Jawa Guru Dunia

Itulah kali pertama saya tercerahkan sebagai orang Jawa lengkap dengan segenap rasa kejawaan saya di negeri orang. Lebih nyamleng lagi karena saya ketemu Valesic Mow yang orang Korea, Akiko yang orang Jepang, Timothy yang bule, duduk-duduk nglaras sembari berbaring di rumputan. Ternyata Jawa bisa kita temui di serambi Amerika Serikat!
Harjo Susilo jadi profesor di sana! Etnomusikologi! Tentu saja musik Jawa dan tari Jawa "hanya" masuk jadi salah satu dari berbagai kesenian etnik yang dipelajari di sana, di antara kesenian etnik yang lain yang lebih dominan seperti India, Cina, dan Jepang. Toh itu tidak mengecilkan hati saya. Dari sanalah saya kenal tim gamelan dari berbagai universitas lain di Amerika Serikat. Michigan, misalnya. "Tidaklah itu dari Kalamazoo?!" tanya saya sok tahu.

Gamelan memang hanya sebagian dari musik yang dibilang "bahasa kemanusiaan yang universal". Sekalipun bagi bule-bule itu gamelan masih eksotik karena bau etniknya, tetapi adalah kewajiban kultur kita untuk meyakinkan mereka bahwa gamelan Jawa, tembang Jawa, tari Jawa adalah seni rasa. "Rasa itulah yang kalian alami, ketika kalian bertanya-tanya: Apakah aku 'fly'?!" begitu kata saya pada Val. Dan Val menceritakannya pada kawan-kawannya.

Lalu datanglah rombongan mahasiswa Hawaii itu ke Yogya untuk get in touch with Java. Mereka bukan saja mau kenal. Mereka mau "main cinta" dengan Jawa. Mau membebaskan diri dari tebaran Perang Vietnam dan kekosongan spiritual yang melanda negeri mereka. "Jawa menawarkan ketenangan rasa."

Lalu dua tahun lewat. Marcel Boneff, peneliti dari Paris itu datang ke Semarang untuk ketemu. Ia sudah baca buku Psikologi Jawa dan Politik Jawa saya. "Ini Jawa yang lain. Jawa yang tidak nguri-uri kejawaannya, bahkan ikhlas kehilangan kalau memang tidak lagi diperlukan." Dari pertemuan itulah saya menulis pidato kebudayaan "Jawa Keli, Ora Ngeli" bila tidak siap memasuki pusaran perubahan global yang luar biasa dahsyatnya itu.

Jawa jangan cuma jadi inspirasi untuk Prancis, tetapi berdialog bagi masa depan dunia yang bakal tiba. Ya, dialog ketika tak ada lagi wacana atau ideologi yang mendominasi jagad raya ini, ketika Sardono W Kusumo tidak memperkaya Prancis karena pentas di sana, tetapi juga menjadikan Paris sebagai basis bagi kiprahnya di Eropa yang ternyata diikuti banyak seniman Jawa lain.
Demikianlah terjadi dialog kebudayaan antara Jawa dan Eropa!

Sebenarnya memang sudah jauh tahun sebelumnya Jawa jadi subjek kajian yang mengherankan. Universitas Leiden di Nederland, nama-nama seperti Zoetmoelder bukan hanya menstrukturkan Jawa -karena kemudian Jawa teoretik yang beliau bangunlah yang dikenal dunia dan kemudian memengaruhi kita- tetapi juga jadi PR-nya Jawa. Apalagi lewat Clifford Geertz -tepatnya lewat Amerika Serikat- Jawa semakin mendunia. Cornell Paper, Ben Anderson, adalah bagian dari sinyal-sinyal kehidupan Jawa yang diperkenalkan secara kritis kepada bangsa-bangsa lain.

Tahun-tahun 80-an, Ulrich Kratz dari SOAS, University of London, memperkenalkan Linus Suryadi AS ke dalam sastra dunia. Memang masih dalam proyek eksotisme Asia, eh Jawa, tetapi ini adalah bagian dari kegiatan kultural yang diperlukan sebelum Pramudya Ananta Toer memenangi Nobel Sastra tanpa embel-embel "eksotisme etnik" Jawa.

Artinya: Jawa baru akan mendunia bila ia (ikhlas) kehilangan label kejawaannya dan menjadi bagian penting dari keduniaan kini.

Inilah yang belum dilakukan Jennifer Lindsay atau Paul Stange -Australia- sekalipun sudah meragikan rasa Jawa ke dunia.

Sejauh ini Jawa menjadi subjek, karena memang merupakan subjek kajian, tetapi pelan-pelan ia diharap menjadi subjek karena kesanggupannya untuk "memadukan hal-hal yang tak terpadukan" (baca: sinkretisme), menjadi acuan dunia.

Dengarlah komentar Bilung, "Bila dunia berlanjut dengan konflik antaragama dan budayanya, mereka perlu belajar ke Jawa!" Baru dari sanalah, dengan tak usah menggurui, Jawa menjadi guru dunia! (72c)

Trackback URL for this post:

http://www.syarikat.org/trackback/175

krappalen

De mooiste krappalen vindt u bij de krappaal specialist