Launching Dokudrama Sinengker

SINENGKER, MENGGALI LUKA LAMA

Fakta sejarah yang menyangkut Partai Komunis Indonesia atau PKI dan orang-orang yang terlibat di dalamnya pada tahun 1965 tetap menjadi hal menarik untuk diperbincangkan. Setelah pemerintahan Orde Baru berakhir, berbagai pihak pun mencoba menggali dan menyuarakan fakta-fakta mengenai PKI dalam beberapa sudut pandang lain yang sebelumnya tak banyak dibicarakan.

Film menjadi salah satu media yang banyak dipakai untuk mendeskripsikan pemikiran dan fakta-fakta yang mungkin belum banyak diketahui orang itu. Syarikat Indonesia, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada upaya-upaya rekonsiliasi akibat kekerasan yang terjadi di masa lalu, mencoba menyuarakan fakta sejarah mengenai PKI melalui film Sinengker.

Film ini pun berusaha mengangkat apa yang terjadi pada sekitar tahun 1960-an dari perspektif orang-orang yang menjadi korban pada waktu itu, secara khusus para korban perempuan. "Kami ingin kekerasan, terlebih pada perempuan, yang dialami pada waktu itu terus dibicarakan secara lebih luas," kata produser Sinengker Imam Aziz dari Syarikat Indonesia.

Film berbahasa Jawa ini menggambarkan dampak peristiwa di sekitar pemberontakan PKI tahun 1965 bagi para korban. Film ini menampilkan Asih, seorang perempuan yang menjadi tokoh narator tunggal. Asih menceritakan bagaimana hidupnya yang dulunya penuh kegembiraan berubah menjadi kekelaman semenjak ia kehilangan satu per satu keluarga yang dicintainya.

Kehilangan pertama dimulai ketika Wigati, kakak laki-lakinya yang menjadi aktivis pergerakan seni rakyat tak pernah kembali ke rumah. Kesedihan bertambah ketika Wignyo, kakak iparnya yang menjadi seorang camat diciduk karena dituduh sebagai anggota PKI. Sri, kakak perempuannya yang sedang hamil tujuh bulan pun diciduk dan diperkosa oleh para pemeriksa karena dituduh menjadi anggota Gerwani. Penderitaannya pun memuncak ketika ibunya meninggal karena kesedihan, tak lama sesudah ayahnya meninggal dianiaya ketika pencidukan Sri berlangsung.

Melalui tokoh Asih, film ini mencoba merepresentasikan bagaimana tekanan yang dihadapi oleh para korban dan anggota keluarga korban yang dituduh menjadi anggota atau terlibat dalam kegiatan PKI. Mereka tak pernah menduga akan mengalami penderitaan yang bahkan alasannya pun tak mereka ketahui.

Budaya dan falsafah Jawa yang menjadi setting tampak kental dalam film ini. Simbolisasi menjadi salah satu karakter yang membungkus film dari awal hingga akhir. Hal ini antara lain terlihat dari digambarkannya aliran darah yang mengalir di sungai sebagai lambang pertumpahan darah. Burung gagak simbol kematian, wayang suket tanda wong cilik, anak ayam tanpa induk yang merepresentasikan kesendirian, maupun kayu mahoni sebagai lambang kehidupan manusia yang terus berjalan memperkuat bahasa simbol dalam film ini. Di sisi lain, kekayaan simbol ini tampaknya akan menyulitkan mereka yang tidak memiliki pemahaman akan budaya Jawa. Pola berpikir

Berangkat dari falsafah Jawa, Sinengker juga memperlihatkan bagaimana budaya begitu kuat memengaruhi pola berpikir masyarakat. Ketika ibu Asih mengkhawatirkan kondisi lingkungan yang semakin memanas dan tidak jelasnya keberadaan Wigati, misalnya, sang ayah pun dengan tegas memintanya untuk bersabar dan berserah sepenuhnya pada Tuhan. Kepasrahan dan sikap nrima merupakan salah satu nilai yang terus diperjuangkan.

Penerimaan terhadap keadaan ini pun memuluskan jalan pemerintah dalam membungkam fakta-fakta sejarah berkaitan dengan PKI. Dengan kesadaran penuh, Asih memilih untuk menyimpan rapat-rapat trauma dan derita yang dialaminya tanpa mau berbagi dengan orang lain. Ia juga tak memberi kesempatan pada Ahmad yang mengajaknya melupakan luka- luka masa lalu, kemudian membangun hidup baru bersama.

Di satu sisi, film ini memperlihatkan bagaimana trauma yang dialami para korban, khususnya perempuan, terhadap kekerasan yang dialami karena tuduhan terlibat dalam kegiatan PKI. Tetapi di sisi lain, film ini juga menggambarkan bagaimana perempuan belum berani menyuarakan perjuangannya menentang kekerasan. Mereka lebih memilih untuk menyimpan sendiri luka batinnya.

Lepas dari nilai lebih film ini yang ingin terus mengingatkan dan mengampanyekan luka-luka kekerasan pada tahun 1965 yang belum terselesaikan, film ini kurang kuat menampilkan konteks realita sejarah secara verbal. Seperti diungkapkan kritikus film Budi Irawanto, "Film ini tidak memberikan info secara jelas mengenai peristiwa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1965," kata Budi. (AB3) (dikutip dari www.kompas.com)