Indonesian Global Healing
Hari I pembicaranya adalah Ibu Aisyah seorang survivor dari Aceh, beliau adalah korban tsunami dan seorang janda karena suaminya meninggal saat ada kontak senjata antara TNI dan GAM tahun 1998. Beliau harus berjuang sendirian untuk membesarkan anak laki-lakinya. Setelah tsunami Ibu Aisyah dan anaknya tinggal ditempat penampungan tetapi setelah beberapa bulan anaknya minta pindah ke rumah mereka sebelum rusak oleh tsunami. Sehinggga Ibu Aisyah kembali ke rumahnya dan mencoba memperbaiki rumahnya serta bertahan hidup dengan berjualan kecil-kecilan sampai sekarang. Ibu Aisyah ini menerima bantuan berupa beras, indomie dll dan uang jatah untuk hidup Rp.3000,00 per hari, serta dijanjikan dibangunkan sebuah tempat tinggal. Tetapi hingga sekarang belum terealisasi.
Pembicara kedua adalah Ibu Sita Sudjono seorang pengurus ORHIBA (Olah Raga Hidup Baru). Ibu Sita ini sudah berumur 71 tahun tapi tetap sehat karena ikut ORHIBA ini. Gerakan olah raga ini sangat sederhana karena hanya terdiri dari 1 gerakan saja dan dilakukan 5-10 menit setiap harinya. Selain itu tidak memerlukan pakaian khusus dan tempat yang khusus.

Sesi diskusi hari I berlangsung cukup ramai, beberapa peserta kebanyakan menanyakan apakah bantuan dari Lembaga-lembaga dan NGO-NGO Internasional sampai kepada masyarakat Aceh. Ada peserta dari Amerika yang menanyakan bagaimana dia bisa menghubungi Ibu Aisyah dan masyarakat Aceh lain, karena dia mempunyai kelompok yang mungkin bisa membantu Ibu Aisyah dan Kawan-kawannya. Lembaganya adalah Peace x Peace, tapi lembaga tersebut tidak mau menyalurkan bantuan lewat lembaga lain, harus langsung diterima oleh Ibu Aisyah dan kawan-kawannya sendiri. Ada juga peserta yang menanyakan apa usaha pemerintah untuk membantu mereka di Aceh, dan menanyakan prosedur penerimaan bantuannya sulit atau tidak.
Hari ke dua presentasi dari Ibu Suciwati Munir, Ibu CH Sumarmiyati dan Galuh Wandita. Peserta yang mengikuti sesi ini lebih banyak daripada hari pertama. Bahkan tidak hanya peserta saja yang banyak, intel-intel pun banyak sekali. Mereka bergerombol dan ada juga yang membaur diantara peserta. Sangat mencolok sekali karena mereka menggunakan baju sewarna dan setipe, selain itu mereka juga membawa HT.
Suciwati adalah istri dari almarhum Cak Munir, di sini dia bercerita tentang perjuangannya mencari keadilan dan kebenaran tentang pelaku yang bertanggungjawab atas kematian suaminya. Suci juga bercerita bagaimana dia harus menjadi pribadi yang baru setelah kematian suaminya, contohnya dia harus bisa bicara di depan umum dan mau tidak mau harus selalu berulang-ulang bercerita yang bagi Suci itu adalah hal yang sangat menyakitkan. Suci juga bercerita banyaknya terror yang dia terima setelah kematian suaminya tapi dukungan kawan-kawan gerakan terhadap keluarganya sangat membantu mengatasi traumanya. Dan dia bersama teman-temannya akan terus berjuang mencari keadilan, agar dimasa datang tidak akan ada lagi Munir-Munir lain.

Ibu CH Sumarmiyati adalah salah satu korban perempuan 65. Di sini bu Mamik bercerita tentang apa yang sudah dialaminya ketika dia ditangkap saat peristiwa 65 pecah. Penyiksaan baik fisik dan psikis yang sudah dilakukan tentara padanya. Dia dipukul, ditelanjangi, digunduli, dan banyak perlakukan lain yang tidak berperikemanusiaan. Sungguh penyiksaan yang luar biasa karena tentara menggunakan tubuh perempuan sebagai senjata untuk menyiksa. Ibu Mamik bercerita bagaimana dia meneruskan hidupnya setelah keluar dari penjara Plantungan dan membesarkan kedua putra-putrinya. Bahkan di kampungnya menjadi peminjam terbaik karena ibu Mamik dan suaminya selalu bergantian meminjam uang di kampungnya untuk usaha dan menyekolahkan kedua anaknya. Maklum karena semasa rezim orba orang-orang yang dicap komunis terstigma di masyarakat sebagai orang atheis dan tak bermoral serta warga Negara nomor dua. Sehingga mereka selalu dipinggirkan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Mereka harus bekerja disektor swasta karena mereka tidak mungkin dapat menjadi pegawai pemerintah karena tidak bersih lingkungan. Di sektor swastapun mereka juga kesulitan karena stigma yang ditanamkan pemerintah secara terus menerus selama 32 tahun.
Galuh Wandita adalah salah satu kandidat nobel perdamaian dan aktivis kemanusiaan yang bertugas di Timor Leste yang merancang dan menerapkan berfungsinya CAVR ( Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor-Timor) bersama dengan kolega-kolega Timor-Timor dan Internasional. Galuh menceritakan kekejaman tentara Indonesia ketika menginvasi Timor-Timor menjadi propinsi ke-27. Dia bersama kawan-kawannya menghimpun pernyataan (21,4% perempuan), merekam 1000 wawancara, menghitung seluruh batu nisan di pemakamn umum dan mensurvei kematian rumah tangga, memfasilitasi hamper 300 diskusi komunitas guna mendokumentasikan pelanggaran yang dialami komunitas secara kolektif, menggelar 8 dengar pendapat public skala nasional, 50 dengar pendapat korban tingkat kecamatan dan menjembatani 1300 proses rekonsiliasi komunitas, memenuhi reparasi/ penggantian mendesak bagi lebih dari 500 korban dengan kebutuhan yang mendesak, termasuk memfasilitasi workshop penyembuhan dan dukungan bagi pelayanan local. “Penyiksaan secara seksual yang sudah dialami oleh bu Mamik sangat representative terhadap apa yang terjadi terhadap ribuan perempuan Timor-Timor saat invasi Indonesia dari tahun 1974-1999”, cerita Galuh. Banyak sekali Mamik-Mamik lain di Timor-Timor walaupun belum sebanyak saat peristiwa 65.

Para peserta saat workshop berlangsung tidak ada yang bisa bicara, mereka semua tertegun dengan cerita para pembicara. Narasumber pun tak kuasa menahan airmatanya ketika menceritakan kembali kisah mereka. Tetapi bukan hanya narasumber yang tidak bisa menahan airmata, peserta pun banyak yang meneteskan airmata, tidak perduli mereka perempuan ataupun laki-laki. Ketika sesi tanya jawab berlangsung, semua penanya hampir tidak percaya bahwa pernah ada kejahatan kemanusiaan seperti itu di Indonesia. Kawan dari Sulawesi juga menceritakan bahwa perempuan selalu menjadi korban dan objek penderita. Di Sulawesi dengan bergulirnya RUU APP yang masih pro kontra, ada 3 daerah yang sudah membuat peraturan yang mengharuskan perempuan pegawai negeri setempat memakai jilbab, jika melanggar ada sanksi bagi mereka. Bahkan pemerintah setempat tidak akan melayani perempuan yang tidak berjiblab. Peserta memberi dukungan kepada para pembicara untuk tidak takut mengungkapkan apa yang telah mereka alami dan juga menyebarluaskan kepada masyarakat bukan hanya untuk masyarakat Indonesia tapi juga Internasional.

Setelah workshop berakhir, banyak peserta tidak hanya dari Indonesia tapi luar negeri yang meminta mewawancarai para narasumber. Dan ternyata session Indonesia diliput secara khusus oleh “Tribune Star” sebuah majalah Luar Negeri.
Indonesia ternyata mempunyai perempuan-perempuan tangguh yang bekerja untuk kemanusiaan. Setelah sesi Indonesia berakhir, hari berikutnya dilanjutkan diskusi dengan para kandidat nobel perdamaian dari Indonesia. Kandidat nobel perdamaian dari Indonesia yang datang di workshop ada 5 orang selain Galuh Wandita. Mereka adalah
Sr. Sisilia dari Atambua, Sr. Brigita dari Ambon, Hilda Rollobesy dari Ambon, Ratna Dewi dari Palu, Zohra Andi Baso dari Sulawesi Selatan. Ada yang dari NGO tapi ada juga dari lembaga religius. Mereka bercerita, sharing tentang kegiatan, dan pengalaman apa saja yang mereka lakukan di daerahnya masing-masing, serta ancaman-ancaman yang dihadapi.

Perempuan adalah duta perdamaian, dan semua korban kejahatan kemanusiaan harus berani bersaksi dan bercerita kepada masyarakat dunia. Semua kejahatan harus diungkap dan jangan ditutup-tutupi. Minta maaf sih boleh saja tapi tidak hanya sebatas itu saja, harus ada kelanjutan di belakangnya yaitu proses peradilan agar keadilan bisa tercapai. Apakah mungkin itu terjadi di Indonesia?


