Murid pun Menggugat Sejarah
Mengenai peristiwa G30S/PKI, menurut Juliana, siswa SMU 8 Bukitduri, Jakarta, dalam buku penunjang mata pelajaran sejarah hanya dipaparkan peristiwanya dan siapa-siapa yang menjadi pimpinan PKI. Tidak ada penjelasan yang detail tentang peristiwa tersebut. Murid tinggal menghafal keterangan yang tertuang di buku.
Arno Disaputra, siswa kelas III IPS 2 SMU 70 Bulungan, Jakarta, mengatakan, peristiwa G30S/PKI yang terpapar dalam buku pelajaran sejarah justru menjadi bahan polemik yang dipertanyakan teman-teman sekelasnya.
"Perkembangan sejarah sekarang ini makin membuat saya ragu. Apalagi banyak tahanan politik (tapol) PKI yang dibebaskan. Kalau mereka dulu memang melakukan kesalahan, kenapa sekarang gampang banget dibebaskannya?" tanya Arno.
Senada dengan Juliana, menurut Arno, tokoh-tokoh PKI memang disebutkan dalam buku pelajaran sejarah. Akan tetapi, data itu dirasakannya kurang detail. Sebagai seorang murid yang belajar sejarah, dia ingin tahu bagaimana penangkapan dan proses peradilan tokoh-tokoh PKI itu.
Tubagus Iman W, siswa SMU 6 Jakarta mengungkapkan, "Saat Cawu I, materi pemberontakan PKI ramai dibahas. Teman-teman banyak yang bertanya, cerita sebenarnya bagaimana? Apa benar isu dewan jenderal itu?" kata Iman yang juga duduk di kelas tiga SMU.
"Sampai saat ini saya masih pengen tahu di mana naskah Supersemar yang asli. Yang tercetak di buku sejarah itu 'kan salinan dari buku 30 tahun Indonesia Merdeka. Namun, naskah yang asli 'kan nggak ada. Dokumen yang bisa mengubah suatu orde atau sejarah sebuah negeri, kok bisa hilang?" ucap Arno.
Sementara bagi Yuni dan Natalia Pattiasina, siswa SMK 2 PSKD Jakarta, persoalan Supersemar tidak terlalu dalam dibahas oleh gurunya. "Karena itu, soal Supersemar itu masih samar buat saya," kata Yuni.
***
BEREMBUSNYA hawa reformasi di republik ini, membuat siswa SMU makin melek politik. Rentetan pedih peristiwa politik yang mengguncang negeri ini merupakan pelajaran sejarah paling berharga buat mereka. Paling tidak, otomatis terekam dalam memori mereka tanpa harus bersusah payah menghafalkan jejeran tahun-tahun yang menjadikan mereka bak robot bernyawa. Hanya menghafal dan menghafal. Kini mereka adalah saksi sejarah.
Para siswa yang dulu membutakan diri terhadap realitas politik, sekarang kian kritis. Simak tuturan siswa SMU 70 Jakarta, Anggi dan Amanda. "Di kelas, penyimpangan-penyimpangan selama Orde Baru juga ditanyakan. Sejarahnya memang sudah ganti, tetapi bukunya 'kan belum. Itu yang kita tanyakan."
Sejarah integrasi Timor Timur (Timtim) pun menjadi satu sejarah yang membingungkan mereka. "Dalam buku yang kita pelajari diceritakan Timtim bergabung dengan Indonesia atas kemauan sendiri. Yang bikin saya bingung, kok sekarang mereka mau memisahkan diri dari Indonesia?" tanya Tubagus Iman.
Demikianlah pertanyaan demi pertanyaan akan terus dicecarkan. Tinggal bagaimana guru menyikapi lontaran pertanyaan tersebut. "Biasanya guru netral, mengambangkan persoalan atau mengalihkan bahasan. Kalau sudah begini kita jadi apatis," kata Arno.
Untuk para guru, kiranya dapat mengikuti langkah St Kartono, guru SMU Kolese de Britto, Yogyakarta, dalam mengajar sejarah. Kartono dalam artikelnya di Basis edisi 01-02/1999 (Januari-Februari), mengetengahkan upayanya membumikan pelajaran sejarah. Di salah satu kelas, Kartono menempelkan tiga koran edisi terbaru (14/11/98) tentang tragedi Semanggi berikut foto-fotonya. Tak ayal, para muridnya langsung merubungi koran itu. Dengan model pengajaran demikian, Kartono menghadirkan kenyataan sejarah kepada murid-muridnya. Dengan cara ini murid tak hanya menghafal buku teks, menghafal deretan angka, tahun kejadian, atau tokoh peristiwa sejarah.
Akhirnya, sebuah buku pelajaran sejarah diharapkan mampu menyajikan informasi seakurat mungkin, mampu menjawab rasa keingintahuan para murid. "Jangan sampai kita dikelabui buku sejarah," ucap Arno Disaputra. (ff)

