Melupakan Dendam
Penarikan buku itu, di satu sisi, mungkin tidak akan mempengaruhi hubungan antara AS dan Indonesia. Namun, di sisi lain, secara tidak langsung hal itu mengingatkan kita pada sebuah tragedi yang belum pernah diakui secara resmi: pembantaian dalam rangka penumpasan aktivis PKI dan organisasi massanya.
Padahal, korban yang jatuh saat itu luar biasa besar. Tim pencari fakta yang
sempat dibentuk Presiden Soekarno menyebut angka ribuan(laporan tim ini kemudian
terbenam seiring dengan naiknya pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto).
Sementara jurnalis asing yang berada di Jakarta waktu itu, memperkirakan nyaris
sejuta teas dalam "storm-king murders" (pembantaian di bawah lampu
petromaks). Terakhir, tersebut-sebut pula jumlah korban dalam "penumpasan
G-30-S/PKI" mencapai 500 ribu jiwa. Semuanya orang Indonesia.
Kekuatan mesin Orde Baru berhasil menyetip peristiwa itu dari sejarah Indonesia
sejak 1966. Dalam berbagai literatur kemudian, lebih sering tercantum pembantaian
yang dilakukan aktivis PKI terhadap lawan mereka di Madiun pada 1948, serta
pembunuhan tujuh pahlawan revolusi oleh pelaku G-30-S/PKI. Pembinasaan ke-500
ribu orang yang sempat membuat Sungai Bengawan Solo abu-abu akibat banyaknya
mayat, gelap. Apalagi, setelah MPRS menetapkan pembubaran PKI, mesin intelijen
tentara membungkam siapapun yang pernah berkaitan dengan PKI dan ormas-nya,
termasuk keluarga mereka, dengan stigmatisasi: eks tapol, eks PKI. Sehingga
mereka yang masih hidup pun sebenarnya sudah mati secara perdata.
Proses pengecapan itu, diyakini banyak pihak -termasuk Presiden Abdurrahman
Wahid- menyemaikan dendam berkarat yang mempersulit proses pemulihan keamanan
dan kebangsaan kita. Oleh sebab itu, ia sempat mengupayakan rekonsiliasi antara
pemerintah dan para korban itu. Bahkan, ia pernah meminta penghapusan TAP MPR
mengenai pelarangan komunisme.
Upayanya tak selesai. Wahid keburu diganti. Kini, kepada Presiden Megawati
Soekarnoputri kita berharap untuk menyelesaikan upaya rekonsiliasi ini. Jika
islah dengan para korban pembantaian PKI ini berhasil, maka paling tidak kita
bisa menjadikannya sebagai titik acuan dalam menghapus dendam berkarat lainnya
yang muncul dari Peristiwa Tanjungpriok, pembantaian di Aceh, konflik di Maluku,
dan yang lain-lain.

