Membaca Petani Revolusioner Produk PKI

Akibatnya, generasi baru banyak mendapatkan cerita tentang PKI yang bersifat tidak arif dan tidak kritis. Tampaknya visi inilah yang akan disampaikan Arbi Sanit dalam buku Badai Revolusi, Sketsa Kekuatan Politik PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ini.PKI pernah menjadi salah satu partai yang berpengaruh di Indonesia. Ketika muncul pada zaman Hindia Belanda sebagai Indische Social Demokratische Vereeniging (ISDV), Maring (nama samaran Sneevliet) mampu menggerakkan Perserikatan Buruh Kereta Api dan Trem (VSTP) menjadi organisasi yang berhaluan sosial dan bersikap revolusioner.

Saat PKI menerapkan politik infiltrasi dengan siasat "rangkap anggota" pada partai-partai besar seperti Syarikat Islam, PKI menunjukkan dirinya sebagai embrio komunisme dalam masyarakat Indonesia. Keberhasilan dicapai dengan persetujuan antara ISDV-SI (Syarikat Islam) di Yogyakarta yang akhirnya menelorkan Persatuan Pergerakan Kaum Buruh. Anggota organisasi ini sebagian besar dari buruh Central Syarikat Islam (CSI) Semarang.

Setelah kemerdekaan, PKI menduduki peringkat nomor dua dalam Pemilihan Dewan Perwakilan Provinsi (1957/1958), terutama di Jawa Tengah dan di Jawa Timur. Ini membuktikan partai ini mampu berkembang pesat dalam waktu yang relatif singkat.

Paham komunisme dapat diterima antusias di masyarakat agraris, di mana penduduknya mayoritas petani. Misalnya, di Jawa Tengah, PKI mendapatkan sokongan kesetiaan dari pedesaan di daerah Merapi-Merbabu dengan segitiga Sala-Boyolali dan Klaten. Kenyataan ini kontras dengan cikal bakal ajaran komunis yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat industri (buruh).
Memang, tidak dapat dipungkiri semenjak awal PKI banyak bergerak di kalangan petani. Orientasi itu tampak sangat jelas, ketika tampuk pimpinan dikendalikan oleh Muso dan DN Aidit.

Bagaimanapun juga, ini tidak terlepas dari upaya setiap pemimpin PKI dalam mengejawantahkan sinyal Lenin pada Kongres Ke-2 Komunis Internasional di Moskow. Lenin berpesan agar para pemimpin komunis menyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan istimewa dan hendaknya dapat menggunakan teori dan praktik pada keadaan-keadaan di mana masa pokok adalah petani (hlm 43).

***

MENURUT Arbi Sanit, ada tiga faktor yang kait mengait dan saling mendukung hingga PKI menjadi sebuah partai besar. Pertama, kecermatan dan kedisiplinan pelaksanaan program, taktik dan strategi partai. Kedua, keadaan struktur masyarakat pedesaan ketika PKI mulai berkembang. Ketiga, perubahan kultur pedesaan ketika terjadi benturan antara budaya Barat dengan budaya Timur.
PKI menyadari bahwa petani merupakan kelas yang menderita. Keadaan petani harus diubah dengan dipimpin kaum buruh mengoper kekuasaan di masyarakat dan negara dalam membangun masyarakat desa. Mereka "membaca" potensi struktur sosial desa yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung ideologi, dirumuskan lewat doktrin maupun taktik/ strategi. Petani Jawa yang pada dasarnya memiliki sifat pasif dimanipulasi untuk menjadi petani revolusioner.

Berdasar pada ajaran Marx, Lenin, atau Mao, PKI menilai bahwa petani berada pada kondisi semi kolonial dan semi feodal. Artinya, masyarakat petani belum bebas sama sekali dari ikatan penjajahan. Bahkan, petani masih terikat dengan perjanjian-perjanjian yang merugikan. Jadi, walaupun sudah merdeka secara politis, tetapi mereka belum memiliki tanah sesuai kehendak masing-masing (hlm 99).

Bertolak dari kenyataan ini, teori revolusi melihat kontradiksi-kontradiksi dalam masyarakat. Maka, PKI mengideologisasikan realitas ini dengan membagi masyarakat desa dalam dua kelas, yaitu kelas reaksioner dan kelas revolusioner.
Yang tergolong kelas reaksioner adalah tuan tanah, lintah darat, tukang ijon, tengkulak, kapitalis birokrat dan tani kaya.
Sedangkan kelas revolusioner meliputi tani sedang, tani miskin, pekerja kerajinan tangan dan pertukangan.

Aidit berpendapat bahwa kelas revolusioner selalu ditindas oleh kelas reaksioner, baik melalui milik maupun harta kekayaannya. Penghisapan inilah yang memunculkan militansi kelas tertindas itu, yang sekaligus digunakan untuk membalikkan keadaan menjadi menguntungkan bagi mereka.
Singkatnya, kebesaran PKI tidak terlepas dari dinamika struktur masyarakat pedesaan ketika ideologi komunisme masuk di Indonesia.

***

DI samping kekuatan dari struktur sosial, kekuatan kultur pedesaan dimanfaatkan pula oleh PKI. Secara kultural, terdapat kontradiksi dua kelompok dalam masyarakat, yaitu santri dengan abangan. Kedua pihak berebut pengaruh dalam masyarakat.
Realitas ini digunakan PKI untuk merebut golongan abangan baik sebagai pengurus maupun simpatisan partai. Dibandingkan golongan santri, golongan abangan lebih lemah dalam hal ideologi dan pengorganisasian. Maka PKI datang sebagai partner golongan abangan dalam melawan santri.
Peluang-peluang abangan bisa dimanfaatkan oleh PKI dalam mencari pendukungnya. Ada beberapa keuntungan yang didapatkan: golongan abangan tidak terikat oleh ideologi tertentu, dan kegandrungan mereka pada kebudayaan dapat dimanfaatkan untuk menanamkan ideologi dengan harapan tentang perbaikan hidup.

BUKU ini banyak mengisahkan tentang pasang surut PKI dalam menjalankan upayanya membumikan ideologi komunisme di Indonesia. Berbeda dengan cerita-cerita yang kita dengar selama ini, dengan mengambil setting di daerah pedesaan, Arbi Sanit berhasil menjelaskan secara ilmiah kontekstualisasi ideologi komunisme.
Karena itu, buku ini bukan sekadar pengetahuan doktrin atau antidoktrin saja, melainkan lebih mengungkap pada realitas sosial dan realitas politik yang pernah terjadi ketika PKI berjaya di Indonesia.