Menghitung Kerugian Ekonomis Tragedi 1965


syarikat - Posted on 14 April 2006

Sayangnya, masalah ini belum menggugah para ahli untuk membuat penelitian menyeluruh. Namun dari perjumpaan dan pengamatan Syarikat Indonesia dengan para  korban 1965 menunjukkan bahwa ketiadaan keadilan dan diskriminasi telah menyebabkan ribuan orang hidup miskin karena dihilangkan modal sosial-ekonominya, misalnya, kehilangan tanah sebagai sumber kehidupannya, kehilangan kesempatan meraih jenjang karir dalam profesi, tidak bisa bekerja lagi karena usia produktifnya telah dihabiskan di penjara, atau kemampuan fisiknya sangat berkurang akibat penyiksaan, atau terpaksa memikul beban ganda menjadi single parent bagi anak-anaknya karena suaminya terbunuh, atau hilang atau karena hidup secara vegetatif.

Saat ini sumber kehidupan para korban 1965 bertumpu pada pekerjaan tidak tetap seperti buruh  di pertanian, di sektor informal misalnya menjadi pedagang kelontong, penarik becak, warung makan, jasa pijat atau pengobatan alternatif, kerajinan tangan, dll. yang semuanya bernilai ekonomis sangat kecil.  Kemiskinan secara ekonomis ini mengakibatkan pula ketidakmampuan mereka dalam membiayai pendidikan anak-anaknya, merawat kesehatannya, atau tidak mempunyai perumahan yang layak.

Di tengah perekonomian Indonesia yang kapitalistik, hidup dalam “kemiskinan diskriminatif” itu orang bagaikan berdiri di tengah air bah, di mana air telah sampai di bibir mereka. Sedikit gelombang saja akan membuat mereka tenggelam. Perlakukan diskriminatif terhadap korban 1965-1966 dilihat dari sisi ekonomi memperlihatkan betapa orang-orang yang seharusnya memperoleh penghasilan yang layak (dan sama dengan warga Negara yang lain), menjadi tidak bisa memperoleh atau kehilangan penghasilan itu “hanya” karena mereka dianggap terlibat dalam kegiatan politik tertentu. Bahkan warga negara yang dibunuh juga oleh motivasi diskriminatif itu telah menghilangkan semua kemungkinan ekonomis mereka.

Kerugian ekonomis ini tidak hanya dialami oleh para korban. Masyarakat pada umumnya sebenarnya juga telah rugi akibat tidak terlayani kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Misalnya anak didik yang kehilangan guru karena ditahan. Pasien yang kehilangan akses kesehatan karena dokter dibuang di Pulau Buru atau Plantungan. Masyarakat pembaca sastra kehilangan karya sastra dari para penulis, seniman  dan sastrawan diasingkan. Dan sederet kerugian lain yang dialami masyarakat karena para professional, seperti petani, arsitek, pengusaha, perawat, politisi,  telah menjadi korban dari tindakan genosida dan kejatahan terhadap kemanusiaan yang terjadi pada 1965 hingga sekarang.

 

Pada tingkat ekonomi makro, kerugian ekonomis akibat tragedy 1965 akan menunjukkan angka yang  fantastis, karena korban berjumlah jutaan orang. Sebagai perbandingan, sebuah studi di AS memperkirakan bahwa kehilangan GDP 1988 karena diskriminasi rasial mencapai 4 % per tahun. Studi lain menunjukkan diskriminasi gender menghilangkan 3 % per tahun. Nominalnya, kedua bentuk diskriminasi tersebut telah mengurangi GDP lebih dari $ 500 milyar. Jika digabungkan lagi dengan diskriminasi karena disabilitas, dll. maka masyarakat Amerika kehilangan rata-rata $ 1,5 triliun per tahun.

Kajian mengenai dampak ekonomi akibat diskriminasi perlu mendapat perhatian serius, agar seluruh bangsa ini menyadari bahwa kerugian  akibat kekerasan dan diskriminasi tidak hanya dialami oleh para korban, melainkan juga dialami oleh kita semua.

April 2006