Marxisme dan Perjuangan Melawan Imperialisme


syarikat - Posted on 06 October 2003

Hampir tujuh tahun berlalu sejak George Bush, waktu itu
presiden Amerika Serikat, mengucapkan pidatonya yang terkenal,
"Tatanan Dunia Baru". Itu terjadi tahun 1991. Saat melancarkan Perang
Teluk, kekuatan Imperialis yang paling utama di muka bumi menjanjikan
sebuah dunia tanpa peperangan, tanpa kediktatoran, dan &endash;tentu
saja&endash; sebuah dunia yang sepenuhnya berada di bawah kontrol
satu-satunya polisi dunia yang berkuasa penuh &endash;Amerika
Serikat. Setelah keruntuhan Stalinisme, Imperialisme AS benar-benar
mengira bahwa dunia akan dengan lekatnya berada di bawah perintah
mereka dan mereka akan bisa mendikte nasib tiap negara. Semua konflik
di dunia diselesaikan melalui dialog dalam semacam "Pax Americana".
Nyatanya, sekarang semua impian ini telah tereduksi menjadi
puing-puing semata.

Dominasi imperialisme yang sifatnya menghancurkan di dalam arena
dunia, yang makin kuat saja setelah keruntuhan Stalinisme, berarti
terjadinya eksploitasi yang makin parah terhadap Dunia Ketiga secara
keseluruhan. Dominasi negara-negara metropolitan masih lebih besar
daripada di masa lalu. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa
birokrasi-militer lama yang langsung dikontrol oleh individu boss
kolonial telah diganti tempatnya oleh dominasi kolektif atas dunia
kolonial oleh negara-negara eksploiter yang kaya raya melalui
mekanisme pasar. Di bawah panji "globalisasi" dan "pembukaan pasar"
imperialisme melakukan pemaksaan melalui kebijaksanaan penurunan
tarif dan swastanisasi berbagai prasarana di seluruh Dunia Ketiga.
Kebijakan-kebijakan ini adalah satu akibat dari krisis kapitalisme di
Dunia Barat yang memaksa negara-negara imperialis tadi untuk terus
mencari pasar dan lapangan investasi baru. Tetapi mereka menetakkan
kebangkrutan bagi industri-industri lokal di negara-negara yang
mereka datangi, industri-industri yang tak dapat melawan berbagai
perusahaan multinasional raksasa. Situasi ini telah memproduksi
konsekuensi-konsekuensi yang paling membinasakan dan telah
menghasilkan akibat-akibat yang sebelumnya tidak terlihat oleh
Presiden Bush.

Secara tipikal, para pembuat strategi AS mempunyai pandangan
pendek. Mereka gagal mengerti apa yang telah diterangkan oleh Trotsky
bahkan sebelum Perang Dunia Kedua. Trotsky meramalkan bahwa Amerika
Serikat akan muncul dengan jayanya dari hiruk pikuk perang yang akan
tiba, tetapi sebagai akibatnya Amerika Serikat memasang dinamit di
pondasinya sendiri. Saat ini kita melihat bahwa ramalan ini menjadi
kenyataan. Kolapsnya Uni Soviet telah merubah bentuk relasi di antara
pemilik kekuasaan, menjadikan USA sebagai satu-satunya negara adi
daya di dunia. Dalam sejarah umat manusia, tidak pernah ada satu
negara tunggal yang menikmati dominasi ekonomi dan militer sedemikian
rupa. Malahan krisis yang datang terus-menerus adalah manifestasi
bahwa imperialisme AS adalah si Colossus berkaki lempung. Meskipun
mengalami kemenangan militer dalam Perang Teluk, AS tidak mampu
menggeser Saddam Hussein. Usahanya dalam intervensi militer melawan
milisi cakar ayam di Somalia berakhir dalam satu kekalahan memalukan.
Sekarang krisis di Asia dan khususnya berbagai kejadian di Indonesia
telah menempatkan revolusi secara ajeg dalam agenda. Di Selatan,
Amerika Serikat menghadapi suatu krisis menyeluruh di Amerika Tengah
dan Amerika Latin dengan berbagai gejolak sosial politik di Meksiko,
sebuah perang gerilya yang ber kepala batu di Kolombia, dan sebuah
situasi eksplosif di Argentina dan Brazil. Ke mana saja ia
mengarahkan pandangan, imperialisme AS dapat melihat bahwa tidak ada
satupun rezim borjuis bisa stabil. Seluruh dunia telah masuk ke dalam
periode paling kejang dalam kurun waktu ratusan tahun.

BEBAN HUTANG

Eksploitasi berlebihan terhadap Dunia Ketiga, yang makin intensif
setelah keruntuhan Stalinisme, mempunyai arti terjadinya perpindahan
kekayaan dari negara-negara ini ke peti penyimpanan uang milik
perusahan-perusahaan multinasional raksasa dan bank-bank. Hal ini
dapat terlihat pada beban hutang yang telah mencapai proporsi yang
bahkan sebelum pertemuan G-8 di Birmingham (Mei 1998) telah ada
beberapa pembicaraan mengenai inisiatif keringanan pinjaman bagi
beberapa negara termiskin. Di akhir pertemuan itu tidak ada satupun
inisiatif disetujui. Bank Dunia &endash;tanpa membicarakan
pengembalian hutang yang sebenarnya, juga telah memulai sebuah
program HIPC (Highly Indebted Poor Countries) yang bertujuan untuk
memotong beban hutang 41 negara yang membelanjakan lebih dari 20
persen pendapatan ekspor mereka untuk pembayaran bunga hutang.

Semua rencana ini tidaklah lahir dari niat baik dan kemurahan hati
para eksekutif Bank Dunia dan IMF. Ada tiga alasan utama untuk hal
ini. Yang paling pertama adalah sangat tidak mungkin bahwa
negara-negara ini akan pernah mampu membayar hutang mereka. Oleh
karena itu, mereka (IMF dan Bank Dunia) telah memutuskan untuk
mengenali realita dan membuat pemerintahan-pemerintahan dunia Barat
mengembalikan apa yang dipinjamnya dari bank-bank penyandang dana
dengan uang para pembayar pajak. Dalam cara ini bank tidak pernah
kalah. Tujuan utama dari inisiatif-inisiatif keringanan hutang ini
adalah, di satu sisi, untuk memaastikan bahwa para bankir memperoleh
kembali uang mereka, dan di sisi lain, untuk mengangkat negara-negara
yang banyak hutang ini ke suatu posisi di mana mereka bisa meminta
lebih banyak pinjaman! Kedua, jumlah hutang yang dipinjam oleh
negara-negara penghutang terbesar ini, sebagai sebuah persentase dari
total pinjaman negara-negara yang dulunya negara-negara jajahan,
adalah sangat kecil. Dan yang ketiga, rencana-rencana keringanan tadi
datang bersama-sama dengan banyak sekali syarat-syarat terkait.
Negara-negara yang terlibat harus melaksanakan
"rekomendasi-rekomendasi" (yaitu, perintah) dari IMF.

Rencana Penyesuaian Struktural (SAPs, Structural Adjustment Plans)
IMF yang terkenal sekarang telah berjalan cukup lama hingga dapat
mengetahui apa konsekuensi-konsekuensinya. Sebagai satu contoh,
Zambia adalah sebuah negara yang relatif berkembang dengan
sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit, pelayanan pendidikan,
serta sebuah infrastruktur modern yang dibangun terutama di atas
basis pendapatan dari pertambangan tembaga. Sepuluh tahun pelaksanaan
"penyesuaian struktural" menggiring angka harapan hidup jatuh dari
54,4 tahun di tahun 1991 menjadi 42,6 tahun di tahun 1997. Angka
melek huruf berkurang, dan sebagai akibat langsung dari naiknya biaya
rumah sakit sekarang tercatat 203 kematian bayi per 1.000 kelahiran
dibandingkan 125 di tahun 1991. Akses mendapatkan air bersih juga
berkurang, dan 98,1 persen jumlah penduduk hidup atas 2 USD per hari
atau malah kurang. Hutang negara mewakili 225 persen GDP (Gross
Domestic Product). Oleh karena itu, sama sekali tidak mengejutkan
bahwa baru-baru ini terjadi kerusuhan pangan di Zambia &endash; juga
di negara-negara yang lain, seperti Zimbabwe dan Tanzania.

Beban hutang negara-negara termiskin di dunia menghabiskan 94
persen pendapatan ekonomi per tahun mereka. Untuk negara-negara yang
termasuk dalam program HIPC gambaran ini berkisar 125 persen.
Dibandingkan pendapatan hasil ekspor, persentase hutang telah
mencapai tingkat yang belum pernah terdengar: Somalia 3.671 persen,
Guinea-Bissau 3.509 persen, Sudan 2.131 persen, Mozambik 1.411
persen, Ethiopia 1.377 persen, Rwanda 1.374 persen, Burundi 1.131
persen. Dan jauh dari membaik, situasi secara nyata malah makin
memburuk. Tahun 1980 total jumlah hutang dari negara-negara belum
berkembang adalah 600 miliar USD. Di tahun 1990 jumlah itu naik
hingga 1,4 triliun USD dan tahun 1997 jumlah itu secara mengagetkan
menjadi 2,17 triliun USD. Adalah penting untuk mencatat bahwa dalam
periode 1990-97, ketika jumlah hutang total naik 770 miliar US
dollar, negara-negara ini sebenarnya telah membayar 1,83 triliun US
dollar hanya untuk bunga hutang. Sebuah gambaran yang lebih bersifat
skandal licik akan muncul jika kita membandingkan pembayaran bunga
hutang dengan bantuan yang diterima negara-negara ini, yaitu untuk
satu dollar yang mereka terima dalam bantuan, mereka membayarkan
kembali 11 dollar untuk bunga hutang.

Akibat-akibat situasi ini jelas. Situasi di seluruh Afrika
Sub-Sahara adalah mimpi buruk. Menurut The Economis (6/6/98), "Hampir
setengah dari 760 juta orang yang di benua ini 'amat sangat miskin',
bertahan hidup, diungkapkan oleh ADB (Bank Pembangunan Afrika), atas
kurang dari 1 dollar per hari. Walaupun terdapat tanda-tanda yang
membesarkan hati dalam beberapa bagian benua, rata-rata pertumbuhan
GDP nyata turun di tahun 1997 menjadi 3,7 persen dari 5 persen di
tahun sebelumnya. Kesembuhan Afrika masih rapuh dan tatap sama rentan
dengan sebelumnya terhadap harga-harga komoditas dan iklim ekonomi
yang memburuk. Globalisasi perdagangan dunia... dapat menekan ekonomi
benua ini jauh melampaui margin batasnya. Menurut Bank Dunia Afrika
hanya menarik minat 1,5 persen investasi langsung milik penanam modal
asing di tahun 1996. Penerima bantuan terbesar, memperoleh 32 persen
dari jumlah total, adalah Nigeria yang, terpisah dari fakta mempunyai
persediaan minyak bumi, tidak mereformasi ekonominya dalam cara di
mana minyak bumi dikatakan oleh Bank Dunia sebagai essensial untuk
menarik investasi asing." Meningkatnya tingkat pemiskinan dari
penduduk di sebagian besar dunia kolonial telah memberikan kenaikan
tajam pada meningkatnya jumlah kriminalitas, pasar gelap, dan
"ekonomi informal". Dalam beberapa kasus, pasar gelap mewakilkan
jumlah yang lebih besar dalam bidang ekonomi dibandingkan pasar resmi
dan pasar gelap ini merembes ke semua bidang aparatus negara. Mereka
mencoba melindungi kepentingan mereka dalam arena politik melalui
kekuatan-kekuatan kaum fundamentalis dan "populis". Semua ini adalah
kekuatan-kekuatan ekonomi yang dahsyat yang dalam banyak kasus
memiliki kepentingan-kepentingan yang lalu menimbulkan konflik dengan
kepentingan-kepentigan imperialisme. Jadi, di semua tingkatan,
pembusukan kapitalisme merusak apa yang menjadi hal paling dasar bagi
eksistensi umat manusiia di dua per tiga planet. Sebagaimana Lenin
ingatkan, perpanjangan eksistensi kapitalisme menandai "horor tanpa
akhir".

PERAN KELAS PEKERJA

Marx, Engels, dan Lenin senantiasa memberi penekanan pada peran
terdepan dari kaum proletariat di dalam revolusi. Mereka menjelaskan
bahwa hanya kelas pekerja yang bisa mengusung revolusi kaum sosialis.
Tak ada kelas lain yang dapat memenuhi peran ini. Mengapa begini? Ini
bukanlah sebuah cetusan pikiran yang tiba- tiba atau sebuah asumsi
arbiter. Ia berbasis pada peran para pekerja dalam produksi, dan
kenyataan bahwa partisipasi dalam produksi kolektif ("sosial")
berarti bahwa kelas pekerja sendirian membangun sebuah kesadaran
sosialis (kolektifis). Ini bukan kasus dengan kelas lain. Kaum tani
adalah sebuah kelas para pemilik kecil. Bahkan para petani yang tak
bertanah, kaum proletariat pedesaan, sering sekali mendambakan
pemilikan tanah; jadilah slogan "Tanah untuk penggarapnya"
&endash;yang, meski ini merupakan signifikasi revolusioner yang luar
biasa, semboyan ini memiliki kandungan borjuis, bukan sosialis. Para
mahasiswa dan kaum cendekiawan mempunyai sebuah tendensi yang kuat
terhadap individualisme borjuis kecil, yang seringkali memunculkan
dirinya bahkan ketika mereka mencoba mengadopsi posisi revolusioner.

Melalui pengalamannya, kaum proletariat belajar untuk memahami
organisasi kolektif dan disiplin. Inilah hasil dari sekolah keras
produksi dan eksploitasi kapitalis, yang mempersiapkan para pekerja
untuk menghadapi perjuangan kelas. Senjata-senjata wajar milik kaum
proletar adalah metode-metode perjuangan massa &endash;pemogokan,
pemogokan umum, demonstrasi massa, yang bertindak sebagai sebuah
sekolah yang mempersiapkan kelas ini untuk tugas utamanya, yaitu
mengambil alih jalannya masyarakat ke dalam tangannya. Gerakan kaum
pekerja di semua tempat adalah sekolah demokrasi. Sebelum para
pekerja itu memutuskan untuk melakukan pemogokan, terdapat diskusi
demokratis di mana di dalamnya pendapat yang saling bertentangan
dapat terdengar. Tetapi sekali telah diambil pilihan suara, kaum
bekerja bertindak sebagai satu kesatuan. Mereka yang telah mencoba
menghianati keputusan demokratis para pekerja dan mengacaukan
pemogokan diperlakukan sebagai buruh penghianat yang memang harus
dihukum. Unjuk rasa adalah ekspresi kongkrit dari kehendak mayoritas.
Selama berlangsungnya pemogokan kaum pekerja berpartisipasi, bekerja,
dan berdiskusi. Setiap pekerja mengetahui bahwa ia belajar lebih
banyak selama satu hari pemogokan dibandingkan satu tahun kehidupan
"normal". Akibatnya, setiap pemogokan mengandung elemen-elemen
revolusi dan sebuah revolusi adalah apa yang teradapat dalam sebuah
pemogokan dalam skala besar dan luas. Banyak proses-proses yang
muncul di dalam kelas bersifat analog, meskipun dua hal tadi berbeda
secara kualitatif. Tetapi di masing-masing keduanya elemen kuncinya
adalah partisipasi aktif dan sadar dari kelas pekerja, yang mulai
mengambil alih nasibnya ke tangannya sendiri daripada menyerahkannya
kepada orang lain &endash;para pemimpin serikat pekerja, anggota
parlemen, anggota dewan, dan birokrat. Inilah esensi sosialisme atau,
lebih tepatnya, esensi kekuatan pekerja.

Sosialisme adalah demokratis atau ia bukan apa-apa. Sejak awal
mula revolusi sosialis, mestilah ada rezim yang paling demokratis,
sebuah rezim yang akan berarti bahwa untuk pertama kalinya semua
tugas-tugas mengenai menjalankan industri, masyarakat, dan negara
akan berada di tangan mayoritas masyarakat, kelas pekerja. Melalui
komite-komite mereka yang dipilih secara demokratis (soviets), yang
dipilih secara langsung di tempat kerja serta tunduk atas recall
sewaktu-waktu, para pekerja akan menjadi tuan dari masyarakat bukan
hanya namanya saja, tetapi juga dalam kenyataan. Ini adalah posisi
kaum pekerja di Rusia setelah Revolusi Oktober. Marilah kita ingat
kembali bahwa Lenin meletakkan 4 syarat utama bagi sebuah negara kaum
pekerja &endash;yaitu, untuk periode transisi antara kapitalisme dan
sosialisme:


  • 1)pemilihan umum yang bebas dan demokratis dengan hak recall
    terhadap semua pejabat

  • 2)tidak ada pejabat yang pantas menerima gaji yang lebih
    tinggi daripada seorang pekerja yang ahli
  • 3)tidak ada tentara yang berjaga kecuali rakyat yang
    dipersenjatai
  • 4)secara bertahap, semua tugas-tugas menjalankan negara harus
    dilakukan oleh massa di atas basis yang bergilir.
  • Ketika setiap orang menjadi birokrat pada gilirannya, maka tidak
    ada orang yang menjadi birokrat. Atau, sebagaimana Lenin menyatakan,
    "Sembarang penggodok ide harus bisa menjadi perdana menteri."

    Hanya di atas basis demikianlah masyarakat dapat mulai bergerak
    dalam arahan sosialisme &endash;tahap tertinggi masyarakat manusia
    yang Engels gambarkan sebagai loncatan kemanusiaan dari wilayah
    keharusan menuju wilayah kebebasan. Secara jelas sebuah perkembangan
    yang demikian menuntut adanya sebuah perkembangan yang tinggi dalam
    kekuatan-kekuatan produktif. Itulah mengapa Marx dan Engels berpikir
    bahwa revolusi sosialis akan bermula di Perancis, dilanjutkan di
    Jerman, dan berakhir di Inggris. Pada waktu itu kelas pekerja hanya
    ada di negara-negara ini. Marx dan Engels, dan bahkan Lenin sampai
    pada tahun 1917, bahkan tak membayangkan kemungkinan kelas pekerja
    pertama kali muncul sebagai kekuatan justru di sebuah negara
    terbelakang. Sosialisme menuntut sebuah tingkat tertentu dari
    perkembangan industri, pertanian, ilmu pengetahuan, dan teknik, di
    dalam bingkai kerjanya. Hanya di atas basis inilah para pekerja bisa
    memiliki waktu bebas secukupnya &endash; di atas basis pengurangan
    hari kerja&endash; untuk berpartisipasi dalam menjalankan masyarakat
    dan negara.

    Bagaimanapun, situasi telah berubah secara radikal setelah
    kematian Marx dan Engels, disebabkan oleh kedatangan imperialisme,
    tahap tertinggi dari kapitalisme sebagaimana dianalisa oleh Lenin
    dalam bukunya yang terkenal dengan judul sama. Lenin menjelaskan
    bahwa satu dari gambaran-gambaran utama dari imperialisme adalah
    ekspor kapital dari negara-negara maju ke negara-negara kolonial dan
    negara-negara semi-jajahan. Di atas basis hukum 'perkembangan
    gabungan dan tak seimbang', sebuah kelas pekerja yang perkasa tumbuh
    di negara-negara terbelakang seperti Rusia yang Tsarist, sebuah fakta
    yang tidak mengubah karakternya sebagai sebuah negara yang
    terbelakang, semi feodal, dan semi jajahan. Persoalan-persoalan utama
    dari polemik di antara tendensi-tendensi yang berbeda dari gerakan
    buruh Rusia sebelum 1917 adalah setepatnya merupakan karakter dari
    Revolusi Rusia dan relasi antar kelas dalam revolusi. Tak dapat
    disangkal, teori yang mengantisipasi dan menjelaskan apa yang
    sungguh-sungguh terjadi di tahun 1917 telah dikerjakan oleh Trotsky.

    REVOLUSI PERMANEN

    Teori revolusi permanen pertama dikembangkan oleh Trotsky di awal
    1904. Revolusi permanen, sambil menerima bahwa tugas-tugas objektif
    yang menghadang pekerja Rusia adalah tugas-tugas revolusi demokratik
    kaum borjuis, juga secara bersamaan menjelaskan bagaimana di dalam
    sebuah negara terbelakang dan di dalam jaman imperialisme, "borjuasi
    nasional", di satu sisi berkaitan secara tak dapat dipisahkan dengan
    feodalisme yang tersisa sekaligus juga di sisi lainnya berkaitan
    dengan kapital milik kaum imperialis, dan oleh karena itu borjuasi
    nasional sepenuhnya tidak mampu mengemban tugas historis apapun.
    Kebusukan kaum borjuis liberal dan peran kontra revolusioner mereka
    dalam revolusi borjuis demokratis telah diamati oleh Marx dan Engels.
    Dalam artikelnya Borjuasi dan Kaum Kontra-Revolusi (1848), Marx
    menulis :

    "Borjuasi Jerman telah berkembang dengan begitu malas, secara
    berat dan lamban di saat di mana dengan terancam ia menghadapi
    feodalisme dan absolutisme, ia juga melihat dirinya begitu terancam
    berhadapan dengan kaum proletar serta segala faksi warga kota yang
    memiliki berbagai kepentingan dan ide-ide yang bersaudaraan dengan
    ide serta kepentingan yang dipunyai kaum proletar. Dan ia melihat
    kesatuan tempur yang amat bermusuhan dnegannya bukanlah satu kelas
    di belakangnya, melainkan seluruh Eropa di hadapannya.
    Borjuasi Prusia bukanlah, sebagaimana borjuasi Perancis di tahun
    1789, kelas yang merepresentasikann seluruh masyarakat modern
    vis-a-vis wakil-wakil masyarakat lama, monarki dan kaum
    bangsawan. Ia telah terbenam ke level sejenis lapisan sosial pemilik
    tanah, menentang kerajaaan sama jelasnya dengan ia menentang rakyat,
    ingin sekali menjadi oposisi bagi keduanya. Ragu-ragu melawan tiap
    lawannya, sendirianlah ia, sebab ia senantiasa melihat keduanya tadi
    di belakang atau di depannya; ia merosot hingga mengkhianati rakyat
    dan berkompromi dengan wakil-wakil kerajaan yang berasal dari
    masyarakat lama sebab ia sendiri milik masyarakat lama." (Karl Marx,
    Borjuasi dan Kaum Kontra Revolusi, MESW, volume 1, halaman 140-1).

    Marx menjelaskan, borjuasi tidak mencapai kekuasaan sebagai hasil
    dari kerja keras revolusionernya sendiri, melainkan sebagai sebuah
    hasil dari gerakan massa di mana dalam gerakan ini ia tidak memainkan
    peranan apa-apa. Borjuasi Prusia terlempar ke ketinggian kekuasaan
    negara, bagaimanapun juga tidak dengan cara hal itu diinginkannya,
    yaitu dengan sebuah tawar menawar yang damai dengan kerajaan,
    melainkan dengan sebuah revolusi." (Karl Marx, Borjuasi dan Kaum
    Kontra Revolusi, MESW, volume 1, halaman 138).

    Bahkan dalam jaman revolusi borjuis demokratik di Eropa, Marx dan
    Engels tanpa ampun membuka kedok peran kontra revolusioner, pengecut,
    dari borjuasi dan menitikberatkan keharusan bagi para pekerja untuk
    memelihara suatu kebijakan mengenai independensi kelas sepenuhnya,
    tidak hanya independensi dari kaum borjuis liberal, tetapi juga dari
    kaum demokrat borjuis kecil:

    "Kaum Proletar, atau partai yang benar-benar revolusioner," tulis
    Engels, "berhasil hanya dengan amat bertahap dalam penolakan massa
    kelas pekerja terhadap pengaruh kaum demokrat yang memiliki ikatan
    yang dibangun saat permulaan revolusi. Dalam waktu yang pasti,
    kelemahan hati dan kepengecutan para pemimpin kaum demokratik
    melakukan langkah mundur, dan sekarang mungkin yang bisa dikatakan
    sebagai satu dari hasil-hasil utama ledakan tahun kemarin adalah
    bahwa di manapun kelas pekerja terkonsentrasi dalam apapun yang
    serupa massa yang sangat besar, mereka sepenuhnya terbebaskan dari
    bentuk pengaruh demokrasi yang menggiring mereka ke dalam serial
    blunder dan kesialan tak ada akhirnya sepanjang 1848 dan 1849." (F.
    Engels, Revolusi dan Kontra Revolusi di Jerman, MESW, volume 1,
    halaman 332.)

    Situasi itu lebih jelas lagi saat ini. Borjuasi nasional di
    negara-negara kolonial amatlah terlambat masuk ke dalam babakan
    sejarah, ketika dunia telah terbagi-bagi di antara kaum imperialis
    yang sedikit. Ia tidak maampu memaikan peranan progresif apapun dan
    telah sepenuhnya tersubordinasi kepada tuan-tuan yang dulu
    menjajahnya. Borjuasi yang lemah dan merosot akhlaknya di Asia,
    Amerika Latin, dan Afrika terlalu bergantung kepada modal asing dan
    imperialisme, untuk memajukan masyarakat. Borjuasi itu terikat dengan
    ribuan benang, tidak hanya kepada modal asing tetapi juga dengan
    kelas pemilik tanah yang dengannya ia membentuk suatu blok reaksioner
    yang menghadirkan sebuah benteng penghadang terjadinya kemajuan.
    Apapun perbedaan yang mungkin ada di antara elemen-elemen ini,
    semuanya tidak signifikan dibandingkan dengan ketakutan yang
    menyatukan mereka untuk melawan massa. Hanya kaum proletariat,
    bersekutu dengan kaum tani miskin dan kaum urrban miskin, yang mampu
    memecahkan masalah-masalah di masyarakat dengan mengambil kekuasaan
    ke tangannya sendiri, mengambil alih milik kaum imperialis dan
    borjuasi, serta memulai tugas mentrasformasikan masyarakat di atas
    garis sosialis.

    Dengan menempatkan dirinya di kepala bangsa, memimpin
    lapisan-lapisan tertindas di masyarakat (kaum borjuis kecil di daerah
    rural urban), kaum proletar dapat mengambil kekuasaan dan kemudian
    mengemban tugas-tugas revolusi borjuis demokratik (terutama land
    reform dan penyatuan negara, serta pembebasan negara dari dominasi
    asing). Bagaimanapun, sekali telah memegang kekuasaan, kaum proletar
    tidak akan hanya berhenti di situ, melainkan akan mulai
    mengimplementasikan cara-cara sosialis mengenai pengambillalihan
    milik kaum kapitalis. Dan sebagaimana tugas-tugas ini tidak dapat
    dipecahkan di dalam satu negeri melulu, khususnya tidak di sebuah
    negara terbelakang, hal ini akan menjadi awal mula dari revolusi
    dunia. Jadi, revolusi itu "permanen" dalam dua pengertian: sebab ia
    mulai dengan tugas-tugas kaum borjuis dan berlanjut dengan
    tugas-tugas kaum sosialis, dan sebab ia mulai di satu negara dan
    berlanjut pada tingkat internasional.

    Teori revolusi permanen adalah jawaban yang paling utuh bagi
    posisi kaum reformis serta kaum kolaborator kelas di sayap kanan
    gerakan kaum pekerja Rusia, yaitu kaum Menshevik. Teori dua tahap
    dikembangkan oleh kaum Menshevik sebagai perspektif mereka untuk
    revolusi Rusia. Secara mendasar teori ini menyatakan bahwa, karena
    tugas revolusi adalah tugas-tugas revolusi nasional borjuis
    demokratik, maka kepemimpinan dari revolusi harus ditangani oleh
    borjuasi demokratik nasional. Untuk pendapatnya sendiri, Lenin setuju
    dengan Trotsky bahwa kaum liberal Rusia tidak dapat mengadakan
    revolusi borjuis demokratis, dan bahwa tugas ini hanya dapat diadakan
    oleh kaum proletariat dalam persekutuannya dengan kaum tani miskin.
    Mengikuti jejak langkah Marx, yang telah menggambarkan "partai
    demokratik" kaum borjuis sebagai "jauh lebih berbahaya bagi para
    pekerja daripada kaum liberal yang terdahulu", Lenin menjelaskan
    bahwa borjuasi Rusia, jauh dari menjadi sekutu kaum pekerja, akan
    tak dapat dielakkan lagi bersisian dengan kaum kontra
    revolusi.

    Tahun 1905 ia menulis, "Di tengah massa, tak akan terhindarkan,
    kaum borjuis pastilah mendekati kontra revolusi dan melawan rakyat
    secepat kepentingan-kepentingannya yang picik dan mau menang sendiri
    itu bertemu, secepat itulah ia 'mencelat' dari demokrasi konsisten
    (dan ia memang telah berkecut hati karena ini!)".; (Lenin, Selected
    Works, volume 9, halaman 98.)

    Dalam pandangan Lenin, kelas mana yang mampu memimpin revolusi
    demokrasi-borjuis? "Tetaplah 'rakyat', yaitu, kaum proletar dan kaum
    tani. Kaum proletar sendiri dapat dipercaya untuk melakukan marching
    hingga ke akhir, jauh melampaui revolusi demokratik. Itulah mengapa
    kaum proletar bertempur di garis depan demi sebuah republik dan
    dengan menghina ia menolak saran bodoh dan tak berharga untuk
    mempertimbangkan kemungkinan borjuasi mencelat mundur." (Ibid)

    Dalam semua pidato dan tulisan Lenin, peranan kontra-revolusi kaum
    demokratik-borjuis Liberal selalu ditekankan, terus menerus.
    Bagaimanapun, hingga 1917, Lenin tidak yakin bahwa kaum pekerja Rusia
    akan bisa mencapai kekuasaan sebelum terjadi revolusi sosialis di
    Barat &endash;ini satu perspektif yang sebelum 1917 hanya
    dipertahankan oleh Trotsky. Tahun 1917 hal ini diadopsi sepenuhnya
    oleh Lenin dalam Tesis-tesis April-nya. Kebenaran teori revolusi
    permanen secara gilang-gemilang ditunjukkan oleh Revolusi Oktober
    sendiri. Kelas buruh Rusia &endash;sebagaimannna telah diramalkan
    oleh Trotsky di tahun 1904&endash; meraih kekuasaan sebelum kaum
    buruh dari Eropa Barat. Mereka menyelenggarakan semua tugas-tugas
    Revolusi demokratik-borjuis, dan langsung memulai nasionalisasi
    industri dan menempuh tugas-tugas revolusi sosialis. Kaum borjuis
    memainkan sebuah peranan kontra revolusioner secara terbuka, tetapi
    dikalahkan oleh kaum buruh dalam aliansinya dengan kaum tani miskin.
    Kemudian kaum Bolshevik membuat suatu himbauan revolusioner kepada
    kaum buruh di seluruh dunia untuk mengikuti contoh mereka. Lenin
    mengetahui dengan baik bahwa tanpa kemenangan revolusi di
    negara-negara kapitalis yang maju, terutama Jerman, revolusi tidak
    dapat bertahan dalam keadaan terisolasi, terutama di sebuah negara
    terbelakang seperti Rusia. Apa yang kemudian terjadi memperlihatkan
    bahwa hal ini sepenuhnya benar. Pendirian dari (Komunis)
    Internasional Ketiga, partai dunia dari kaum sosialis, adalah
    manifestasi kongkrit dari perspektif ini.

    Jikalau Komunis Internasional tetap kukuh berada di atas posisi
    yang dibuat oleh Lenin dan Trotsk,y tentulah kemenangan revolusi di
    tingkat dunia telah dapat dipastikan. Malangnya, tahun-tahun
    pertumbuhan Komintern bertepatan dengan maraknya kontra revolusi kaum
    Staslinis di Rusia, yang memiliki akibat yang sangat menghancurkan
    bagi Partai Komunis di seluruh dunia. Birokrasi Stalinis, memiliki
    kontrol yang mendalam di Uni Soviet, mengembangkan sebuah pandangan
    yang amat konservatif. Teori bahwa sosialisme dapat dibangun dalam
    satu negara &endash;sebuah hal yang amat dibenci dalam sudut padang
    pendirian Marx dan Lenin&endash; sangat mencerminkan mentalitas
    birokrasi yang telah mengalami cukup berbagai tekanan dan stress dari
    revolusi dan berusaha untuk bisa berjalan terus dengan mengadakan
    tugas-tugas mengenai "membangun sosialisme di Rusia". Bisa
    diikatakan, mereka ingin melindungi dan memperluas kewenangasn mereka
    dan tidak "mengotori" sumber daya negara dengan cara mengejar
    revolusi di tingkat dunia. Pada sisi lain, mereka takut bahwa
    revolusi di negara-negara lain dapat berkembang pada garis yang sehat
    dan hal itu merupakan ancaman terhadap dominasi mereka sendiri di
    Rusia, dan oleh karena itu pada satu tahap tertentu, secara aktif
    mereka berusaha menghalang-halangi terjadinya revolusi di
    tempat-tempat lain.

    Daripada mengejar sebuah kebijakan revolusioner berdasarkan pada
    independensi kelas, sebagaimana senantiasa diadvokasikan Lenin,
    mereka mengajukan sebuah aliansi Partai Komunis dengan "kaum borjuis
    progresif nasional" (dan jikalau tidak ada kum ini yang tersedia
    begitu saja, mereka telah mempersiapkan diri untk melakukan
    intervensi terrhadapnya) untuk mengadakan revolusi demokratik, dan
    setelahnya, menyusul, di kelak kemudian hari yang jauh, saat negara
    telah mengembangkan perekonomian yang menghilangkan kaum kapitalis
    sepenuhnya, barulah ada perjuangan demi sosialisme. Kebijakan ini
    menghadirkan sebuah jurang yang sama sekali berpisah dengan Leninisme
    dan sebuah titik balik kepada posisi kuno yang amat tercemar dari
    Menshevisme &endash;inilah teori "dua tahapan".

    PERAN PARTAI-PARTAI KOMUNIS

    Teori ini memainkan peran kriminal dalam perkembangan revolusi di
    dunia jajahan. Di Cina, Partai Komunis yang masih muda terpaksa masuk
    ke dalam aturan main kaum borjuis nasional, Kuomintang, yang kemudian
    melakukan likuidasi secara fisikal terhadap Partai Komunis tersebut,
    serikat-serikat buruh, dan dewan-dewan tani selama berlangsungnya
    revolusi Cina tahun 1925-27. Alasan mengapa revolusi Cina yag kedua
    mengambil bentuk berupa perang kaum tani di mana kelas buruh tetap
    pasif, adalah perluasan dari kehancuran kaum proletar Cina sebagai
    akibat kebijakan-kebijakan Stalin yang dikarakterisasikan Trotsky
    sebagai "sebuah karikatur jahat dari Menshevisme". Di manapun ia
    diterapkan dalam dunia jajahan, teori kaum Staliniss mengennai 'dua
    tahapan' telah menggiring terjadinya satu malapetaka menyusul
    malapetaka lainnya.

    Di Sudan dan Irak pada tahun 1950-an dan 1960-an, Partai Komunis
    merupakan kekuatan massa yang mampu menghimbau adanya demostrasi
    sejuta orang di Baghdad dan dua juta orang di Khartoum. Daripada
    melanjutkan adanya kebijakan mengenai kelas independen dan memimpin
    para buruh dan kaum tani untuk merebut kekuasaa, mereka ini mencari
    aliansi dengan kaum borjuis "progresif" serta golongan-golongan
    "progresif" dalam jajaran militer. Yang disebut terakhir, setelah
    mengambil alih kekuasaan dengan dukungan penuh dari partai-partai
    Komunis, kemudian mulailah mengeliminasikan mereka dengan pembunuhan
    dan pemenjaraan anggota-anggota serta pimpinan-pimpinannya. Di Sudan,
    proses yang sama terjadi bukan hanya sekali tetapi dua kali. Masih
    saja, bahkan hingga saat ini, para pemimpin Partai Komunis Sudan
    mempunyai suatu kebijakan tentang "Aliansi Patriotik" dengan kaum
    gerilya di Selatan (sekarang disokong oleh imperialisme AS) dan kaum
    borjuis "progresif" di Utara, untuk melawan rezim fundamentalis. Yang
    disebut para pemimpin Komunis ini mirip kaum Bourbon kuno yang "tidak
    melupakan satupun dan tidak mempelajari apa-apa". Kebijakan-kebijakan
    mereka adalah sebuah resep akhir bagi satu kekalahan berdarah setelah
    kekalahan berdarah lainnya.

    Contoh paling tragis mengenai konsekuensi yang sifatnya
    menghancurkan dari teori dua tahapan adalah apa yang terjadi di
    Indonesia. Di tahun 1960-an Partai Komunis Indonesia adalah kekuatan
    massa yang utama di negara tersebut. Itu adalah Partai Komunis
    terbesar di dunia di luar Blok Soviet, dengan tiga juta orang
    anggota, serta sepuluh juta orang berafiliasi kepada serikat-serikat
    pekerjanya serta organisasi-organisasi buruh taninya, dan bahkan
    Partai Komunis Indonesia (PKI) mengklaim adanya dukungan 40 persen
    tentara (termasuk jajaran perwira). Kaum Bolshevik Rusia tidak
    memiliki dukungan terorganisir yang sebanyak itu pada saat revolusi
    Oktober! PKI dapat dengan mudah mengambil alih kekuasaan dan memulai
    transformasi sosialis terhadap masyarakat yang akan memiliki efek
    luar biasa besar di seluruh dunia jajahan, menjadi rantai
    revolusi-revolusi di Asia. Daripada melakukan itu, para pemimpin
    Partai Komunis (di bawah kontrol kaum Maois Cina) malah membentuk
    sebuah aliansi dengan Soekarno, seorang pemimpin nasionalis borjuis
    yang pada saat itu mengadopsi fraseologi "kiri". Kebijakan-kebijakan
    tersebut menyebabkan PKI sepenuhnya tidak siap saat kaum borjuis (di
    bawah instruksi langsung dari CIA) mengorganisasikan sebuah
    pembantaian terhadap para anggota dan simpatisannya, di mana dalam
    pembantaian itu sedikitnya 1,5 juta orang dijagal.

    Walaupun ada segala kekalahan dan tinjauan masa lalu, kaum buruh
    dan petani akan mengambil jalan perjuangan dari waktu ke waktu,
    secara tak terelakkan. Kejadian-kejadian yang terjadi di Indonesia
    baru-baru ini merupakan indikasi nyata dari fakta ini.
    Kejadian-kejadian itu adalah sebuah antisipasi terhadap apa yang akan
    terjadi di satu per satu negara Asia. Dan ini hanyalah awal dari
    sebuah proses revolusioner yang akan tidak terbendung selewat periode
    bertahun-tahun. Jika sebuah partai Leninis murni eksis, hal ini dapat
    berakhir dalam sebuah revolusi proletar dalam bentuk klasik. Masalah
    mengenai gerilyaisme atau Bonapartisme kaum proletar tidak akan
    muncul. Di sini, sebagaimana biasanya selalu, faktor subyektif mutlak
    diperlukan. Malangnya kepemimpinan partai-partai komunis di
    negara-negara ini mengulang-ulang segala kesalahan lama yang sama
    saja, di mana hal ini telah menggiring kepada terjadinya kekalahan
    dan pembantaian di masa lalu. Meskipun Jepang bukan sebuah negara
    jajahan, hal ini tidak berarti apapun dalam hal pertumbuhan yang
    spektakuler dari Partai Komunis Jepang (JCP) sebagai akibat dari
    krisis ekonomi negara tersebut. JCP menjadi partai yang memiliki
    wakil terbanyak dalam dewan-dewan lokal, merupakan partai kedua
    terbesar dalam Majelis Metropolitan Tokyo dan koran harian JCP
    memiliki sirkulasi sebesar 3,2 juta.

    Gelombang radikalisasi yang menyapu seluruh Asia telah juga
    mempengaruhi kelas buruh di Jepang. Peringatan May Day tahun ini di
    Jepang adalah yang terbesar sejak bertahun-tahun. Tidak kurang dari
    satu juta buruh ikut beerpartisipasi ari seluruh negeri berkumpul.
    Ini adalah contoh jelas tentang bagaimana kesadaran dapat berubah
    dengan kecepatan kilat saat kondisi-kondisi berubah. Tetapi sialnya
    kebijakan-kebijakan kepemimpinan JCP sepenuhnya berharak dari
    tugas-tugas nyata yang dihadapi kaum kelas buruh Jepang. Menurut
    Kimitoshi Morihara vice head dari departemen internasional JCP, "kami
    bekerja menuju pendirian sebuah pemerintahan demokratis yang mencari
    penyelesaian masalah-masalah ini, dalam kerangka kerja kapitalisme,
    di awal abad mendatang". (Wawancara dalam mingguan Greenleft Weekly
    No. 317). Mereka menyempurnakan teori dua tahapan Stalinis yang kuno
    dengan menambahkan satu tahapan ekstra! Ini adalah "perspektif untuk
    kemajuan sosial di Jepang : pemerintahan koalisi demokratik, revolusi
    demokratik, dan revolusi sosialis" (?). Hal ini makin makin
    membingungkan karena, sebagaimana Jepang telah menjadi kekuatan
    industri kedua di dunia, orang dapat membayangkan hal tersebut dapat
    dilakukan tanpa sebuah "revolusi demokratik". Kelihatannya alasan
    apapun akan diambil supaya revolusi sosialis tidak dimasukkan ke
    dalam agenda.

    Selama berpuluh-puluh, tahun kelas buruh di negara-negara kolonial
    dan bekas kolonial telah menunjukkan keberaniannya yang kolosal dan
    potensial revolusionernya. Dari waktu ke waktu kelas ini telah
    bergerak untuk mengadakan transformasi revolusioner di masyarakat. Di
    Irak, Sudan, Iran, Chili, Argentina, India, Pakistan, dan Indonesia,
    kaum buruh telah menunjukkan bahwa mereka berkehendak untuk menjadi
    tuan dari masyarakat mereka. Jikalau mereka gagal, hal ini bukan
    karena mereka tidak bisa meeraih keberhasilan, melainkan karena
    mereka kekurangan syarat yang sangat diperlukan untuk mengambil alih
    kekuasaan. Dalam setiap kasus, mereka membenturkan kepala mereka
    terhadap tembok tebal sebab partai-partai dan para pemimpin yang
    mereka percayai untuk memimpin mereka kepada transformasi sosialis
    dari masyarakat berubah menjadi rintangan-rintangan raksasa.

    Guna meraih kekuasaan, tidaklah cukup bahwa kaum buruh disiapkan
    untuk bertempur. Bila itu masalahnya, kelas buruh telah dapat
    mengambil kekuasaan di seluruh negara-negara ini sejak dulu kala. Hal
    itu akan berlangsung mudah sebab mereka berada dalam posisi yang jauh
    leebih kuat daripada para buruh Rusia pada tahun 1917. Meskipun
    demikian mereka tidak mengambil kekuasaan. Mengapa tidak? Sebab kelas
    buruh membutuhkan sebuah partai dan sebuah kepemimpinan. Untuk
    menyangkal kenyataan hidup yang elementer ini adalah semata-mata
    anarkisme kekanakan. Dulu sekali Marx menjelaskan bahwa tanpa
    organisasi, kelas buruh adalah semata-mata bahan mentah bagi
    eksploitasi. Meskipun kekuatannya dalam jumlah dan peran kuncinya
    dalam produksi, kaum proletar tidak dapat merubah masyarakat kecuali
    ia menjadi sebuah kelas "ditengah-dan-untuk-dirinya sendiri" dengan
    kesadaran, perspektif-perspektif, dan pemahaman yang diperlukan.
    Untuk menunggu adanya kelas yang sepenuhnya memiliki pemahaman yang
    diperlukan mengenai hal (revolusi sosialis) tersebut hingga memadai
    untuk mengambil alih kekuasaan lalu mengubah masyarakat, ini adalah
    sebuah proporsi utopia yang sama saja dengan mengulur-ulur terjadinya
    revolusi secara tidak menentu. Adalah perlu untuk mengorganisasikan
    lapisan-lapisan yang paling maju dari kelas (buruh pekerja), mendidik
    kader, dan memasukkan kepada kader mereka perspektif-perspektif
    mengenai revolusi, tidak hanya dalam skala nasional, melainkan juga
    revolusi dalam skala internasional, mengintegrasikan mereka di tengah
    massa pada setiap level, dan secara sabar menyiapkan gerakan saat
    perjuangann-perjuangan parsial dari massa terkombinasi menjadi suatu
    serangan revolusioner yanng menyeluruh.

    Tanpa satu partai yang revolusioner, kekuatan potensial milik kaum
    proletar akan tetap semata begitu &endash;sebuah potensial. Hubungan
    antara kelas (proletar) dengan partai adalah serupa dengan hubungan
    antara uap dan piston box dalam mesin uap. Tetapi bahkan
    keberadaan-keberadaan partai tidaklah cukup unntuk memastikan adanya
    keberhasilan. Partai tersebut harus dipimpin oleh para laki-laki dan
    perempuan yang dilengkapi dengan pemahaman yang diperlukan mengenai
    tugas-tugas revolusi, berbagai taktik, strategi, dan perspektif,
    tidak hanya perspektif-perspektif nasional tetapi juga internasional.
    Situasi obyektif di Indonesia tahun 1964-65 tak dapat berlangsung
    lebih baik lagi. Massa telah mengalahkan Imperialisme Belanda. Kaum
    komunis memiliki dukungan mayoritas luas dari kelas pekerja dan buruh
    tani. Tetapi sebuah kebijakan dan perspektif yang keliru sudah cukup
    untuk menghadirkan kekacauan total pada revolusi. Jika revolusi
    Oktober membuktikan kebenaran dari revolusi permanen dalam sebuah
    pengertian positif, malapetaka di Indonesia menghadiahkan kepada kita
    sebuah bukti negatif dalam bentuknya yang paling mengerikan.

    Cara yang menyimpang dan kacau balau di mana dengan cara ini
    revolusi di daerah kolonial telah terbentang sejak tahun 1945 adalah
    bukan akibat dari keterbelakangan, atau karena tertundanya revolusi
    sosialis di negara-negara kapitalis yang maju. Hal itu bukanlah
    sesuatu yang tak dapat dielakkan dan bukan pula ditentukan lebih
    dahuulu oleh hukum-hukum sejarah. Di atas semuanya, hal itu adalah
    akibat ketiadaan faktor subyektif, ketiadaan suatu partai
    revolusioner yang murni dan kepemimpinannya yang bisa memberikan
    suatu karakter serta arahan yang sepenuhnya beda terhadap revolusi.
    Berbicara apa adanya, tidak ada satupun yang bisa menghalangi
    revolusi di Cina, ini untuk contoh, dari hal memainkan peran yang
    sama dengan revolusi Rusia di tahun 1917, jika saja kondisinya adalah
    para pemimpin Komunis Cina berbuat sebagaimana Lenin dan Trotsky.
    Tetapi para pemimpin ala Stalinis tersebut takut terhadap gerakan
    independen dari kelas buruh dan melakukan apapun yang berada dalam
    kekuasaan mereka untuk menghalanginya. Cara konyol di mane revolusi
    Cina muncul di tahun 1949, sebagai satu revolusi menyimpang dalam
    bayang-bayang Rusia di bawah kepemimpinan Stalin, menjadikan
    (revolusi tersebut) memiliki sedikit saja himbauan untuk bergerak di
    kalangan kaum buruh di negara-negara yang maju, meskipun revolusi
    tersebut memberikan suatu stimulus penting terhadap revolusi di
    Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Hal yang sama persis terjadi pada
    rezim-rezim Bonapartisme proletar yang lainnya yang hadir setelahnya.
    Walaupun tak dapat disangkal mereka ini menyajikan satu langkah ke
    depan, mereka benar-benar sebuah penyelewengan dan sebuah titik balik
    dari norma revolusi kaum proletar yang didirikan oleh Lenin yang lalu
    menjadi kenyataan di bulan Oktober 1917. Fakta ini harus terus kita
    jaga dalam pikiran jika kita mau memahami signifikasi sesungguhnya
    dari revolusi di daerah kolonial setelah tahun 1945.

    REVOLUSI CINA

    Dari waktu ke waktu adalah penting untuk menarik sebuah
    perhitungan mengenai ide-ide kita dan posisi-posisi teoritis kita.
    Bagaimana setelah berlalu 50 tahun hal-hal tersebut terwujud dalam
    praktek? Jika ada satu kontribusi utama dari tendensi kita terhadap
    Marxisme, ini adalah analisis kita mengenai revolusi kolonial dan
    perkembangan Bonapartisme kaum proletar, dimulai dengan analisis kita
    mengenai revolusi Cina setelah 1945. Hal ini benar-benar kebuntuan
    kapitalisme di negara-negara ini dan tekanan kebutuhan massa untuk
    adanya sebuah jalan maju yang telah memunculkan fenomena Bonapartisme
    kaum proletar. Hal ini berkaitan dengan sejumlah faktor-faktor yang
    berlainan. Di tempat pertama, kebuntuan komplit di masyarakat di
    negara-negara terbelakang dan ketidakmampuan kaum borjuis kolonial
    untuk menunjukkan jalan maju. Kedua, ketidakmampuan dari imperialisme
    untuk memelihara kontrolnya dengan cara-cara lama yaitu aturan
    milliter-birokratik secara langsung. Ketiga, tertundanya revolusi
    kaum proletar di negara-negara kapitalis yang maju dan lemahnya
    faktor subyektif . Terakhir, adanya rezim yang amat kuat dari
    Bonapartisme kaum proletar di Uni Soviet.

    Kemenangan USSR dalam Perang Dunia Kedua, dan menguatnya
    Stalinisme setelah Perang itu dengan perluasan dari Stalinisme ini ke
    wilayah Eropa Timur, serta kemenangan revolusi Cina, adalah
    keseluruhan faktor yang terkombinnasi menjadi kondisi yang mendukung
    perkembangan Bonapartisme kaum proletar sebagai sebuah varian konyol
    dari revolusi permanen yang hanya dimengerti oleh tendensi kita.
    (Bonapartisme kaum proletar) ini adalah fenomena yang sebelumnya
    sungguh tidak pernah terjadi dan tidak pernah diharapkan adanya.
    Tidak ada tempat dalam Marxisme klasik yang bahkan pernah
    mempertimbangkan sebagai suatu kemungkinan teoritis, bahwa sebuah
    perang kaum tani dapat memimpin terjadinya pendirian sebuah negara
    pekerja, bahkan negara milik pekerja yang dideformasi. Meski
    demikian, inilah tepatnya yang muncul di Cina, lalu menyusul di Kuba
    dan Vietnnam.

    Kami mengkarakterisasikan revolusi Cina sebagai kejadian terbesar
    kedua dalam sejarah, setelah revolusi Rusia di tahun 1917. Kejadian
    itu mempunyai efek yang luar biasa besar dalam perkembangan
    selanjutnya dari revolusi di daerah-daerah jajahan. Tetapi revolusi
    Cina ini tidak mengambil tempatnya di atas garis klasik revolusi
    Rusia tahun 1917 ataupun revolusi Cina tahun 1925-27. Kelas buruh
    tidak memainkan peran penting apapun. Mao meraih kekuasaan di atas
    basis perang kaum tani yang gagah berani, sesuai tradisi Cina.
    Satu-satuya cara Mao bisa memenangkan perang saudara di tahun 1944-49
    adalah dengan menawarkan sebuah program mengenai pembebasan sosial
    kepada para bala tentara petani dari Chiang Kai-Shek, yang
    dipersenjatai dan disokong oleh imperialisme Amerika. Tetapi para
    pemimpin Stalinis dari Tentara Merah kaum tani tidak memiliki
    perspektif mengenai hal memimpin keum buruh menuju kekuasaan
    sebagaimana dilakukan Lenin dan Trotsky tahun 1917. Ketika bala
    tentara petani Mao sampai di kota-kota, dan secara spontan kaum buruh
    menduduki pabrik-pabrik dan memberi lambaian selamat kepada bala
    tentara Mao dengan lambaian bendera merah, Mao memberikan perintah
    bahwa demonstrasi-demonstrasi tersebut harus ditekan dan para buruh
    tersebut ditembaki.

    Awalnya, Mao tidak bermaksud untuk melakukan penyitaan terhadap
    kapitalis-kapitalis Cina. Perspektifnya untuk revolusi Cina tertuang
    dalam sebuah pamflet berjudul On New Democracy yang di dalamnya ia
    menulis bahwa revolusi sosialis adalah bukan tugas mendesak di Cina,
    dan satu-satunya perkembangan yang dapat diberi tempat adalah sebuah
    perekonomian campuran, yaitu kapitalisme. Ini adalah teori Menshevik
    "dua tahapan" klasik yang telah diadopsi oleh birokrasi Stalinis dan
    telah menggiring kekalahan revolusi di Cina tahun 1925-27. Tetapi
    kita memahami bahwa di bawah kondisi-kondisi kongkrit yang telah
    berkembang waktu itu, harusnya Mao akan terdorong untuk melakukan
    penyitaan kapitalisme.

    Tidak hanya itu, tetapi kita jauh-jauh hari telah memprediksikan
    kenyataan bahwa Mao akan terpaksa putus hubungan dengan Stalin. Di
    awal tahun 1949 kita telah menulis : "Fakta bahwa Mao memiliki massa
    murni yang basisnya independen dari Tentara Merah Rusia dalam semua
    kemungkinan akan menyediakan basis independen untuk pertama kalinya
    bagi Stalinisme Cina yang akan tidak lebih lama lagi bergantung pada
    Moskow. Sebagaimana Tito, begitu pulalah dengan Mao, meski
    bagaimanapun peran Tentara Merah di Manchuria, Stalinisme Cina kini
    mengembangkan dasar yang independen. Sebab aspiirasi-aspirasi
    nasional dari massa di Cina, perjuangan tradisional melawan dominasi
    asing, kebutuhan ekonomi negeri, dan di atas semua itu, dasar yang
    kokoh dalam aparatus negara yang independen, kebahayaan mengenai
    munculnya seorang Tito yang baru dan perkasa di Cina merupakan satu
    faktor yang menimbulkan kecemasan di Moskow (...)

    "Bagaimanapun, subordinasi terhadap ekonomi Cina untuk keuntungan
    birokrasi Rusia, dengan berbagai upaya menempatkan boneka-boneka di
    dalam kontrol Moskow, yang boneka-boneka ini akan sepenuhnya berporos
    ke Moskow &endash;dengan kata lain, penindasan nasional terhadap
    Cina&endash; akan menciptakan dasar yang besar sekali signifikasinya
    bagi perpecahan dengan Kremlin. Dengan aparatus negara yang
    independen dan kuat, dengan kemungkinannya melakukan manuver terhadap
    kaum imperialis Barat (yang akan mencari negoisasi dengan Cina untuk
    hal perdagangan dan mendorong perpecahan antara Peking dan Moskow),
    dan dengan dukungan massa Cina yang menganggapnya sebagai pemimpin
    yang jaya dalam melawan Kuomintang, Mao akan memiliki point-point
    dukugan yang kuat dalam hal melawan Moskow.

    "Usaha-usaha ngotot Stalin untuk mencobakan dan mencegah
    perkembangan ini akan memperunyam, mempercepat dan mengintensifkan
    kemarahan serta konflik." (Reply to David James, dicetak kembali
    dalam E. Grant, The Unbroken Thread, hal. 304.)

    Baris-baris ini ditulis lebih dari satu dekade sebelum pecahnya
    konflik Sino-Soviet, ketika birokrasi-birokrasi Cina dan Rusia
    terlihat sebagai konco nan tak terpisahkan.

    Kemenangan laskar petani Mao di Cina terjadi akibat sejumlah
    faktor: kebuntuan total dan menyeluruh dari kapitalisme dan
    pertuantanahan di Cina, ketidakmampuan Cina melakukan intervensi
    sebab di pasukan tempur kaum imperialis setelah Perang Dunia kedua
    terdapat ketakutan akan perang, dan juga sebab daya tarik kekuatan
    kolosal dari nasionalisasi rencana ekonomi di Rusia Stalinis yang
    menunjukkan superioritasnya selama perang melawan Jerman di bawah
    kepamimpinan Hitler.

    Fakta bahwa kaum tani digunakan untuk memikul sebuah revolusi
    sosial adalah sebuah perkembangan yang sepenuhnya baru dalam sejarah
    Cina. Cina adalah negeri yang peran kaum taninya sudah menjadi hal
    klasik, di mana perang ini terjadi pada interval-interval beraturan
    tetapi bahkan ketika perang-perang ini berjaya ini semata akibat
    dalam fusi elemen-elemen kepemimpinan dari laskar petani dengan kaum
    elit di perkotaan, akibat dari pembentukan suatu dinasti yang baru.
    Perang petani adalah sebuah lingkaran setan yang menjadi karakter
    sejarah orang Cina selama lebih dari 2.000 tahun. Tetapi di sini kita
    mempunyai sebuah titik balik yang fundamental. Tentara petani di
    bawah kepemimpinan Mao mampu menggebuk kapitalisme dan mampu
    menciptakan suatu masyarakat di atas imaji Moskow pimpinan Stalin.
    Tentu saja, tidak akan ada hal mengenai negara pekerja yang sehat
    sebagaimana di Rusia pada bulan November tahun 1917 telah didirikan
    dengan cara yang sedemikian rupa. Untuk terjadi seperti apa yang ada
    di Rusia itu, partisipasi aktif dan kepemimpinan kelas buruh amat
    diperlukan. Tetapi suatu tentara kaum tani, tanpa kepemimpinan dari
    kelas buruh, adalah instrumen klasik dari Bonapartisme, bukan
    kekuatan kaum buruh. Revolusi Cinna di tahun 1949 bermulai pada saat
    revolusi Rusia telah berakhir. Jadinya tidak ada masalah mengenai
    dewan-dewan buruh atau demokrasi milik kaum buruh. Sejak awalnya
    revolusi Cina adalah sebuah negara pekerja yang terdeformasi secara
    mengerikan. Tendensi kita menggarisbawahi bahwa pada skala dunia,
    satu-satunya kelas yang dapat mengadakan kemenangan bagi sosialisme
    adalah kaum proletariat.

    Sekali Mao meraih kekuasaan dan menciptakan suatu aparatus negara
    di atas basis hierarki Tentara Merah dia tidak memiliki kebutuhan
    apapun untuk menggalang persahabatan antara dirinya sendiri dengan
    kaum borjuis. Dalam sebuah cara yang tipikal milik kaum Bonapartis,
    Mao menyamaratakan antara kelas-kelas yang berbeda. Mao bersandar
    kepada kaum tani dan pada bidang-bidang tertentu ia bersandar kepada
    kelas buruh untuk menyita hak kaum kapitalis. tetapi sekali kaum
    kapitalis ini telah dikalahkan, kemudian Mao mulai mengeliminir
    elemen apapun yang mungkin eksis dari demokrasi buruh. Fenomena ini
    dimungkinkan adanya adalah sepenuhnya karena kekosongan revolusi di
    tingkat dunia dan kebuntuan masyarakat. Mao memiliki contoh yang amat
    kuat dari Stalinisme di Rusia, di mana sebuah birokrasi yang kuat
    menggerogoti rencana perekonomian dan menarik keuntungan dari hal itu
    hingga iapun memutuskan untuk mengikuti model yang sama. Walau
    karakternya dideformasi habis-habisan, Revolusi Cina biar
    bagaimanapun juga tetap menyajikan satu langkah maju yang amat besar
    bagi ratusan juta orang yang telah diperbudak oleh imperialisme.

    BONAPARTISME KAUM PROLETAR

    Dalam menelaah proses-proses yang timbul dalam revolusi di daerah
    kolonial pada periode setelah perang dunia kedua, sebagai basis titik
    awal kita mengambil teori revolusi permanen dari Trotsky yang,
    sebagaimana sudah kita lihat, telah secara brilian terkonfirmasikan
    oleh sejarah. Tetapi dalam praktek, teori-teori tidak perlu
    dikerjakan dalam cara yang murni dan tersuling secara kimiawi. Bisa
    terdapat segala macam varian-varian pembelokan, distorsi-distorsi dan
    beberapa titik balik dari berbagai norma tadi. Hal ini dapat dilihat
    dalam segala cara.

    Periode klasik revolusi demokratik-borjuis dimulai dua atau bahkan
    tiga ratus tahun yang lalu dengan terjadinya revolusi di Belanda,
    Inggris, dan Perancis. Marx mengambil revolusi Perancis tahun 1789-93
    sebagai modelnya untuk revolusi demokratik borjuis dalam pengertian
    politis (sementara Inggris menyajikan model ekonomi). Tetapi
    senantiasa ada perkecualian terhadap norma-norma klasik. Sebagai
    contohnya Jerman, di mana tugas-tugas dasar dari revolusi
    demokratik-borjuis diadakan dengan cara ganjil, yaitu dari jajaran
    atas oleh kaum negarawan Junker lama di bawah pimpinan Bismarc. Tentu
    saja, terdapat banyak kontradiksi dan elemen yang tertinggal dari
    feodalisme yang baru kemudian berhasil dibersihkan dengan revolusi
    November 1918 &endash;sebuah revolusi kaum proletar yang kalah, di
    mana di dalamnya kaum buruh menyingkirkan bentuk negara yang lama dan
    kemudian para pemimpin Sosial Demokratik menyerahkan kekuasaan di
    tangannya kepada kaum borjuis. Serupa juga di Jepang yang merupakan
    negara feodal kuno yang memulai proses revolusi demokratik-borjuis
    pada 1860-an. Di bawah tekanan kekuatan-kekuatan eksternal, proses
    tersebut terselesaikan hanya oleh pendudukan kekuatan Amerika setelah
    1945, yang dilakukan sebagai usaha untuk menghalang-halangi
    terjadinya revolusi di Jepang.

    Fenomena bonapartisme kaum proletar memiliki hubungan terhadap
    teori revolusi permanen serupa dengan sebagaimana proses yang
    mengambil tempat di Jerman dan di Jepang berhubungan dengan norma
    klasik revolusi demokratik-borjuis, yaitu sebagai
    penyimpangan-penyimpangan yang muncul dari suatu jalan historis dari
    berbagai keadaan. Fenomena ini hanya dapat dimengerti terjadinya atas
    dasar kebuntuan komplit dari masyarakat-masyarakat tersebut (di mana
    terjadi bonapartisme proletar) dan kekosongan adanya revolusi di
    Dunia barat. Massa di negara-negara kolonial tidak dapat lebih lama
    lagi menunggu. Itu adalah penjelasan yang fundamental. Tetapi kita
    juga harus memasukkan ke dalam pertimbangan kita mengenai
    kepelikan-kepelikan yang spesifik dari negara-negara kolonial dan
    bekas jajahan, yang membuat negara-negara ini berbeda dari
    negara-negara yang maju akibat kapitalisme, dan oleh karena itu
    mengijinkan varian-varian rumit tertentu untuk terjadi, di mana
    varian-varian ini sebelumnya tidak dilihat oleh kaum klasik penganut
    Marxisme. Kami mengajukan tulisan ini secara khusus dalam
    hubungannnya dengan negara.

    Marxisme akan menjadi urusan yang sangat sederhana jika ia
    semata-mata cuma suatu masalah mengenai belajar di luar kepala soal
    formula-formula elementer yang diambil dari teks-teks klasik dan
    mengaplikasikan semua ini dalam suatu cara yang mekanis dan tanpa
    dipikirkan, lalu menerapkannya pada setiap jenis situasi. Metode
    dialektik menuntut bahwa kita mulai dari sebuah pertimbangan obyektif
    dari fenomena yang terjadi, membawa setiap kasus ke dalam
    kebenarannya dan melakukan peninjauan terhadapnya dari segala sudut
    pandang. Sebuah analisis yang serius mengenai negara-negara kolonial
    dan bekas kolonial membukakan adanya perbedaan-perbedaan besar antara
    negara-nagara ini dengan jenis negara yang ada dalam bangsa-bangsa
    kapitalis yang maju, serta perbedaan-perbedaan dengan negara-negara
    yang menyajikan model dasar bagi karya-karya klasik Engels dan Lenin.
    Negara-negara (jajahan dan bekas jajahan) ini telah diciptakan dan
    disempurnakan oleh kaum borjuis sebagai perangkat bagi
    aturan-aturannya. Pada setiap level, negara-negara ini dikelola oleh
    wakil-wakil setia yang dibentuk dan dilatih oleh kaum borjuis untuk
    melayani kepentingan-kepentingannya. Di atas semua itulah
    negara-negara industri maju dapat mengembangkan kekuatan-kekuatan
    produktif. Tetapi, negara-negara yang baru dibentuk di
    wilayah-wilayah tadi sepenuhnya beda dengan negara-negara yang telah
    diciptakan dan dikembangkan selama bergenerasi lamanya oleh kaum
    Borjuis di dunia Barat. Di tempat-tempat seperti Syria atau Burma
    masyarakat ini berada dalam sebuah kebuntuan, tidak dapat
    mengembangkan kekuatan-kekuatan produktif dan sepenuhnya berada dalam
    kekisruhan.

    Ini adalah satu dalil elementer mengenai Marxisme, bahwa negara
    bukanlah sebuah kekuatan independen. Ia harus merefleksikan
    kepentingan dari sebuah grup atau kelas di tengah masyarakat. Dalam
    masa-masa normal negara merefleksikan posisi kelas berkuasa. Tetapi
    dalam periode krisis dan ketidakstabilan sosial, pemerintah dan
    tentara terpecah dan bercerai-berai dalam sejumlah faksi.
    Negara-negara yang telah diciptakan di atas basis penolakan terhadap
    imperialisme, meskipen karakternya borjuis, amatlah lemah. Di
    negeri-negeri ini &endash;Burma Syria, Angola, Mozambik, Ethiopia,
    Somalia, Afghanistan, dan negara-negara lain yang mengacu pada
    Bonapartisme kaum proletar&emdash; negara tunduk kepada berbagai
    kudeta dan krisis terus-menerus. Dengan adanya kebuntuan rezim
    sepenuhnya dan kekosongan adanya revolusi di dunia Barat, serta
    contoh yang diperlihatkan Stalinisme, di mana pada tahap ini
    negeri-negeri tadi sedang membangun kekuatan-kekuatan produktif,
    menjadi sebuah kekuatan yang sangat menarik minat bagi
    lapisan-lapisan tertentu di tengah aparatus negara.

    Mengambil Cina yang terdorong oleh daya tarik Stalinisme sebagai
    contoh mengenai satu langkah maju bukan hanya terjadi di tengah massa
    yang terdiri dari kaum tani miskin di negara-negara yang dulunya
    berupa negara jajahan, tetapi juga terjadi pada bagian-bagian di
    jajaran aparatus negara di negeri-negeri tadi. Sejumlah negara-negara
    yang berada dalam situasi kolaps dan ancaman disintegrasi, bergerak
    dalam arahan menuju bonapartisme kaum proletar. Jajaran para pejabat
    bersandar pada kelas buruh dan kaum tani untuk mengadakan sebuah
    revolusi, untuk menumbangkan kapitalisme dan pertuantanahan. Mereka
    melihat Stalinisme sebagai sebuah rezim yang membawa masyarakat ke
    arah maju tetapi pada saat yang bersamaan memperbolehkan golongan
    birokratik mempunyai hak-hak istimewa dan menjalankan masyarakat. Ini
    adalah proses yang terjadi terutama di negara-negara kolonial yang
    paling terbelakang seperti Ethiopia, Angola, Afghanistan, dll; di
    mana kaum proletar adalah (dan masih) merupakan kelas yang sangat
    lemah atau bahkan hampir tidak eksis.

    Faktor penting lain dalam pergerakan menuju bonapartisme kaum
    proletar di seluruh negara-negara ini adalah terjadinya tendensi di
    seluruh dunia atas hal statisasi. Fenomena ini sudah diibahas oleh
    Engels, yang lebih merujuk "serbuan perekonomian kaum sosialis", dan
    kemudian oleh Lenin yang menggambarkan hal itu sebagai monopoli
    kapitalisme negara. Fakta bahwa kepemilikan pribadi atas alat-alat
    produksi telah mencapai limitasinya diekspresikan oleh kenyataan
    bahwa di semua negara-negara kapitalis sebagian besar perekonomian
    berada di tangan negara meskipun, tentu saja, elemen-elemen kunci,
    yaitu sektor-sektor yang paling menguntungkan, tetap berada di bawah
    penguasaan swasta. Sektor yang dikuasai negara tidak memainkan peran
    independen melainkan diadakan hanya sebagai perpanjangan tangan
    sektor swasta, bertugas menyediakan kepada kaum kapitalis: baja
    murah, listrik murah, batu bara murah, dll.

    Proses yang sama berlangsung di dunia ketiga, tidak semata di
    dalam rezim-rezim bonapartisme kaum proletar tetapi bahkan terjadi di
    negara-negara borjuis yang relatif lebih berkembang seperti
    Argentina, Meksiko, India, dll. Banyak pemimpin borjuis dari negara
    ini menyatakan diri sebagai "sosialis" (seperti Nasser di Mesir,
    Nyrere di Tannzania, Nehru di India dan Nkrumah di Ghana) dan
    melakukan nasionalisasi pada sebagian besar perekonomian. Dalam
    kasus-kasus sebagaimana terjadi di Syria, Ethiopia, dan yang lainnya,
    sebagian dari lapisan pejabat sebenarnya mengadakan proses menuju
    sebuah konklusi, bersandar kepada kelas buruh untuk melakukan
    penyitaan sepenuhnya terhadap borjuasi. Mereka mendirikan rezim di
    bawah bayang-bayang Moskow dan Beijing di mana di dalamnya
    kapitalisme dienyahkan tetapi kaum buruh ditaklukkan kepada sebuah
    tirani baru dalam bentuk rezim totalitarian dengan partai tunggal
    yang birokratis. Tentu saja, rezim-rezim yang demikian tidak
    mempunyai satupun ciri sosialisme atau bahkan ciri sebuah negara
    buruh yang sehat. Dalam setiap kasus di mana tugas-tugas historis
    dari satu kelas telah diadakan dengan cara yang didistorsi oleh kelas
    yang lain, selalu saja ada harga yang harus dibayar. Kami menjelaskan
    bahwa untuk melakukan kemajuan dalam arah sosialisme, sebuah revolusi
    baru akan diperlukan. Bukan sebuah revolusi sosial untuk membangun
    relasi-relasi kepemilikan yang baru (sebab hal ini sudah dilakukan),
    melainkan sebuah revolusi politis melawan kasta birokratik yang
    berkuasa dengan tujuan untuk mendirikan sebuah rezim demokrasi kaum
    buruh yang murni. Bagaimanapun juga, penghapusan kapitalisme dan
    pertuantanahan di negara-negara ini mempresentasikan adanya satu
    langkah maju dan sebuah guncangan melawan imperialisme dan, yang
    demikian ini, disambut baik oleh kaum Marxis.

    Dalam sebagian besar, jika tidak dalam semua kasus, Moskow dan
    Beijing tidak memainkan peran apapun. Lebih sering daripada tidak
    berperan apapun, mereka dilawan untuk menumbangkan kapitalisme dan
    mereka ini melakukan apa saja yang mereka bisa untuk menghalanginya.
    Partai Komunis Kuba mendukung Batista untuk melawan Castro.
    Belakangan birokrasi Rusia dan Kuba memberikan tekanan terhadap kaum
    sandinista untuk tidak melakukan pengambilalihan terhadap kapitalisme
    di Nikaragua. Tentu saja di manapun proses begitu terjadi, mereka
    (kaum birokrat itu) mengambil keuntungan darinya untuk memperkuat
    posisi mereka dalam berhadap-hadapan dengan imperialisme AS. Inilah
    juga kasus di Afghanistan, di mana para pejabat militer Stalinis
    mengadakan revolusi dari atas, tanpa referensi apapun ke Moskow.
    Birokrasi Rusia memiliki hubungan yang amat baik dengan rezim borjuis
    Doud di Kabul, dan bahkan siap mengorbankan Partai Komunis kepada
    rezim tersebut. Tetapi sekali revolusi merupakan sebuah kenyataan,
    mereka harus menerimanya.

    Kaum Imperialis merespon revolusi di Afghanistan dengan
    mempersenjatai dan membiayai kelompok-kelompok bandit dan gelandangan
    yang diupah untuk mengadakan perang melawan rezim yang baru. Jikalau
    yang disebut terakhir ini mengikuti kebijakan-kebijakan yang sama
    sebagaimana yang dilakukan kaum Bolshevik, mendasari diri mereka pada
    massa dalam perjuangan melawan imperialisme dan reaksi, bisa jadi
    mereka menang walaupun harus diingat bahwa dalam kondisi yang amat
    luar biasa terbelakang begitu bahkan sebuah negara buruh yang sehat
    akan menghadapi begitu banyak kesukaran. Adalah sangat perlu untuk
    memulainya secara bertahap dan dengan kehati-hatian yang sungguh,
    terutama pada permasalahan agama. Tetapi usaha untuk menyelinapkan
    perubahan masyarakat dari atas, dalam sebuah karakter birokratis yang
    terkontrol habis-habisan, terdorong oleh invasi Rusia dan pembersihan
    yang luar biasa besar serta lain-lain cara yang dihasilkannya, telah
    dengan fatal memperlemah revolusi saat berhadapan dengan jagal-jagal
    kekuatan kontra-revolusioner yang disokong oleh Amerika dan Pakistan.

    Sebuah proses serupa terjadi di Afrika, di mana kaum imperialis
    memperlengkapi pemerintah di Afrika selatan untuk menumbangkan
    rezim-rezim kaum Bonapartis proletar di Angola dan Mozambique.
    Sebagaimana di Afghanistan mereka mempersenjatai dan membiayai
    tentara bayaran yang kejam serta para bandit. Apa yang terjadi
    bukanlah perjuangan politis melainkan semata-mata mobilisasi
    "kekuatan-kekuatan hitam" untuk membunuh, membakar, memperkosa, dan
    melakukan penjarahan. Imperialisme tidak dapat mentoleransi
    keberadaan bahkan negara-negara buruh yang terdeformasi di jantung
    Afrika, sebab hal itu akan menjadi contoh bagi Afrika Selatan.
    Daripada melihat hal tersebut terjadi, kaum imperialis lebih suka
    membenamkan Angola, Mozambik, dan Afghanistan ke dalam abad
    kegelapan.

    APAKAH REZIM-REZIM BONAPARTISME PROLETAR YANG BARU BISA
    MUNGKIN?

    Mendasari diri kita pada analisis ini, apa yang menjadi
    kemungkinan bagi formasi rezim-rezim Bonapartisme proletar baru?
    Untuk menjawab masalah ini perlu memulainya dari
    perspektif-perspektif dunia secara menyeluruh. Tendensi seluruh dunia
    terhadap intervensi negara dalam bidang perekonomian telah berbalik
    setelah kemerosotan tahun 1974 dan berbelok menjadi lawannya,
    terutama sejak proses swastanisasi dimulai oleh Tacther di tahun
    1980-an. Hal ini merefleksikan kebuntuan kapitalisme pada skala dunia
    serta kebangkrutan dari model kuno Keynesianisme. Negara-negara
    kolonial secara luas telah dipaksa, melalui diktean dari IMF dan Bank
    Dunia, untuk "membuka" pasar mereka dan melakukan swastanisasi
    terhadap industri-industri nasional. Ini sungguh sebuah penjarahan
    terhadap negara-negara itu. Hal ini akan memiliki
    konsekuensi-konsekuensi berjangka panjang di periode yang akan
    datang. Mereka menciptakan sebuah bahasa yang baru keseluruhnya
    ("perampingan", "liberalisasi","pembukaan pasar", "perekonomian
    bebas", dll.) untuk menjadi bungkus yang menutupi apa yang
    sebenar-benarnya merupakan destruksi habis-haabisan terhadap
    kekuatan-kekuatan produktif dan pekerjaan. Ini mengingatkan orang
    pada "Bahasabaru dalam novel George Orwell, 1984, di mana Kementrian
    Kekayaan mengurusi pemiskinan, Kementrian Perdamaian adalah
    Kementrian Perang, dan Kementrian Cinta Kasih adalah polisi rahasia.

    Para advokat "pasar bebas" telah dengan baik sekali melupakan
    bahwa kapitalisme sesungguhnya berkembang berdasarkan basis benteng
    tarif yang tinggi. Di fase awal kapitalsme Inggris, kapitalisme
    bernaung di belakang benteng perdagangan biaya tinggi untuk
    mempertahankan industri-industri nasionalnya sendiri yang masih
    kintis-kinyis. Hanya ketika industrinya telah menjadi kuat maka kaum
    borjuis Inggris menjadi semacam advokat yang amat bernafsu mengenai
    "prinsip" perdagangan bebas. Ini sama persis dengan Perancis, Jerman,
    Amerika, Jepang, dan semua lainnya yang sekarang memohon-mohon adanya
    nilai perdagangan bebas kepada bangsa-bangsa di Afrika, Asia dan
    Amerika Latin. Tetapi proses ini menciptakan kontradiksi-kontradiksi
    baru. Golongan-golongan aparatus negara dan kaum borjuis nasional (di
    wilayah-wilayah tadi)