya telah disiapkan sepanjang periode sebelumnya. Naiknya
harga beras, minyak goreng, dan lain-lain kebutuhan dasar adalah
sumbu terakhir. Ketika rupiah jatuh pada nilai 10.000 terhadap dolar
Amerika, IMF mengambil kesempatan untuk memaksa konsensus lebih
lanjut pada pemerintahan Soeharto. Kehabisan akal memperbaiki
stabilitas keuangan, Soekarto terpaksa menerima bahkan syarat-syarat
yang lebih keras. Nota kesepakatan yang baru, yang ditandatangani IMF
dan Soeharto pada tanggal 15 Januari, meningkatkan konsensus dalam
dua sektor. Pertama, rezim telah harus setuju mengakhiri subsidi atas
listrik dan BBM. Naiknya harga penyelenggaraan energi akan memimpin
terjadinya inflasi dalam waktu panjang. Harga bahan bakar rata-rata
naik sebesar 47%, dan listrik rata-rata naik sebesar 60%. Badan
pengawas kesepakatan mengestimasikan inflasi akan terjadi sekurangnya
20% per tahun untuk beberapa tahun mendatang, meski dalam prakteknya
angka itu bisa jadi lebih. Secara tidak proporsional beban terberat
akan jatuh pada lapisan termiskin dari masyarakat. Kenaikan harga
bahan bakar terutama memukul 50 juta rakyat miskin di Jawa. Sejak
pembabatan hutan-hutan di pulau Jawa dan hilangnya kayu bakar,
sebagian besar masyarakat bergantung pada minyak tanah untuk
keperluan memasak makanan dan minuman.
Senin 4 Mei, terikat tekanan yang datang dari IMF, pemerintah
Indonesia mengumumkan kenaikan tarif transportasi umum, hanya
beberapa jam setelah sebelumnya mengumumkan kenaikan listrik dan BBM
(bahan bakar minyak) sesuai dengan rekomendasi IMF untuk mengurangi
subsidi bagi kedua komoditas tersebut. Inflasi tahunan mulai berjalan
mendekati 30%, dengan lonjakan harga bulan April 4,7% lebih tingi
dari bulan sebelumnya. Beberapa bahan bakar mengalami lonjakan harga
hingga 71%, berdampak pada kenaikan tarif kereta api dan transportasi
laut berkisar rata-rata 65,61%. Kenaikan tertinggi (100,72%) terjadi
pada tarif kereta api kelas ekonomi, sementara tarif bis ekonomi
antar-kota mengalami kenaikan sebesar 50%. Tarif bis reguler dan
minibus, yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat sehari-hari,
naik sebesar 66,67% setelah diramalkan 50% --dari 300 rupiah menjadi
500 rupiah untuk bis dan 400 rupiah menjadi 600 rupiah untuk minibus.
Tarif kereta api bertenaga diesel naik 72,96% sementara tarif kapal
laut --yang sangat penting di negara yang terdiri atas ribuan pulau--
naik 53,33%.
Menteri Pertambangan dan Energi Kuntoro Mangkusubroto mengetahui
bahwa lonjakan harga merupakan pukulan bagi publik, tetapi ia
mengatakan bahwa keputusan tersebut adalah yang "terbaik" dari daftar
pilihan yang "berat dan pahit". Megawati Soekarnoputri, tokoh
pemimpin oposisi, menyalahkan pemerintah atas terjadinya lonjakan
harga, ia mengatakan bahwa mereka telah menunjukkan bahwa
administrasi Soeharto tidak menjangkau rakyat. Sejauh apa hal itu
tidak menyentuh rakyat segera terkuak. Pilihan-pilihan yang "keras
dan pahit" tadi segera menghasilkan akibat yang tidak bisa
diantisipasi baik oleh pemerintah atau penyokong luar negerinya,
tidak juga oleh para pemimpin oposisi yang borjuis. Terjadi ledakan
spontan dan cepat. Kekerasan meletus segera setelah diumumkannya
kenaikan harga bahan bakar dan tarif angkutan umum:
"Sekarang ini semua orang mengeluhkan harga," kata Yayah Syamsiah,
40 tahun, seorang penjual bakmi di Jakarta, ayah dari enam anak. 'Who
Will Listen to Us? Ordinary people are Crying' (Associated Press,
5/5/98)
Sekali dimulai, secara cepat pergerakan memperoleh karakternya
yang khas Indonesia. Di ibukota Sumatera Utara, Medan, kekacauan
pecah hanya beberapa jam setelah pemerintah mengumumkan kenaikan
tajam atas bahan bakar dan tarif angkutan, sejalan dengan tuntutan
reformasi yang diajukan IMF. Selama terjadinya amuk massa, tercatat
170 toko dihancurkan atau dijarah dan dibakar di Medan, sementara 38
mobil dan 21 sepeda motor juga dibakar. Demikianlah menurut laporan
kepolisian Sumatera Utara. Reaksi rezim terhadap kakacauan-kakacauan
tersebut adalah memadamkannya dengan kekerasan.
Kedunguan dari para penyusun strategi kapitalis yang berkepala
batu, dan ketidakpedulian sepenuhnya atas penderitaan rakyat, secara
tajam dapat dilihat dari komentar yang dikeluarkan oleh Direktur
Pelaksana IMF, Michael Camdessus, yang berbicara di Melbourne
Australia sesaat setelah kerusuhan mulai. Ia menyatakan "keprihatinan
mendalam" atas terjadinya kerusuhan tersebut, tetapi dengan kepuasan
yang mengherankan ia djuga mengatakan behwa sebab sebenarnya dari
ketidakpuasan rakyat adalah bukan kenaikan harga, melainkan problem
manajemen ekonomi yang lebih mendalam yang telah menyebabkan
terjadinya krisis sedari awal. Masih sama mengherankannya ia
menambahkan bahwa kenaikan harga bahan bakar sebesar 71% yang
menyebabkan terjadinya kerusuhan di Medan "sangat diperlukan bagi
masa depan ekonomi negara", dan dia menandaskan bahwa Jakarta harus
tetap melaksanakan program ekonomi ketat yang diajukan oleh IMF. Dia
menyampaikan bahwa kenaikan harga bahan bakar adalah bagian dari
persetujuan IMF dan Indonesia yang akan membawa perekonomian ke arah
yang lebih berimbang. "Meskipun prihatin atas terjadinya
(kerusuhan-kerusuhan) ini, kita harus tetap mengingat bahwa bukan
program kami yang menjadi sebab sesungguhnya dari persoalan-persoalan
ini," kata Camdessus. (Sidney Morning Herald, 6/5/98)
SEBUAH GERAKAN ANTI-CINA?
Satu gambaran yang disorot oleh media massa adalah penyerangan
terhadap para pemilik toko etnis Cina. Bukan fenomena baru di
Indonesia di mana etnis Cina, yang hanya berjumlah 3% dari penduduk
Indonesia yang berjumlah 202 juta jiwa, mendominasi sektor komersil
dan menguasai 80% dari 163 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Jakarta. Hal ini telah lama menjadi target diskriminasi yang
kadang-kadang meledak jadi kekerasan, diperburuk dengan kenyataan
bahwa beberapa pengusaha Cina yang kaya adalah penyokong utama
Soeharto. Bagi massa yang terdiri dari pengangguran dan kaum
pinggiran kota yang lapar, godaan untuk menjebol toko --yang sebagian
besar dimiliki oleh orang Cina-- lalu mengambil makanan dan
barang-barang lain, sungguhlah tak dapat ditahan. Tragisnya, yang
menjadi korban utama adalah justru para pengusaha kecil etnis Cina.
"Orang-orang Cina-lah yang paling menderita," tulis The Sunday
Times, "para pengusaha kecil di Pecinan harus membayar untuk
kemarahan rasial yang telah ada selama bergenerasi lamanya dan untuk
aliansi yang sekarang terjadi antara keluarga Soeharto dan beberapa
hartawan Cina. Mereka adalah target yang jelas bagi kelompok yang
dinamakan 'massa membludak' yang telah didepolitisasi selama tiga
dekade di bawah pemerintahan rezim Orde Baru pimpinan Soeharto.
"Tentu saja, orang Cina terkaya telah terbang (meninggalkan
Indonesia). Kerumunan massa menuju rumah Liem Sioe Liong, seorang
imigran pedagang mie dari Fujian yang menjadi milyuner semen. Mereka
menyerbu masuk dan lalu membakar rumah itu. Di dinding, seorang
menyoretkan tulisan cakar ayam 'Anjing Soeharto'. Liem sendiri tidak
berada di rumah --ia telah ke Amerika Serikat." (The Sunday Times
17/5/98).
Sejak awal, media massa Barat telah mencoba menggunakan hal-hal
ini untuk menyajikan gambaran yang sepenuhnya terdistorsi atas
kejadian-kejadian di Indonesia --seperti yang sebelumnya telah mereka
lakukan terhadap Albania. Koran-koran dipenuhi gambar-gambar
penjarahan dan pembakaran. Sesungguhnya, bahkan meski membuta,
kerusuhan merefleksikan protes menentang kaum yang kaya dan berkuasa,
itulah yang terlihat saat para perusuh mengeluarkan mobil dari show
room lalu membakarnya ataupun saat mereka menyerang bank-bank. Karena
keluarga Soeharto memiliki hak monopoli atas "mobil nasional" dan hal
itu secara erat berkaitan dengan perbankan, maka pesan (dari
kerusuhan) telah jelas. Koresponden Guardian mengamati bahwa:
"Perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh anak-anak Soeharto, yang
menimbun harta besar, adalah target utama bagi para perusuh". (The
Guardian 6/5/98) Lalu: "Tampaknya kerusuhan Jakarta mulai membongkar
istana keluarga ketika kemarin mereka menyerang cabang-cabang Bank
Central Asia, bank swasta terbesar di Indonesia, sebagian dimiliki
oleh Liem (Sioe Liong) dan kedua anak Soeharto." (The Guardian
15/5/98). Hal yang sama juga ditandaskan The Sunday Times: yang
dilawan oleh suara-suara ini adalah yang menjadi kroni-kroni lama
presiden, serta anak-anaknya. Puteri tertua presiden, Siti Hardijanti
Rukmana atau Tutut, duduk di kabinet sebagai menteri sosial, yang
memegang kuasa atas jalan-jalan tol Jakarta, adalah target dari
serangan kerusuhan ini. Tommy, putera Soeharto yang memperoleh
keuntungan lewat proyek mobil nasional; show room-show roomnya
merupakan target utama aksi kekerasan, sama halnya dengan bank-bank
yang terkait dengan keluarga ini. (The Sunday Times 17/5/98) Minat
para perusuh terungkap dari kutipan berikut, berasal dari artikel
yang sama: "Agus, 24, sarjana penganggur, turun ke jalan dan gembira
atas perusakan yang terjadi. 'Keluarga Soeharto telah merampas
(kekayaan) negeri kami dan sekarang orang-orang merampas dari
mereka,' katanya." (The Sunday Times 17/5/98)
Tidaklah penting menjelaskan bahwa pembakaran pertokoan amatlah
jauh dari aktivitas revolusioner, dan kerusuhan lebih merupakan
ungkapan keputusasaan dan kemarahan kaum yang paling dipinggirkan,
mereka inilah yang membalas dendam pada keadaan sosial masyarakat
atas kemelaratan mereka. Kenyataan ini bahkan dimengerti oleh kelas
menengah yang menjadi korban kemarahan kelas tertindas, seperti
komentar pemilik hotel yang hotelnya terbakar habis: "Apa yang Anda
harapkan? Orang-orang itu lapar." Elemen-elemen kelas tertindas ini
tak diragukan lagi telah ada. Kaum proletar-gelandangan
(lumpenproletariat), Marx menyebut mereka sebagai "massa yang
membusuk secara pasif", selalu membuat usaha yang menguntungkan diri
sendiri di setiap kekacauan, mereka membakar dan menjarah. Sepertinya
agen-agen provokasi rezim sengaja memancing elemen-elemen ini dan
mengarahkan mereka untuk melawan etnis Cina dengan tujuan membelokkan
titik perhatian dari kaum kaya. Tetapi mereka tidak akan berhasil.
Dalam kasus manapun hal ini sepenuhnya dusta --dan sesungguhnya
fitnah-- untuk mengidentifikasikan revolusi hanya sebagai kerusuhan
sederhana. Selalu ada elemen (lumpenproletariat) yang begini ini
dalam setiap revolusi, sampai, dengan amat alamiah, revolusi
mengguncang masyarakat hingga ke kedalamannya, membangkitkan bukan
hanya kelas pekerja dan buruh, tetapi juga kaum termiskin, lapisan
yang paling dipinggirkan dan paling putus asa. Bagaimanapun, elemen
ini (yaitu para penjarah) hanyalah suatu kebetulan, dan sama sekali
bukanlah esensi gerakan. Bahwa kerusuhan dan penjarahan sepenuhnya
terpisah dari demonstrasi politik telah jelas diantara para pemegang
otoritas: Komandan Komando Daerah Militer Deli Serdang Letkol B.
Sinuhaji menyampaikan pada The Jakarta Post bahwa kerusuhan-kerusuhan
adalah isu yang terpisah. "Ini penjarahan. Mereka tak punya kaitan
dengan politik atau demonstrasi," katanya. (Kompas, 8/5/98, pilihan
penulis)
Dalam tanda kurung dapat kita tambahkan bahwa dalam tiap revolusi
terdapat campuran reaksi dari berbagai elemen, termasuk revolusi
Rusia, ketika kaum proletar-gelandangan Black Hundred rusuh, digiring
oleh polisi Tsarist mereka dituntun untuk melawan kaum Yahudi.
Kenyataan tersebut tidak menutupi kesejatian revolusi Rusia
sedikitpun. Sekali kaum proletar memegang kendali gerakan,
elemen-elemen yang begini segera terdorong ke belakang, sebagaimana
biasanya kaum lumpenproletariat digambarkan di bagian belakang
gerakan revolusioner kaum pekerja.
MULAINYA REVOLUSI
Gerakan dimulai sebagai gerakan mahasiswa. Tak ada yang luar biasa
pada hal tersebut. Meskipun para mahasiswa dan cendekiawan tak dapat
memainkan peran independen dalam masyarakat, bagaimanapun juga mereka
merepresentasikan barometer yang sangat sensitif yang secara setia
merefleksikan animo yang bergerak dalam masyarakat. Dalam tahap-tahap
awalnya, revolusi Rusia dimulai sebagai gerakan revolusioner kaum
cendekiawan antara 1860-70an. Revolusi Spanyol di awal 1930-an juga
dimulai sebagai gerakan mahasiswa, sebagaimana disoroti Trotsky tahun
1930:
"Semangat demontrasi mahasiswa hanya usaha yang dilakukan oleh
generasi muda borjuis, khususnya kaum borjuis kecil, untuk menemukan
solusi bagi ketidakstabilan yang dialami negara setelah kebebasan
semu dari kediktatoran Primo de Rivera, dimana elemen-elemen dasar
masih sepenuhnya tersembunji. Ketika kaum borjuis secara sadar dan
keras kepala menolak untuk mengatasi persoalan-persoalan yang timbul
dari krisis masyarakat borjuis, dan ketika kaum proletar belumlah
siap untuk menyandang tugas ini, maka seringkali para mahasiswalah
yang tampil ke depan. Selama masa perkembangan revolusi Rusia yang
pertama (1905), kami mengamati adanya fenomena yang begini lebih dari
satu kali, dan kami selalu mengenali tanda-tanda kemunculannya.
Aktivitas mahasiswa yang revolusioner ataupun semi-revolusioner
seperti itu mempunyai arti bahwa masyarakat borjuis tengah menghadapi
krisis yang amat dalam. Pemuda-pemuda kaum borjuis kecil, merasakan
kekuatan eksplosif tengah terbangun di tengah massa, berusaha dengan
cara mereka sendiri untuk keluar dari kebuntuan dan untuk mendorong
perkembangan politis ke arah yang lebih maju.
"Kaum borjuis menghargai gerakan mahasiswa dengan setengah setuju,
setengah memperingatkan; kalau para pemuda mengadakan sedikit
guncangan terhadap birokrasi monarkis, hal itu tidak terlalu jelek,
selama 'nak-anak itu' tidak bergerak terlalu jauh dan tidak
membangkitkan perjuangan keras dari massa.
Dengan menyokong gerakan mahasiswa, kaum pekerja dan buruh Spanyol
telah menunjukkan insting revolusioner yang benar. Tentu saja mereka
harus bertindak di bawah panji-panji mereka sendiri dan di bawah
pimpinan organisasi proletar mereka sendiri. Adalah kaum komunis
Spanyol yang harus menjamin proses ini dan untuk itu adanya
kebijaksanaan yang tepat tak dapat ditawar lagi. Inilah mengapa
munculnya koran kalian, seperti telah saya sebutkan tadi, bertepatan
dengan momen kritis dan amat penting dalam perkembangan keseluruhan
krisis; tepatnya, (koran kalian) bertepatan dengan momen dimana
krisis revolusioner sedang ditransformasikan menjadi sebuah
revolusi." (Trotsky, The Spanish Revolution (1931-39), pp.58-9)
Demikian pula halnya di Indonesia, para mahasiswa merasa bahwa
mereka merepresentasikan animo umum dari ketidakpuasan dan oposisi
dalam masyarakat, dan membangun kekuatan serta keberanian dari
kenyataan ini.
"'Banyak orang yang tak dapat secara terbuka mengatakan apa yang
dikatakan para mahasiswa, mereka masih takut. Tapi orang-orang ini
mendukung para mahasiswa. Mereka gembira mahasiswa mengatakan apa
yang mereka tidak bisa (katakan),' kata Ikrar Musabhakti, mahasiswa
Institut Ilmu Pengetahuan Indonesia." (The Guardian, 13/5/98)
Secara cepat protes-protes mahasiswa menyebar ke berbagai sektor
di Indonesia, mengabaikan peringatan Jenderal Wiranto, Panglima
Angkatan Bersenjata yang membawahi juga kepolisian, pada hari Kamis.
Elemen terpenting adalah keberanian para mahasiswa yang tak mengenal
takut, keteguhan mereka berhadapan dengan pemukulan, pemenjaraan, dan
kematian dalam perjuangan, yang sewaktu-waktu dapat menimpa atas
alasan apapun. Ketika massa hilang rasa takutnya, itulah saat
keruntuhan rezim. Tanpa senjata, organisasi, bahkan juga tanpa sebuah
program atau perspektif yang jernih, kaum muda ini siap
berkonfrontasi dengan polisi dan militer yang dipersenjatai, bahkan
mengadakan perlawanan. Berbagai reportase menyampaikan kesaksian atas
fakta bahwa para demonstran mulai merespon kekejaman aparat dengan
menggunakan batu-batu dan bom molotov dan bahwa polisi tidak dapat
begitu saja melarikan diri, tergambar dalam kutipan berikut:
"Gelombang aksi mahasiswa di seluruh daerah pada hari Kamis
diikuti oleh berbagai bentrokan dengan aparat keamanan. Korban jatuh
di kedua belah pihak; jumlah mahasiswa yang luka-luka lebih banyak
dibandingkan dengan hari sebelumnya, sebagian besar disebabkan oleh
pentungan, peluru karet, lemparan batu, dan gebukan.
Bentrokan terburuk terjadi di Universitas Soedirman, Purwokerto,
Jawa Tengah, di mana 65 mahasiswa terluka, 28 darinya dilarikan ke
rumah sakit. Sebagian besar terluka di kepala akibat peluru karet
atau pentungan. Delapan di antaranya luka parah. Sebuah selebaran
yang dibuat para mahasiswa melaporkan bahwa sembilan mahasiswa
hilang.
Bentrokan terjadi ketika para mahasiswa mulai berjalan secara
damai ke gedung DPRD dan mencoba untuk menembus barikade aparat
keamanan. Aparat keamanan menggunakan pentungan untuk membubarkan
para mahasiswa yang kemudian memberikan perlawanan. Selain memukul
dengan pentungan, aparat keamanan menyemprotkan gas air mata. Rektor,
Prof. Rubianto Misman mengungkapkan penyesalan atas terjadinya
insiden tersebut.
"Di Solo, Jawa Tengah, terjadi hujan batu dan bom molotov,
mengakibatkan korban jatuh di kedua belah pihak. Sebelas mahasiswa
luka-luka, dua segera dilarikan ke rumah sakit. Aparat keamanan
menderita 43 korban. Bentrok terjadi ketika seribu mahasiswa mencoba
meninggalkan kampus, mendesak pasukan yang mengepung kampus memaksa
mahasiswa kembali masuk. Batu-batu dan bom molotov mulai beterbangan,
gas air mata digunakan untuk membubarkam mahasiswa. Tiga belas
mahasiswa jatuh karena sesak nafas. Para mahasiswa mendesak untuk
turun ke jalan.
"Di Riau, Sumatera, bentrok mengakibatkan 10 mahasiswa menjadi
korban, kaca-kaca jendela mobil hancur dan 6 mahasiswa ditahan,
tetapi kemudian dibebaskan setelah kerumunan yang terdiri dari 8.000
mahasiswa menuntut mereka dibebaskan. Itu adalah demonstrasi terbesar
di Riau selama 10 tahun ini. Ketika para mahasiswa mencoba untuk long
march ke kediaman gubernur, mereka dihentikan oleh pasukan keamanan.
Para mahasiswa berhasil menembus blokade di 2 tempat, tetapi saat
mereka berada sekitar 20 meter dari kediaman gubernur, mereka diserbu
oleh ratusan aparat keamanan. Ketika tiga ekor anjing dilepaskan
kepada para mahasiswa, dengan cepat mereka tercerai berai. Dalam
insiden itu aparat menggunakan gas air mata dan menggebuki para
mahasiswa dengan tongkat rotan untuk membubarkannya. (Kompas, 8/5/98)
Dari laporan-laporan ini menjadi jelas bahwa: a) gerakan mahasiswa
dimulai sebagai demonstrasi damai, b) polisi berusaha untuk menahan
mereka di dalam kampus dan mencegah mereka keluar serta memperluas
(jangkauan) perjuangan, c) para mahasiswa bentrok dengan polisi yang
menggunakan metode-metode kekerasan, d) jauh dari berhasil
mengintimidasi para mahasiswa, tindak represif dari polisi malah
membuat mereka lebih marah dan telah meradikalisasi gerakan hingga
tak dapat lagi ditahan, dan e) para mahasiswa mengambil langkah
mempersenjatai diri mereka untuk melindungi diri dan melakukan
serangan dengan menggunakan sembarang benda yang mereka dapat. Detail
bahwa para mahasiswa memaksa pembebasan kawannya yang ditahan adalah
sebuah testimoni yang mengesankan dari fakta bahwa kekuatan
pergerakan mengguncang wibawa dan menciptakan keretakan di dalam
aparatus represif sendiri.
Para mahasiswa menunjukkan keberanian dan inisiatif yang dapat
dicatat. Di satu daerah mereka bahkan melakukan improvisasi dengan
adanya "divisi bermotor" :
"Para mahasiswa dari belasan institusi swasta mengambil bagian
dalam aksi di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Ribuan mahasiswa
bersepeda motor dan kendaraan lain berkumpul di lapangan kota, tetapi
mereka dipaksa mundur oleh aparat keamanan. mereka menyebar ke segala
arah dan mulai berkeliling kota." (Ibid)
Dalam banyak hal, kemiripan dengan revolusi Rusia tahun 1905
sungguh luar biasa. Laporan yang sama menuliskan bahwa "bentrokan
serupa pecah di Universitas Gunadarma, Kelapa Dua, Jakarta, dimana
ratusan mahasiswa dari beberapa universitas mengadakan mimbar bebas.
Masalah muncul ketika mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Jayabaya
menuju Universitas Gunadarma dan diserang oleh aparat keamanan. Legal
Aid Institut belakangan melaporkan bahwa sedikitnya 52 mahasiswa
luka-luka di Universitas Sahid, para mahasiswa bergabung dan membawa
spanduk-spanduk, mereka dipaksa kembali ke kampus dimana di sana
mengadakan forum mimbar bebas." Proses yang benar-benar sama muncul
tahun 1905, ketika para mahasiswa Rusia juga mengadakan "mimbar
bebas" yang dihadiri oleh para pekerja.
Gerakan meluas ke ibukota, Jakarta, di mana babak akhir dari drama
dimainkan.
"Sebuah bentrokan terjadi di Fakultas Teknologi Universitas
Jayabaya mengakibatkan 21 mahasiswa luka-luka dan langsung dilarikan
ke rumah sakit, 2 mengalami luka tembak di leher dan lengan,
sementara yang lain menderita luka akibat pentungan petugas dan
iritasi tubuh disebabkan gas air mata. Dari tubuh seorang mahasiswa
dikeluarkan sebuah peluru. Rektor mengumumkan bahwa kuliah ditiadakan
pada hari Jumat. (Ibid)
PERPECAHAN DALAM REZIM
Sebagaimana terjadi dalam setiap revolusi, karena adanya tekanan
dari bawah, rezim mulai pecah. Satu sisi menyarankan penggunaan
kekuatan keras untuk memukul oposisi, sementara yang lain menyarankan
untuk kompromi. Titik balik dari adanya perpecahan ini adalah
terbunuhnya enam mahasiswa di Universitas Trisakti, Jakarta, pada
demonstrasi damai tanggal 12 Mei, oleh aparat yang panik atau lebih
mungkin akibat kerja dari para provokator, yang berada dalam garis
keras pemerintah. Seperti diungkapkan The Economist mengenai tindak
aparat:
"Pasukan keamanan mungkin hanya dibekali peluru karet, peluru
hampa, dan gas air mata, tetapi tampaknya mereka kehilangan kendali
diri sebagaimana juga halnya para demonstran. Hari berikutnya para
perusuh menyalakan api unggun besar di tengah pusat bisnis di
Jakarta. Gerombolan penjarah, menolak perintah polisi bersenjata yang
berpatroli dengan sepeda motor, menyerbu pertokoan dan supermarket.
Dilaporkan 12 orang meninggal, kebanyakan mereka berada dalam tempat
yang dibakar oleh para perusuh. Emosi aparat memburuk dapat terlihat
dari mereka memukuli sembarang orang yang kebetulan lewat melalui
jalan-jalan yang mendadak amat berbahaya." (The Economist, 16/5/98)
Menurut The Economist, pembunuhan jang terjadi di Universitas
Trisakti adalah "letikan api yang menyebabkan frustasi yang meluas
berubah menjadi kemarahan nasional". Sebelum (penembakan) ini
terjadi, demonstrasi berjalan damai. Secara signifikan, universitas
ini adalah sebuah universitas elit. Seperti yang disorot oleh The
Economist (16/5/98):
"Trisakti, universitas yang mahasiswanya terbunuh, difavoritkan
oleh kelas menengah yang kaya. Banyak dari mereka yang telah
menghentikan dukungan kepada Soeharto, tetapi beberapa dari mereka
tetap melihatnya sebagai penengah antara Indonesia dan kondisi chaos.
Bisa jadi, kenyataan bahwa anak-anak mereka sendiri ditembak merubah
hal itu."
Upacara pemakaman para mahasiswa yang terbunuh berubah menjadi
ajang pertemuan kaum oposisi: "hari Rabu, pemakaman para mahasiswa
menciptakan gelombang emosi. Orasi-orasi diberikan oleh para pemimpin
oposisi seperti Megawati Soekarno Puteri, puteri tertua presiden
pertama Indonesia, yang digulingkan oleh Soeharto pada tahun 1966.
Meski demikian, tidak ada yang lebih mengherankan bagi para pelayat,
daripada Pangdam Jaya, Mayjend Sjafrie Sjamsoeddin, yang memberikan
sambutan penuh santun." (The Sunday Times, 17/5/98)
Gentar akibat kebangkitan gerakan massa yang amat cepat, Soeharto
mencoba menarik kembali kebijakannya, membatalkan kenaikan harga BBM
dan listrik yang merupakan tuntutan IMF. Diktator itu berhadapan
dengan (limit) waktu, menawarkan "reformasi" --sebuah langkah yang
tidak dapat membodohi siapa pun. ICMI mengatakan bahwa proposal
reformasi yang ditawarkan oleh Soeharto "samar, terlalu sempit, dan
terlambat." (Agence France Presse, 7/5/98) Tanggal 7 Mei harian The
Jakarta Post mengutip Siswono Yudohusodo, mantan menteri dari kabinet
sebelumnya, yang menekankan pentingnya reformasi politik dan ekonomi
dilakukan segera, mengindikasikan bahwa mungkin saja diperlukan
reshuffle kabinet untuk mengatasi krisis nassional. Siswono yang juga
pengusaha ini mengingatkan bahwa reformasi ekonomi sudah menjadi
sesuatu yang mendesak.
"Dalam bidang-bidang tertentu reformasi adalah suatu keharusan,
sebab penundaan dapat menyulut tuntutan untuk mengadakan perubahan
drastis yang dapat berubah menjadi revolusi," kutipan pernyataannya.
Kata-kata ini merupakan suaatu testimoni tak ternilai harganya atas
pikiran yang sesungguhnya dari satu bagian kelas penguasa: kita harus
secepatnya melakukan proses reformasi dari atas untuk menghindari
revolusi dari bawah. Perasaan bahwa rezim telah sepenuhnya membusuk
diungkapkan oleh orang-orang tertentu seperti para pensiunan
jenderal:
"'Sistem ini sudah gagal. Setiap orang bisa melihat ia tidak
berfungsi. Kita memerlukan sebuah Indonesia yang baru,' kata seorang
pensiunan Letnan Jenderal dalam sebuah pertemuan orang-oreng yang
dulunya meruupakan pendukung Soeharto jang kemudian berbalik menjadi
desiden. 'Kita telah membelanjakan segala kekayaan (negeri ini) untuk
pembangunan, tetapi kenyataannya banyak rakyat kita masih miskin.
Secara politik kita juga bangkrut.'" (The Guardian 13/5/98) Keretakan
dalam rezim tercermin dalam penyeberangan para pendukung Soeharto,
bahkan termasuk juga orang-orang yang menjadi suporter sepandjang
hidup --contohnya dilakukan oleh ketua MPR: "Dalam sebuah tindak
revolusioner yang memecahkan sejarah kepatuhan budak terhadap
Soeharto yang telah memerintah lebih dari 30 tahun, ketua MPR,
Harmoko, mengatakan bahwa otokrat sepuh tersebut harus 'mundur demi
integritas dan kesatuan bangsa'." (The Guardian 19/5/98) Pangab
jenderal Wiranto, berusaha mengalihkan aliran gelombang protes,
mengatakan kepada para mahasiswa bahwa tuntutan mereka atas reformasi
politik telah didengar dan selanjutnya ia minta dengan sangat kepada
mereka untuk mengakhiri demonstrasi. Tetapi permohonannya diacuhkan
para mahasiswa. Gerakan memperoleh tenaga baru dan kekuatan mental
dari setiap langkah mundur yang diambil oleh rezim. Jauh dari harapan
pemerintah bahwa mereka mengakhiri perlawanan, tawaran-tawaran
konsensus malah makin mengencangkan gerakan mahasiswa. Mereka
benar-benar menjadari sepenuhnya bahwa hal itu adalah signal
kelemahan pemerintah.
Apa yang luar biasa adalah bukan semata keluasan (area) gerakan,
tetapi juga kecepatan pencerahan dimana dengannya kesadaran dibangun,
secara cepat gerakan beralih dari sebuah protes elementer melawan
standar hidup yang memburuk menjadi protes-protes politik secara
terbuka. Sikap para mahasiswa terhadap rezim secara jelas terangkum
dalam kejadian berikut:
"Di ibukota, sekitar 500 mahasiswa memulai pertemuan di kampus
IKIP Jakarta Timur, membakar patung Soeharto dan menyalahkan pemimpin
yang diperanginya itu atas krisis ekonomi yang menghantam negara.
Dalam protes tersebut para mahasiswa menyelenggarakan pengadilan di
mana di dalamnya sebuah "Pengadilan Rakyat Luar Biasa" mendakwa
Soeharto atas pembunuhan massal dan korupsi besar-besaran melalui
banyaknya perusahaan keluarga.
"Di dalam drama pengadilan tersebut, para mahasiswa mendakwa
Soeharto atas pembunuhan sebanyak 1,5 juta orang selama ia menaiki
kekuasaannya di tahun 1965-66, di Timor-Timur pada tahun 1975, di
dalam rentetan penembakan misterius pada tahun 1983, dan pada insiden
Tanjung Priok tahun 1984. Para mahasiswa memutuskan Soeharto bersalah
dan menjatuhkan vonis hukuman mati." (Deutsche Presse-Agentur,
8/5/98)
Para diplomat yang ditempatkan di Jakarta mengatakan bahwa
pengadilan tiruan tersebut menandai adanya kenaikan luar biasa pada
jumlah pendukung protes anti pemerintah, orang-orang yang di masa
lalu menunjukkan respek pada pemimpin berusia 76 tahun ini. Dengan
cara yang sama, di Rusia sebelum 1 Januari 1905 massa terperangkap
dalam ilusi tentang "Tuhan kecil", yaitu Tsar, yang kemudian
dipenggal pada hari yang dikenal sebagai Hari Minggu Berdarah. Dengan
cara yang sama, kebodohan aparat meletupkan kemarahan mahasiswa dan
hal itu telah sepenuhnja merubah situasi. Kebencian dan kemarahan
yang terakumulasi selama bertahun-tahun sekarang terkonsentrasi pada
Soeharto. Kemarahan atas pembunuhan yang baru saja terjadi saling
berkait dengan ingatan mengenai kekejaman di masa lalu, menghasilkan
sebuah adonan yang eksplosif. Ini merupakan ancaman mematikan
terhadap imperialisme dan kapitalisme.
Kelas yang berkuasa di Indonesia terbelah. Sebagian ingin membuang
Soeharto secepatnya. Bahkan ketua MPR --kroni lama presiden--
menyarankannya untuk mundur. Tetapi sebagian yang lain menolak
langkah yang demikian, takut bahwa dalam pemerintahan yang begitu
akan timbul gerakan yang tak dapat dikontrol oleh siapapun.
Pernyataan-pernyataan yang kontradiktif dari jenderal Wiranto
menggarisbawahi perpecahan-perpecahan dan keterombang-ambingan kelas
penguasa; hal ini merupakan simptom pertama terjadinya revolusi.
Syarat kedua terjadinya revolusi adalah bahwa kaum borjuis kecil,
lapisan menengah dari masyarakat, harus berganti arus dari status quo
ke revolusi. Nyatanya (di Indonesia), mayoritas kelas menengah telah
berbalik dari rezim atau secara aktif memeranginya sebagaimana
diperlihatkan oleh gerakan mahasiswa.
Syarat ketiga adalah bahwa kelas pekerja harus disiapkan untuk
berjuang bagi perubahan radikal dalam masyarakat. Kelas pekerja
Indonesia, seperti akan kita lihat, telah memasuki kancah perjuangan.
Tetapi faktor menentukan yang masih belum ada adalah faktor
subjektif --sebuah partai revolusioner dan kepemimpinan yang mampu
menyediakan organisasi yang diperlukan, program dan perspektif untuk
menyatukan gerakan dan mengarahkannya untuk merebut kekuasaan.
Slogan-slogan partai yang demikian ini pastilah jelas sejak awal:
Pabrik untuk para pekerja! Tanah untuk para penggarap! Demi
tercapainya solusi yang demokratis dan menyeruruh atas problem
nasional! Tolak semua hutang asing dan nasionalisasikan semua harta
imperialis tanpa kompromi! Sita semua harta hasil korupsi klik
Soeharto dan para pendomplengnya! Pemogokan revolusioner menyeluruh
untuk menumbangkan rezim! Pembentukan segera Komite Pemilu secara
demokratis yang terdiri atas pekerja, petani, tentara, dan mahasiswa
agar di tangan mereka dijalankan industri, negara, dan masyarakat!
Hanya hukum demokratis dari kelas pekerja yang dapat membersihkan
masyarakat Indonesia dari segala akumulasi kotoran dan korupsi masa
lalu dan memulai gerakan dengan tujuan terciptanya seebuah masyarakat
sosialis.
Sebuah gerakan yang demikian pada akhirnya hanya dapat meraih
kemenangan atas basis internasionalisme --penggulingan para tuan
tanah dan kapitalisme di seluruh wilayah Asia dan dunia. Namun
kemenangan kaum proletar Indonesia akan dengan tjepat merubah situasi
seluruh Asia. Malaysia, Thailand, Korea, masih berada di dalam
krisis. Dalam event revolusi pekerja dan petani yang berhasil di
Indonesia, rezim-rezim kapitalis yang lemah di negara-negara ini akan
berhadapan dengan gerakan revolusioner yang perkasa, jalan akan
terbuka bagi perpanjangan revolusi ke seluruh Asia.
PERAN KELAS PEKERJA
Masalah yang paling menentukan adalah peran kelas pekerja. Seperti
halnya jaman Tsar di Rusia 100 tahun yang lalu, pemasukan investasi
asing telah memperkuat kelas pekerja dan meletakkan dasar bagi sebuah
lonjakan bagai badai dalam gerakan pemogokan. Pertumbuhan industri
telah menciptakan profit yang besar bagi pemilik modal asing dan para
boss Indonesia, tetapi tidak membawa perbaikan bagi standar hidup
pekerja dan buruh. Jurang antara yang kaya dan yang miskin dapat
disoroti dengan munculnya 20-30 keluarga yang luar biasa kaya yang
mengendalikan korporasi-korporasi bisnis gigantik, mereka ini dikenal
dengan sebutan konglomerat. Yang terbesar dari para konglomerat ini
adalah anak-anak Soeharto dan orang-orang yang dekat dengannya serta
rekan politiknya. Saat yang bersamaan, upah bagi para pekerja dan
buruh di bawah umur hanya sebesar 2-3 dolar per hari, seringkali
(mereka ditempatkan) di pabrik dan tempat kerja yang sangat
berbahaya. Pada saat yang sama pula petani-petani di Indonesia telah
menjadi subjek bagi pajak yang terus meningkat dan lain-lain biaya
administrasi. Segala tindakan yang dilakukan oleh para buruh dan kaum
tani sebagai protes terhadap upah yang rendah dan korupsi telah
dibungkam oleh militer dengan cara represif.
Lonjakan harga bahan bakar, listrik, dan transportasi dibayar
dengan munculnya gelombang perlawanan ribuan buruh seluruh Indonesia
menuntut kenaikan upah setelah lonjakan harga bahan bakar, listrik
dan sembako. Sekitar 4.000 buruh melancarkan demonstrasi di depan dua
pabrik keramik di Tangerang, menuntut kenaikan upah yang lebih baik
dan transparansi administrasi pembayaran. Seribu lima ratus buruh
perusahaan manufaktur kayu di Karawang, Jawa Barat melakukan
pemogokan menuntut kenaikan upah pada hari Rabu, demikian harian
Pikiran Rakyat melaporkan. "Kami tahu pasti bahwa manajer-manajer
tetap mendapatkan untung besar selama krisis ini, sebab produk kami
ditujukan untuk ekspor," kata seorang buruh. "Sementara upah kami
tetap sama, pengeluaran sehari-hari telah meroket." (Agence France
Presse, 7/5/98)
Melalui pengalaman mereka sendiri, para mahasiswa menarik konklusi
revolusioner, dan melihat perlunya menarik kelas pekerja. Ryass
Rasyid, seorang pengamat politik, mengatakan bahwa tuntutan para
mahasiswa dan para pendukungnya telah melampaui apa yang ditawarkan
oleh DPR dan sekarang telah meliputi pola tuntutan atas pengunduran
diri Soeharto dan pelaksanaan Sidang Istimewa MPR. Dia mengatakan
bahwa demonstrasi-demonstrasi mahasiswa hanya dapat dihentikan oleh
kekuatan militer atau dengan reformasi politik yang ekstensif dan
iapun menambahkan kalimat signifikan berikut:
"Saya telah mendengar usaha-usaha mahasiswa untuk mendapat
dukungan dari para buruh," katanya. "Dengan ini sudah sangat mendesak
bagi pemerintah untuk mengambil tindakan yang mengakomodasikan
aspirasi rakyat." (Sidney Morning Herald, 7/5/98, pilihan penulis.)
Dari awal, para buruh menunjukkan insting revolusioner mereka yang
tak pernah meleset, dengan cara mendukung mahasiswa. Banyak sekali
reportase menyampaikan kesaksian atas fakta bahwa para buruh
berpartisipasi di dalam demonstrasi mahasiswa:
"Ini sudah bukan murni demonstrasi mahasiswa, sebab telah
melibatkan masyarakat awam," kata Letkol (pol) Amrin Karim. Ada
ribuan rakyat yang marah mencoba membakar rumah-rumah. Mereka
membakar rongsokan dan menggulingkan mobil-mobil." Sedikitnya 20
aparat terluka dan 59 orang ditahan pada kerusuhan yang terjadi hari
Minggu. (Associated Press, 5/5/98, pilihan penulis.)
"Di Solo, kota di Jawa Tengah, 650 km di tenggara Jakarta,
diperkirakan 5.000 mahasiswa dan pelajar bergabung dengan para buruh
dan bentrok dengan aparat keamanan mengakibatkan setidaknya 130 orang
mengalami luka-luka." (Deutsche Presse-Agentur, 8/5/98, pilihan
penulis.)
Sebuah artikel yang ditulis Derwin Pereira dalam The Straits Times
tanggal 3 Mei menyoroti kenyataan bahwa buruh ikut berpartisipasi
dalam demonstrasi mahasiswa: "Dalam rapat akbar di seluruh Indonesia
kemarin, ribuan mahasiswa memprotes keputusan presiden Soeharto untuk
memimpin reformasi politik yang akan dijalankan selama 5 tahun ke
depan. Sementara, sejak awal para buruh bergabung dengan mereka di
beberapa kampus di ibukota untuk 'menunjukkan solidaritas', untuk
menekankan bahwa para mahasiswa tidaklah sendirian dalam mengusahakan
perubahan terhadap rezim Orde Baru."
Kemudian artikel tersebut mengutip salah seorang buruh: "Abdul
Kadir, buruh 30 th, mengatakan bahwa dia dan 300 pekerja pabrik
lainnya yang berasal dari Tangerang di Jakarta Timur bergabung dengan
demonstrasi di depan Fakultas Kedokteran UI atas undangan pemimpin
mahasiswa 'tujuan kami adalah untuk membuat gerakan ini cukup besar
hingga dapat melakukan tekanan terhadap pemerintah,' katanya. 'kami
tidak bahagia dengan apa yang sekarang terjadi di Indonesia.
Pemerintah menindas kami, bukannya menolong kami. Akan lebih banyak
lagi dari golongan kami yang akan bergabung dengan mahasiswa.'
"Para pekerja, yang mengenakan kain merah di lengan mereka untuk
membedakannya dengan para mahasiswa yang berjaket kuning, bergabung
dengan 3.000 mahasiswa dalam suasana yang kadang-kadang mirip
karnaval, dengan acara mendendangkan lagu-lagu dan menyanyikan
slogan-slogan politik, menyerukan agar Soeharto turun." (The Straits
Times 3/5/98)
Fakta berpartisipasinya para pekerja dalam demonstrasi mahasiswa
adalah gejala penting yang amat berharga. Hanya gerakan revolusioner
dari kaum proletar Indonesia, bersatu dalam perjuangan dengan para
mahasiswa, buruh tani, dan kaum tertindas, yang dapat membawa
perubahan masyarakat. Kelas pekerja di Indonesia amatlah kuat. Sekali
ia terorganisasi untuk berjuang di bawah panji revolusi kaum sosialis
ia akan menjadi kekuatan yang tak terbendung. Sesungguhnya, jika ada
sebuah partai komunis yang sejati, partai ini tentulah telah bergerak
maju memegang tampuk kekuasaan. Hanyalah kekurangan pada faktor
subjektif yang menghalangi munculnya bentuk ini.
PRD, yang dapat dikatakan sebagai partai komunis Indonesia,
menarik bagi elemen-elemen yang paling revolusioner dan berani di
kalangan mahasiswa dan pekerja. Heroisme dan kesetiaan mereka
terhadap kepentingan pekerja tidak diragukan. Tetapi untuk mencapai
sukses tidaklah cukup hanya keberanian. Diperlukan sebuah program dan
perspektif revolusioner yang serius. Program dan kebijakan dari
kepimpinan PRD tidak ditujukan untuk pengambilalihan kekuasaan oleh
kelas pekerja dalam aliansinya dengan buruh tani, melainkan lebih
melihat pada apa yang disebut "borjuis progresif" sebagai sebuah
jalan keluar. Sepanjang jalan ini hanya kekalahan dan bencana.
Marilah kita mengingat bahwa kebijakan yang persis seperti inilah
yang menimbulkan mala petaka di tahun 1965-66. Perlu diambil
pelajaran dari masa lalu agar tidak mengulanginya!
Dalam statemen yang disiarkan pada tanggal 31 Juli 1997, PRD
menyatakan: "PRD, sebagai penjaga kedaulatan rakyat, sebagai partai
kaum tertindas, akan melanjutkan perjuangan dengan segala kekuatan,
kemampuan, keteguhan dan stamina untuk melanjutkan lagi perjuangan
bagi keadilan sosial, perdamaian, dan demokrasi. Demokrasi adalah
jembatan yang dapat membawa kita kepada masyarakat yang lebih
beradab, mencerminkan aspirasi-aspirasi rakyat. PRD percaya bahwa
"suara rakyat adalah suara Tuhan." Dan di tengah represi yang
sekarang terjadi, dengan para pemimpin PRD diburu oleh rezim, di
tengah-tengah propaganda rezim, di tengah hipokrasi dari pemerintah
asing, PRD akan melanjutkan perjuangan." PRD mempertahankan
"nasionalisasi aset-aset ekonomi keluarga Soeharto, kerabat,
kroni-kroninya, dan perusahaan-perusahaan multinasional yang telah
bekerjasama dengannya mengeksploitasi rakyat Indonesia." Itu
sepenuhnya benar! Tetapi untuk mempraktekkan tuntutan yang demikian,
keharusan yang pertama adalah memutuskan hubungan dengan kaum borjuis
dan lalu memimpin kelas pekerja untuk merebut kekuasaan,
pengambilalihan harta kaum imperialis dan mereka yang mendukung
Soeharto mempunyai arti, dalam efeknya, pengambilalihan seluruh
kepentingan kapitalis-kapitalis raksasa di Indonesia, sebuah
pemutusan hubungan yang radikal dengan kapitalisme. Hal ini tidak
akan pernah bisa diterima oleh mereka yang dikenal dengan sebutan
borjuis "progresif", yang kepada mereka ini PRD bersahabat. Untuk
membawa program ini ke dalam praktek perlu mengikutsertakan sebuah
kebijakan mengenai independensi kelas. Sahabat yang dibutuhkan oleh
kaum proletariat adalah sahabat dalam perjuangan, bukan dalam
kata-kata. Mereka adalah buruh tani miskin, kaum urban miskin, dan
para mahasiswa, bukan politisi karir dari golongan borjuis yang ingin
memanjat kekuasaan dengan menapaki punggung para pekerja. Perjuangan
untuk demokrasi hanya dapat dimenangkan dengan cara memerangi
imperialisme dan oligarki sampai titik terakhir. Itu berarti bahwa
kelas pekerja harus mengambil kekuasaan di tangannya sendiri,
mengambil alih (milik) para tuan tanah dan kaum kapitalis, dan
membawa sebuah transformasi masyarakat yang revolusioner.
Keutamaan para mahasiswa adalah mereka telah menarik
konklusi-konklusi penting dari pengalaman perjuangan mereka. Sebuah
laporan dalam mingguan The Australian Green Left (nomor 318),
mengutip kata-kata salah seorang mahasiswa: "Akiko menggambarkan
bahwa suasana yang berlangsung di Jakarta sekarang sebagai seseorang
yang padanya slogan demokrasi sedang digantikan tempatnya (di
jalanan) dengan panggilan untuk revolusi, dan orang itu memanggil
kita untuk bekerja keras mengganti pemerintah Indonesia dan
mengeluarkan para nara pidana." Trend revolusioner di antara para
pekerja dan mahasiswa akan tak terelakkan lagi tumbuh makin kuat
sejalan dengan tumbuh dan berkembangnya gerakan.
Kaum borjuis berusaha menenangkan diri mereka bahwa sampai sejauh
ini hal-hal itu belum mencapai titik serangan gencar yang sepenuhnya
revolusioner; "The villages are quiet", dan yang sejenis itu.
Jadilah, seorang yang tengah tenggelam berpegang pada akar lapuk.
Impuls revolusioner akan tak terelakkan mengkomunikasikan dirinya
dari kota-kota ke pedesaan. Akan ada demonstrasi-demonstrasi dan
kerusuhan-kerusuhan baru, tidak hanya (dari) kaum pekerja tetapi oleh
buruh tani. Semangat memberontak dari para tentara akan tumbuh. Jika
ada sebuah partai yang disiapkan untuk mengajukan ikhwal kekuatan
pekerja secara sungguh-sungguh dalam agendanya, kemenangan atas
angkatan bersenjata akan lebih mudah. Tetapi, seperti ditunjukkan
Albania, bahkan tanpa partai yang demikian, di mana massa menunjukkan
cukup kebulatan tekad dan keberanian, angkatan bersenjata tak dapat
meraih kemenangan selama perjuangan ini. Lebih lanjut, saat para
prajurit jadi mengerti bahwa massa sungguh serius, bahwa ini
benar-benar bukanlah sebuah kerusuhan melainkan sebuah usaha
sungguh-sungguh untuk merubah masyarakat, maka mental para prajurit
inipun telah tertransformasi. Daripada memukul dan menembaki para
demonstran, mereka menonton, tersenyum, bahkan melambaikan tangan
sebagai dukungan. Di pihak mereka, para mahasiswa telah menangkap
bunyi insting bagi taktik selanjutnya. Mereka bergaul dengan para
prajurit itu. Situasi ini merupakan isyarat pendirian para staf di
jajaran jenderal. Pesan-pesan yang berlawanan datang dari atas.
Menantu Soeharto, komandan Kopassus, menuntut diambilnya tindakan
tegas, sementara jenderal-jenderal lain lebih menginginkan
perundingan dan tetap tenang. Meskipun begini, elemen-elemen pro
Soeharto bersiap untuk menggunakan kekerasan. Hal ini terlihat dengan
kenyataan bahwa pada malam yang direncanakan sebagai demonstrasi
massal pada tanggal 20 Mei, unit-unit (pasukan) yang bergaul akrab
dengan mahasiswa telah ditarik dari Jakarta kota dan digantikan
dengan yang lebih bergaris keras. Mengomentari hal ini, The Sunday
Times menyatakan:
"Pergantian unit pasukan ini mencerminkan ketidaksepakatan di
antara golongan-golongan (di antara) para petinggi ABRI tentang
bagaimana menangani protes-protes menentang rezim yang makin tinggi
(frekwensinya).
"'Golongan-golongan itu adalah mereka yang mengetahui bahwa mereka
akan jatuh bersama keluarga Soeharto, mereka yang mengharapkan
angkatan bersenjata dapat mengatur sebuah transisi yang damai, dan
tentu saja mereka yang berambisi untuk menggantinya' kata seorang
diplomat asing yang telah berpengalaman lama (di Indonesia)." (The
Sunday Times, 17/5/98)
Koran Spanyol El Pams melaporkan sebuah kejadian dimana seorang
prajurit yang menembaki para demonstran digebuki oleh
prajurit-prajurit lain dan komandannya harus meminta maaf kepada para
demonstran. Di bawah kondisi-kondisi yang demikian, satu bentrokan
serius antara aparat dan demonstran akan memperlebar keretakan di
dalam angkatan bersenjata. Jika massa terorganisasi untuk mengambil
kekuasaan, angkatan bersenjata akan terpecah-belah pada ujicoba
pertama (di lapangan). Wiranto menyadari hal ini dan menolak sayap
lainnya. Hal ini secara langsung mengantarkan kejatuhan Soeharto.
KAUM IMPERIALIS LUMPUH
Tekanan-tekanan IMF yang tak berbelaskasih, menggunakan kekuasaan
atas hutang luar negeri Indonesia sebesar 80 miliar dolar telah
membuat Indonesia bertekuk lutut. Tetapi sekarang, menghadapi
kebahayaan yang makin mendekat dari revolusi, kaum imperialis
menunjukkan dirinya lumpuh dan tak mampu bertindak. The London
Financial Times mengerang bahwa negara-negara yang tergabung dalam
G-8, setelah pertemuannya yang terakhir dilakukan, bahkan belum
melakukan pemecatan atas Soeharto. Bagi tuan-tuan yang duduk di dalam
kantor-kantor mereka yang nyaman bermil-mil jauhnya (dari Jakarta)
masalah ini dapat dengan mudah disepakati! Hanya dengan membuang
Soeharto, semuanya akan berjalan dengan baik. Malangnya, persoalan
tidak akan dengan mudah dibereskan. Itulah mengapa para pemimpin
Kelompok 8 tidak membuat panggilan untuk penghentiannya. Para
penasehat mereka, tak usah diragukan lagi, telah memperingatkan
mereka bahwa jika Soeharto diganti, hal itu dapat membuka pintu air
lebar-lebar dan memindahkan perintang mereka yang terakhir, sekat
rapuh antara mereka dan kekacauan. Dilema ini akrab bagi orang-orang
yang belajar dari sejarah: reformasi dari atas untuk mencegah
revolusi dari bawah paling sering menimbulkan akibat berlawanan.
Penghentian Soeharto akan berbahaya, tidak menghentikannya tetap saja
lebih berbahaya. Apa pun yang mereka lakukan akan salah. Sementara di
depan publik bertindak menghimbau adanya hak-hak asasi di Indonesia,
secara rahasia Washington mengulurkan tangan kepada Soeharto hingga
saat terakhir, sebagaimana diindikasikan oleh kunjungan menteri
pertahanan AS, William Cohen, baru-baru ini ke Jakarta. Cohen
mengindikasikan bahwa Amerika akan mengembalikan posisi Soeharto
secara politis selama periode ini, dia membuat menjadi jelas
"stabilitas struktural" di Asia Tenggara adalah prioritas utama bagi
AS dan Indonesia di tempatkan di tengah kerangka kerja ini. Ditanya
mengenai kemungkinan Soeharto tetap menduduki kursi presiden, Cohen
membalas: "Saya tidak mencoba menutupi aspirasi-aspirasi politiknya.
Tetapi dari semua hal yang saya lihat, beliau sangat kuat dan berada
pada kesehatan yang sangat prima, hal ini berbeda dengan rumor-rumor
yang beredar akhir-akhir ini." Cohen memperkuat komentar ini dengan
gestur yang lebih kongkrit berjanji untuk melobi kongres AS untuk
memperbaiki partisipasi Indonesia dalam program latihan militer
Pentagon. Kongres menangguhkan partisipasi Indonesia menyusul sebuah
kampanye yang dilakukan oleh beberapa anggotanya mengenai Timor
Timur, pemerkosaan hak-hak buruh, dan dana yang dikeluarkon oleh
kroni berbangsa Indonesia untuk kampanye pemilihan presiden dari kubu
Partai Demokrat.
Pertemuan antara Cohen dan Menhankam Feisal Tanjung terjadi hanya
beberapa hari setelah Tanjung mengatakan, "Angkatan bersenjata tak
akan ragu-ragu menindak keras kelompok-kelompok anti pemerintah."
Tanjung menambahkan bahwa angkatan bersenjata akan siap menghadapi
ancaman keamanan apa pun menjelang Sidang Umum MPR bulan Maret. "Kami
akan merobohkan dan membuat tidak berkutik kelompok mana pun, dari
kanan atau kiri, yang berani menentang pemerintah," katanya kepada
para wartawan. Dia juga mengatakn bahwa Badan Intelijen ABRI tengah
mengawasi seluruh kelompok ekstrim yang berencana untuk mengganggu
sidang MPR. Dunia barat menginginkan proses berjalan demikian,
dengannya kepentingan dunia barat akan tetap terpelihara, yaitu bahwa
imperialisme dan kapitalisme tetap mencekik rakyat Indonesia. Tetapi
manuver-manuver ini tidak akan menyelasaikan masalah apa pun. Kaum
imperialis, bahkan dengan kekuatan ekonomi dan militernya bisa jadi
malah terbelah dan tak berdaya menghalangi. Ancaman-ancaman mereka
adalah seperti apa yang dikatakan oleh Shakespeare, "lantang dan
geram, tak mempunyai arti apa-apa.".
Kakacauan-kakacauan telah melumpuhkan perekonomian secara
temporer. Sebuah laporan baru-baru ini menandaskan bahwa:
"Aktivitas di pelabuhan Belawan, Medan, terhenti dengan banyaknya
truk pengangkut barang tertahan di jalan-jalan kota disebabkan
kerusuhan. Medan, kota ketiga terbesar di Indonesia, pusat
perdagangan dengan penghasilan daerah yang utama berupa karet dan
kopi. Medan, kota yang berpenduduk 2 juta jiwa adalah pusat
perdagangan dan komoditas terpenting Indonesia bagian barat.
"Di Malang, Jawa Timur, mahasiswa dan polisi bentrok di dua tempat
terpisah. Menurut harian Jawa Timur, Jawa Pos, 49 polisi dan 30 orang
mahasiswa cedera. Baku hantam pecah ketika para mahasiswa dari
Universitas Merdeka dan Innnstitut Teknologi Nasional berusaha turun
ke jalan pada hari Sabtu. Jawa Pos melaporkan bahwa korban cedera
terjadi dalam bentrok dimana aparat keamanan menggunakan gas air
mata, semprotan air, dan tembakan peringatan, sementara para
mahasiswa melemparkan batu-batu dan pecahan bata." (Kompas, 8/5/98)
Mengetahui bahwa lakon akan segera bangkit, kaum imperialis
terbang dari Indonesia seperti tikus-tikus wiro
