Napol PKI Ingin Luruskan Sejarah Orde Baru
Prosesi pelepasan itu dimulai pukul 20.00 WIB. Keempatnya harus mengucapkan
sumpah setia kepada Pancasila, UUD 1945, dan Ketetapan (Tap) MPR. Abdul Latief,
mantan Kolonel Angkatan Darat berdiri dengan gagah, berbaju putih dan berdasi
warna gelap. Tiga rekannya berdiri sejajar bersama-sama mengucapkan sumpah di
depan Kepala Kanwil Departemen Kehakiman DKI Jakarta Hasanuddin, yang mewakili
pemerintah, Kepala LP Cipinang Sobari, serta dua kuasa hukum napol Jhonson Panjaitan
dan Hendardi dari Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia
(PBHI).
Beberapa anggota keluarga empat napol itu dan mantan napol lain yang hadir
dalam prosesi pelepasan itu malah tampak mengusap airmata di pipi mereka. Mereka
tampak terharu. Sebaliknya, Abdul Latief atau tiga napol yang berusia antara
72-75 tahun itu tampak tabah, menahan haru.
Usai menandatangani berita acara pelepasan dan menerima salinan Keppres, keempat
napol G30S/PKI itu sah bebas. "Saya mau istirahat dulu," tutur Latief.
Dia juga belum memikirkan untuk terjun ke dunia politik. "Lihat keadaan.
Itu soal nanti," lanjutnya terbata-bata. Ia sejak tahun 1997 terkena stroke,
sehingga tidak dapat lancar bicara. Sambil duduk, Latief mengakui, selama di
penjara sudah membikin banyak tulisan, sebagai bagian untuk meluruskan sejarah.
Tulisan itu menyangkut perang gerilya di Yogyakarta, otobiografi, maupun buku
sekitar peristiwa G30S/ PKI.
Ketika ditanya apakah akan menjelaskan soal pertemuannya dengan mantan Pangkostrad
(waktu itu) Mayjen TNI Soeharto di Rumah Sakit Angkatan Darat, Latief berkata,
masalah itu sudah dijelaskan pada buku pembelaannya. Namun, Latief menyatakan,
kedekatannya hanya sebatas hubungan komandan tentara dengan anak buahnya saja.
"Siapa yang mengkudeta Bung Karno waktu itu? Kami atau mereka? Itu yang
tidak pernah bisa dibuktikan hingga kini, makanya kejelasan sejarah itu penting
sekali," katanya terbata-bata dan emosional.
Menurut dia, di dalam buku pembelaannya, usaha penjelasan kemelut seputar peristiwa
itu telah dilakukannya.
"Saya menolak dikatakan PKI, karena saya hanya prajurit yang menjalankan
perintah komandan. Saya ingin istirahat dulu, tetapi nanti ada keinginan untuk
meluruskan sejarah yang selama ini disajikan Orde Baru. Hal itu pasti saya lakukan,"
kata Latief yang menginginkannya direhabilitasi karena berkaitan dengan masa
depan anak cucunya yang tidak bisa mengecap perikehidupan lebih baik sehubungan
status orangtuanya itu.
Bungkus yang menjadi juru bicara keempat napol menambahkan, sebenarnya mereka
ingin menolak pemberian grasi. Mereka mau seluruh napol/tapol lain dibebaskan.
"Sebenarnya kami ingin menolak pemberian grasi ini. Namun atas dorongan
napol lain yang lebih muda, kami menerimanya," tegas Bungkus, mantan anggota
Angkatan Darat yang membaca pernyataan bersama mantan napol G30S/PKI tersebut.
Sama seperti Latief, mantan bintara Angkatan Darat itu berkata, sejarah mengenai
G30S/PKI yang selama ini diajarkan di sekolah dan dalam film lebih banyak tidak
benarnya. Ditegaskan, tidak ada proses penganiayaan yang luar biasa terhadap
para Pahlawan Revolusi. "Dalam film G30S/PKI yang benar hanya satu, yakni
para jenderal dimasukkan ke lubang. Tidak ada Gerwani dalam peristiwa itu,"
tandasnya.
Walau demikian, Bungkus mengakui belum tahu apakah akan menulis buku untuk
meluruskan sejarah. "Terus terang, kami ini seperti buta. Kami 'kan 33
tahun di sini. Jakarta kini sudah banyak berubah. Sebab itu, tolong kami untuk
bisa berbuat sesuatu...," ujarnya.
***
BERBEDA dengan kedua rekannya yang lebih banyak bicara sejarah, Asep Suryaman
dan Natanael Marsudi-mantan anggota Angkatan Udara, lebih banyak berbicara tentang
pribadinya. Bahkan, Asep tak bersedia bicara banyak saat ditanya wartawan. Dia
baru berbinar-binar sewaktu ditanya tentang kegiatannya selama di LP Cipinang.
"Saya di penjara memelihara ikan gurame. Ikan itu saya pelihara sejak
kecil sampai sebesar ini-sambil menunjukkan lengannya. Kini semua saya tinggalkan.
Saya membawa dua ekor untuk kenang-kenangan," papar Asep yang dijemput
me-nantu dan cucunya.
Selain Asep yang memelihara ikan, Latief mempunyai banyak ayam dan itik. Jumlahnya
sampai puluhan ekor. Unggas itu sebagian besar dipotongnya sebelum keluar dari
LP Cipinang. Dari pagi sampai malam napol G30S/ PKI itu memang berpesta dengan
sesama penghuni LP lain dengan makan daging ayam. "Masih ada beberapa ekor
ayam yang saya tinggalkan di sini. Biarlah ayam itu dipelihara teman-teman,"
tutur ayah enam anak itu.
Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) AM Fatwa menyambut gembira pembebasan para
napol. "Apa pun perbedaan politik dengan mereka yang dibebaskan itu, saya
pernah senasib sekian lama dengan mereka, termasuk Abdul Latief, Bungkus, dan
Asep Suryaman," ujarnya di Istana Merdeka, Kamis.
Seorang anak Latief, Widodo TS, juga merasa lega, karena ayahnya kini bebas.
Pengucapan sumpah, baginya tak perlu dipersoalkan. "Tiga puluh tiga tahun
kami berpisah. Kini saya bergembira, sebab keluarga bisa berkumpul kembali,"
katanya. (bb/osd/dis/oki/tra)

