NU dan Arus Peristiwa

Derasnya arus peristiwa dan dominasiOrde Baru atas “kebenaran” peristiwa itu, seakan membenarkan pemikiran untukmenggeneralisasi respon peristiwa yang dilakukan oleh berbagai elemen bangsa.Asumsi dasarnya bahwa organisasi atau kelompok masyarakat mana pun saat itutidak mampu untuk keluar dari mainstreem respon politik yang dikomandoni olehSoeharto beserta Kostrad sebagai pasukan intinya. Pergerakan kesatuan Kostradpimpinan Sarwo Edhi dari Jakarta ke timur, tidak hanya mampu menyeragamkanpemahaman dan reaksi atas Gerakan 30 September 1965, bahkan mampu menciptakanparamiliter dari berbagai organisasi partai dan kemasyarakatan di kalangansipil untuk menjadi kesatuan ketiga[2] bagipenghancuran terhadap “orang-orang PKI”[3].

Tulisan ini akan membatasi diriuntuk melihat NU, sebagai satu elemen penting di dalam kancah kekerasan politikdan politik kekerasan di tahun 1965 itu[4].Sebagaimana telah ditulis oleh banyak ahli, NU adalah unsur penting di dalamera NASAKOM di bawah rezim Soekarno. Tetapi setelah peristiwa G 30 S, NUmenjadi kelompok penting yang menghancurkan PKI. Di ranah elit NU, tidak lamasetelah peristiwa G 30 S dengan terjadinya pembunuhan terhadap para perwira ADdi dini hari 1 Oktober, memang terjadi pergeseran kepemimpinan, secara defacto. Para elit NU yang sebelum peristiwa G 30 S terkenal dekat dengan(kebijakan) Soekarno, menghilang dan diganti oleh elit NU yang justru cenderungtidak sejalan dengan (kebijakan) Soekarno.[5] Akibatnya, dimulai dari pernyataan 5 Oktober yang disampaikan NU yang menuntutpembubaran atas PKI, kesimpangsiuran berita, gerakan AH. Nasution keliling kepesantren-pesantren dan mobilisasi massa pasca kedatangan Kostrad ke berbagaidaerah, sejak itulah NU berlumuran darah. Bagaimana kisah NU di daerah? Jikaorganisasi pusat dan daerah tidak dapat keluar dari mainstream respon atas G 30S, bagaimana dengan kiai dan warga NU di daerah? Bagaimana kondisi saat ituberpengaruh terhadap isu transitional justice dan agenda rekonsiliasipasca Soeharto lengser keprabon?

NUdan Aswaja

Merujuk pada sejarah pendirianorganisasi sosial-keagamaan NU pada tahun 1926, NU difahami merupakan akumulasidari tiga varian kebangkitan kaum pesantren. Varian pertama bercorak pemikiranyang termanifestasikan dalam Tashwirul Afkar’, satu kelompok diskusiyang didirikan pada tahun 1918. Varian kedua bercorak gerakan ekonomi yangtermanifestasikan di dalam kelompok Nahdlatuttujjar’, yang didirikanpada tahun 1918. Sedang varian ketiga berupa pergerakan yang lebih mengakar dibidang pendidikan dengan kelompok Nahdlatul Wathan’, yang dibentuk padatahun 1916. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari umur Nahdlatul Wathan yanglebih panjang dibanding dua yang lainnya.

Sejak didirikannya pada tahun 1926[6],NU sebagai organisasi sosial-keagamaan yang besar, memiliki dua aspek penting,yakni aspek doktrin dan aspek tradisi.[7] Duaaspek di dalam NU tersebut berjalan sebagaimana doktrin Islam, dan tradisiumumnya masyarakat muslim. Dalam aspek doktrin, NU dibangun atas pemahaman madzhab Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja).[8] Secara fundamental, doktrin aswaja (--dipertahankan untuk--) selalu menjadidasar bagi aspek tradisi NU dan perilaku social-budaya-keagamaannya yangberkembang di kalangan warga NU menjadi kebiasaan yang khas, dari tahlilan sampai sikap dan tingkah laku berpolitik yang khas.[9] Adagiumnya adalah menjaga yang lama yang bagus dan mengambil yang baru yanglebih bagus. Meski pada akhirnya juga sulit untuk memberi batasan khususterhadap satu tradisi atas tradisi lainnya, tanpa menyadari adanya kemungkinanproses saling mempengaruhi di antaranya.[10]

Di satu sisi, aswaja dapat menjadibatasan organisatoris bagi NU. Tetapi di sisi lain, jika dirujukkan padasejarah pertumbuhan dan perkembangan khazanah keislaman di Timur Tengah[11] sebagaimana difahami sejal awal penetapannya bagi asas NU, Aswaja menjadi satuidentitas yang tak berbatas. Aswaja yang ditujukan sebagai batasan pemahaman,juga mencakup keragaman pemahaman ajaran keagamaan Islam yang sangat luas darikeragaman pendapat di kalangan para imam sampai keragaman pandangan murid-muriddari para imam, bahkan sampai munculnya upaya proses intepretasi danreintepretasi hingga kini.[12]

Arti kata, Aswaja sebagai satudoktrin di dalam NU memiliki ruang pemaknaan dan penafsiran yang tak terbatas,tergantung di mana konteks ke-NU-an bergerak. Perkembangan doktrin keorganisasianNU juga berhubungan langsung dengan tradisi masyarakat NU, yakni masyarakatyang meyakini diri mereka selalu berpegangan pada Aswaja dalam paham danpraktek keagamaanya.[13]

Hal di atas menjelaskan bagaimanaaspek sosial-politik dan sosial-kultural NU mencakup keseluruhan kompleksitasjagadnya. Dapat dilihat, misalnya perkembangan kontemporer NU. Satu ujung,aspek organisasi NU dapat bergerak sejalan dengan tradisi “berNU” warganya,semantara di ujung lain dengan pikiran yang paling ekstrim pun, --misalnyaorganisasi NU formal bubar--, tidaklah serta merta akan menjadi kepastian akanbubarnya tradisi “berNU” di kalangan warganya.

Konteks bagaimana dinamisnya ruangmemahami doktrin, melakukan intepretasi dan melangsungkan tradisi yangmembentuk paham dan praktek (berorganisasi sosial-) keagamaan di dalam NUinilah yang memberikan kemungkinan untuk terjadinya keragaman tipologi‘orang-orang’ NU, sepanjang tipologi orang-orang NU itu satu sama lainnyadipengaruhi oleh pendidikan --formal dan non formal--, keluarga, informasi danlainnya di dalam definisi lingkungan yang seluas-luasnya. Terlebih penting lagidi sini adalah bagaimana lingkungan oleh orang-orang ini dipersepsikan, baikorang itu adalah mereka yang berpengaruh bagi policy organiasasi, maupun berpengaruhterhadap pemahaman umum sekitarnya. Hal ini pula yang kiranya langsung maupuntidak langsung menjadi latar bagi pembentukan karakter dan perkembangan NU,termasuk pilihan NU untuk mengeluarkan pernyataan 5 Oktober setelahbergandengtanggan dengan PKI di NASAKOM, ataupun sebelumnya keputusan NU ditahun 1952 untuk keluar dari Masyumi dan mendirikan PNU setelah sejak 1926 NUbanyak bergerak di bidang sosial-pendidikan-keagamaan.[14]

Keragaman tipologi orang-orang NUdapat dilihat sebagai salah satu hal penting yang melatari terbentuknya reaksidan respon NU atas peristiwa tragedi 1965-66. Hipotesisnya adalah persepsi yangberbeda atas doktrin Aswaja dan tradisi NU, dan persepsi yang berbeda atasrealitas sosial-ekonomi-politik saat itu menyebabkan muculnya respon dan sikapyang berbeda atas peristiwa tragedi 1965-66. Dapat ditemukan beberapa tokoh NUyang sangat kuat karakternya sehingga sangat independent di dalam arusmainstream perubahan, atau bahkan menantang arus mainstream. Meskipun daripaparan kisah-kisah di bawah nanti akan terjelaskan bahwa aspek structurallebih dominan. Keragaman respon itu tampaknya juga berlaku terbalik di dalammempengaruhi respon atas isu transitional justice dan agendarekonsiliasi dan rehabilitasi masyarakat korban tragedy 1965-66.

Orang-orang NU di dalam Arus Peristiwa 1965-66

Kisah politisi radikal [15]

Haji Ahmad[16] lahir tahun 1919. Jabatannya pada masa peristiwa 1965-66 terjadi sebagai KetuaTanfidziyah PCNU. Bapaknya bernama Raden Bagus, dari trah MataramJogjakarta sampai Kiai Mojo, kerabat dekat Pangeran Diponegoro. Bapaknyaberpindah-pindah pesantren dan pernah nyantri di Lirboyo Kediri, teruske timur hingga tinggal di Blambangan.

Haji Ahmad mengaku bahwa didikanayahnya sangatlah keras. Pernah Haji Ahmad dimasukkan ke Sekolah Rakyat. Tetapitidak lama, diusir oleh gurunya. Akibatnya, tiap malam Jum’at Haji Ahmad harushafal dziba’ di luar kepala. Kisahnya, di Sekolah Rakyat gurunya bernamaRomo Sastro. Non muslim. Orangnya pandai tetapi ngingu anjing yangselalu ikut ke sekolah. Haji Ahmad kebetulan murid yang tidak rewel, pendiemhingga duduk di bangku depan. Jum’at itu, kenang Haji Ahmad, merasa mengantukdan tidak tahu, tiba-tiba anjing Romo Sastro, entah bagaimana, berjalan kearahnya. Karena takut, anjing itu dilempar, tetapi lemparan itu justru mengenaiRomo Sastro hingga terjatuh. Haji Ahmad lari ke luar dan tidak pernah kembalisekolah lagi, dan hanya belajar dengan ayahnya di madrasah.

Haji Ahmad ingin mondok diPesantren Tebuireng di Jombang. Tetapi ayahnya hanya janji-janji. Haji Ahmadjengkel. Kalung emas keponakannya yang kecil dicuri untuk digadaikan, dan minggat menuju pak dhe-nya di Jember yang justru mendukungnya untukmeneruskan perjalanan mondok ke Tebuireng. Sendirian di Tebuireng, Haji Ahmadtinggal dengan Mohamad Sholeh, anak orang kaya. Haji Ahmad ikut meladeninyamenyucikan baju dan masak. Waktu itu, Haji Ahmad berumur 14-an tahun di saatpengasuh pesantren Tebuireng adalah Hadlratusysyaikh Hasyim Asy’ari.

Karena aturan belajar yang keras danhati yang telah goncang karena tidak betah di Tebuireng, Haji Ahmad pindah keSolo mengikuti tamu Hadlratusysyekh, pemuda lulusan Mesir yang sowan dan bermalam di kamar Haji Ahmad. Pemuda itu mendirikan madrasah alarabiyyah al islamiyyah di Solo. Tahun kira-kira 1932, Haji Ahmad pindah keSolo ke madrasahnya sang ustadz di Solo, sambil mengaji di pesantren KeprabonWetan, dengan Romo Kiai Masyhud. Satu tahun berjalan sampai akhirnya ada anakBanyuwangi yang mondok di sana. Melaluinya, Haji Ahmad hanya nitip, jika pulangtemuilah kepala KUA di sana, itu bapakku, Kiai Bagus namanya, sampaikan salam.Sejak itu pula Haji Ahmad berhubungan kembali dengan bapaknya, dikirimi koper,bantal, tikar dan uang tiap bulan 5 rupiah. Sejak pulang dari Solo keBlambangan kira-kira tahun 1936, Haji Ahmad menjadi anggota Ansor dan kemudianterpilih menjadi ketua Ansor Cabang Blambangan, dan dalam konferensi Cabangterpilih menjadi ketua Cabang NU Blambangan.

Pada tahun 1962-63 hubungan NUBlambangan dan NU Banyuwangi memburuk. Konflik berpuncak pada tahun 1964 karenaorang-orang NU Banyuwangi mendukung calon Bupati Banyuwangi yang diajukan olehPKI, yang bernama Suharso Hanafi, SH, kepala Kejaksaan Banyuwangi.[17] Bagi NU Blambangan, karena di dalam AD/ART NU ada ketentuan bahwa jikalau didalam satu kabupaten ada dua cabang, maka politik keluar atau sikap keluarnyaharus satu. Menurut Haji Ahmad, pada waktu itu, NU Banyuwangi telah terkena gelembok orang-orang politik lain.

Sewaktu pemilihan bupati, PKIpengaruhnya besar sekali. Juga karena masih di bawah Bung Karno, akan diangkatbupati calon dari PKI. NU Cabang Banyuwangi setuju. Tidak jelas pertimbangannyaapa[18],tetapi yang menurut Haji Ahmad positif bahwa Haji Ahmad tidak terdorong padaitu, dan masih ingat bahwa PKI itu musuh Islam. PKI itu tidak mengakui adanyaTuhan. PKI itu berpendirian bahwa agama itu opium masyarakat, candu.Lalu Haji Ahmad menuduh NU Banyuwangi melanggar reglement NU, dangeger-geger dimulai. Masyarakat Banyuwangi seluruhnya terpengaruh, dan ikutpernyataan Pimpinan NU Cabang Blambangan. NU kelompok Haji Ahmad akhirnyamencalonkan Joko Supa’at Slamet, Dandim 825, untuk menjadi calon BupatiBanyuwangi, tetapi kalah di dalam pemilihan karena ada dua suara DPD NU yangmembelot mendukung Suharso Hanafi, SH.

Kekalahan di dalam pencalonan bupatiberubah menjadi demontrasi massa. “Tetapi PKI memang hebat, komentarHaji Ahmad. Haji Ahmad dipanggil oleh Pengurus Besar NU, sebab mengadakandemonstrasi. “Barangkali itu awwalu demontrasi di Indonesia.Masyaallah besarnya, kata Haji Ahmad, “hingga tidak dapat melantikbupati terpilih yang dari PKI. Mejanya disileti oleh anak-anak yang demo.Haji Ahmad mengaku juga main mata dengan komandan korem, hingga ABRI tidak adayang bertindak. Hanya pesen jangan merusak, sudah, tidak ada satu tempatpun yang bisa diduduki karena telah diduduki anak-anak yang demo. Gubernur jugatidak dapat ke bupati, dan akhirnya mencari Haji Ahmad yang bersembunyi. HajiAhmad dipanggil, untungnya ada aturan. Bung Karno memang pemimpin yang baik,berkirim surat ke PBNU, “tolong itu dipanggil anak buah sampaean pengurus NUBanyuwangi, Ahmad-Ahmad namanya.

Haji Ahmad dipanggil PBNU dan menghadap Pak KiaiDahlan, di Jl. Jawa nomor 11.

Lan, saya ini dipanggil kenapa?, tanyaHaji Ahmad.

Saudara ini lo, kok saya tidak ngerti, dimana-mana ngaco. Di Bawean sampean ngaco, di Surabaya ngaco, sekarang diBanyuwangi ngaco.

Lo yang saya kaco apa? Apa NU itu bukanpengaco? NU itu pengaco terhadap orang-orang yang tidak setuju NU, terhadapgerakan-gerakan yang lain dari pada NU. NU pasti menjadi pengaco, menjadirivalnya. Kata sampean, PKI itu harus dihantam. Saya hantam malah nyeneni saya. Itu gimana?.

Ya sampean kesusu-susu.

Kesusu-susu gimana? Kesempatan itu tidak bolehdilewatkan. Mumpung kesempatan.

Ya, tapi ini akibatnya ada panggilan ini dariBung Karno soal sampean ini. Untung diserahkan ke PB, kalo tidak sampean bisadihukum.

Biar pak, saya ridlo ikhlas dihukum, robbisijny ahabbu ilayya mimma yad’unani ilaih. Itu saya. Wailla tasrif ‘annykaidahunn, seperti dikatakan Yusuf dari pada terpengaruh sama setanperempuan. Saya rela dihukum dari pada terpengaruh oleh orang PKI.

Bisa saja saudara ini .

Artinya saya terus. Berapa hari di sini pak?Diapakan saya ini? Kalo ndak, saya pulang”.

Ya sudahlah, saudara pulang. Disangoni 25 ribu, Haji Ahmad bilang, “pakuang 25 ribu itu kalo saya minta sama anggota NU perorang 1 rupiah saja,barangkali jutaan rupiah pak. Kok ini 25 ribu, padahal saya ke sini ini hutang,mau saya kembalikan bagaimana?. Haji Ahmad menyatakan ke Pak Dahlan,hingga dikasih 250 ribu, “ha...ha...ha... alhamdulillah, saya mampirke Surabaya untuk beli kain untuk istri saya. Karena itu juga hubungan sayadengan pak Dahlan baik. Lalu ada bentukan DPRD Gotong Royong Daerah Sementara[19],saya terpilih menjadi ketuanya dan nongkrong menjadi orang besar saya. KetuaDPRD itu kan orang besar, mendapat mobil jelek saya tolak. Ndak mau, mobilnyaharus cocok. Bagus. Kasih nomor mobil, saya tolak. Saya mau nomor 9. Jadi P 9,terang mobil saya. Fanatik saya sama NU. Walaupun sekarang ini saya sama NUtidak begitu seneng. Sekarang lo ya, karena kebijakannya yang saya kurangcocok. Lalu ada pemilu 71 saya diangkat menjadi anggota DPR pusat, 6 tahun sayadi sana, sehingga cukupan lah pensiunan saya. Jadi saya ini akibat NU, akibatperjuangan dihidupi sampai sekarang. Saya tidak punya apa-apa kok selainpensiun. Tetapi pensiun saya itu diberi oleh Tuhan cukup, lawong 3 jutalebih tiap bulan.

Demonstrasi berhenti dan gagal.Tetapi Haji Ahmad mengaku ada jarak waktu perjanjiannya antara Haji Ahmad danPak Dahlan. Suharso Hanafi, SH dilantik dan menjabat sebagai Bupati sampaiakhirnya peristiwa politik 1965 terjadi di Jakarta. Suasana politik diBanyuwangi bergolak kembali. Agitrasi-provokasi, mobilisasi, berujung padapertempuran sipil dan pengganyangan massa yang cepat[20].Berkaitan posisi bupati mucul kembali demo besar-besaran, hingga bupati SuharsoHanafi “diamankan”, dibawa ke kantor polisi dan dari kantor polisi olehanggota-anggota Kodim dibawa ke Malang, lalu dieksekusi. Selama vacumm pimpinanpemerintahan daerah, sementara dipimpin oleh Badan Pelaksana Harian (BPH) dariNU, sampai di saat Haji Ahmad menjadi ketua DPRD, dengan alasan karena tempatBanyuwangi itu terirorialnya cukup membutuhkan tentara yang paham strategis,maka diusulkan supaya Joko Supa’at Slamet, Dandim 825, diangkat menjadi bupatidan disetujui.[21]

Sebagaimana diketahui, setelahperistiwa politik 1965 ABRI merupakan salah satu golongan penting yangmenentukan. Sehingga karena itu pula pengangkatan Joko Supa’at Slamet sebagaibupati menjadi urusan yang mudah, apalagi dikabarkan bahwa Korem Malang[22] dan “pusat” mendukung.

Haji Ahmad sebagai ketua DPRD danJoko Supa’at Slamet sebagai bupati berhubungan baik, hingga karena kasus tanahbekas pemerintahan Jepang di tahun-tahun menjelang tahun 1970an, keduanyaberseteru. Sebagai wakil rakyat, DPRD berinisiatif untuk membentuk satu badanyang namanya tim checking laporan rakyat, untuk menyelidiki keadaanBanyuwangi. Beberapa laporan masuk, yang perlu dichecking oleh DPRD ituternyata merupakan kesalahan bupati. Dulu tanah-tanah yang bekas pemerintahanJepang diserahkan kepada rakyat dan digarap oleh rakyat dan sudah tinggi,kelapanya sudah berbuah, tahu-tahu oleh bupati dicabut kembali dengan alasanini tanah Jepang. Ini bukan milik rakyat. Prakteknya setelah itu tanahdibagi-bagi ke kalangan para pejabat. Sekian hektar untuk pak Joko, sekian pakSlamet, dan sekian pak Supa’at. Padahal namanya itu Joko Supa’at Slamet.Semuanya diketahui. Bukan hanya itu, tanah-tanah juga diberikan ke seluruhkawedanan, termasuk camat-camat.

DPRD mempermasalahkan tindakanbupati dengan berpegang dengan satu SKB antara menteri pertanian dan menteriagraria yang salah satu keputusannya adalah bahwa tanah-tanah yang sudahdiberikan oleh pemerintan pendudukan Jepang kepada rakyat menjadi haknyarakyat. Rakyat bungah. Mereka datang ke rumah Haji Ahmad dan berterimakasih dengan membawa kacang, pepaya, kelapa dan seterusnya. Tetapi Joko Supa’atSlamet dendam hingga tahun 1976-an mempermasalahkan kembali dan dengan dibantuKopkamtib di era Soedomo dapat memenjarakan Haji Ahmad di saat masih di DPR.Sampai akhir hanyatnya Haji Ahmad menjadi politisi PPP.

Kisah Kiai Pegawai yang Aktifis[23]

Sampai kini (2005), Kiai Mansur[24] adalah orang penting di NU Boyolali. Pada saat 1965 terjadi Kiai berumur 32tahun, pegawai Kota Boyolali dan menjadi pengurus LP. Ma’arif Boyolali. Sempatmenjadi anggota DPRD, tetapi di saat NU bergabung di dalam PPP, Kiai memilihmengundurkan diri, dan kembali menjadi pegawai dan aktif di LP. Ma’arif.Pendidikan Kiai hanya di pesantren, dari Lasem dan di pesantren ayahnyasendiri.

Pada saat itu, Kiai mengaku tidaktahu pasti apa yang terjadi. Hanya terdengar kabar dari radio bahwa di Jakartaada pemberontakan. Di Boyolali saat itu, hanya Bapak Dimyati, ketua PNU saatitu, yang memiliki Radio. Istri Kiai kerabat Bapak Dimyati, teman YasirHadibroto, Dandim Boyolali yang menembak Aidit, Ketua CC PKI. Seringkali,malam-malam Kiai meninggalkan rumah hanya karena ingin mendengarkan radio dirumah Dimyati.

Di Boyolali waktu itu PKI kuat.Bupati Suali dari PKI. Ketika Katamso di Yogyakarta dibunuh, Suali mengajakDimyati dan Mulyono, ketua PNI untuk berta’ziyah. Tetapi mereka menolak.Penjelasan Kiai, sebab kemungkinan dengan alasan berta’ziah Dimyati dan Mulyonoakan dibunuh. Ketua DPRD Boyolali juga mengadakan wayangan di rumahnya. Dimyatidan Mulyono diundang untuk jagongan wayangan. Tetapi tetap tidak datang.Padahal rumah mereka berhadap-hadapan, selatan masjid dan utara masjid. Paginyaada berita bahwa untuk empat orang, termasuk Dimyati dan Mulyono, sudahdisiapkan lubang di belakang rumah. Rencananya, malam berbarengan menontonwayang akan diracun dan dimasukkan ke lubang. Kiai menekankan bahwa memanggencar kabar bahwa orang-orang penting yang anti PKI akan dibunuh.

Pada malam wayangan itu, RPKAD jugasudah datang dan ndongkrok’i wayangan. RPKAD juga melatih pemuda dariBanser NU, Kokam Muhammadiyah dan Marhaen PNI. Suasana Boyolali semakin gentingsetelah peristiwa puluhan Ansor terbunuh di Kemusu, satu daerah “basis merah”.Bahkan karena peristiwa itu, banyak orang-orang NU mengungsi ke rumah Dimyati.Para pemuda yang dilatih pun ngetutke RPKAD untuk pembersihan PKI.Bupati Suali melarikan diri. Ketua DPRD juga lari, kabarnya ke Kemusu. “…mentalSuali memang hebat, tabah, komentar Kiai. Sewaktu tertangkap dan diarakkeliling kota, tangannya dibondo, tetapi masih gagah dan melambaikantangan.

Pertempuran antar orang kampung jugaterjadi. Bahkan lebih kejam, menggunakan senjata panah. Banser dan Kokam diberisenjata, dipimpin oleh ketua Ansor saat itu. Pernah satu malam kelompok dariPKI akan masuk kota melalui jalan selatan rumah sakit umum. Kebetulan ada anakAnsor yang senjatanya tidak berbunyi dan digedhokke ke tanah...dor...berbunyi...eeh…kelompokPKI itu lari. Padahal tidak sengaja dan tidak tahu. PKInya tidak jadi masukkota.

Tetapi sikap ketua Ansor saat itusangat baik. “Pokoknya kalau tidak dibunuh jangan membunuh, begituprinsipnya. Setelah banyak orang ditangkap, Kiai juga sempat dijadikan anggotatim litsus. Semua golongan diminta. Dari Muhammadiyah, Masyumi, PNI, IPKI dandari PNU, diminta wakilnya untuk menentukan siapa-siapa yang akan dieksekusi.Tetapi Kiai mengaku tidak mau dan tidak mampu untuk menunjuk siapa haruseksekusi. Kata Kiai, “takut kalau-kalau salah”. Kiai ragu-ragu. PKImemang PKI. Kiai tahu itu. Tetapi apa sudah semestinya dibunuh?

Berat sekali keputusan seseorangharus dibunuh. Sebab tanggungjawabnya sampai dunia-akhirat. Kiai tidak berani,dan hanya mampu mengikuti tiga kali pertemuan. Tetapi, selain Kiai ada jugaorang-orang NU yang betul-betul berani membunuh, bahkan menyembelih denganpedang. Mereka yakin bahwa PKI melawan agama. Terutama mereka yang masih kuat ingatannyaatas kejadian Madiun 1948.[25]

Setelah tim diberi daftar daritentara, memang dimusyawarahkan dengan partai-partai selain PKI. Rapatinformal, “ono daftar wong, trus ki piye ki, pati ra?. Tetapi Kiaimengaku bahwa situasinya saat itu tiada lain kecuali PKI salah. Pokoknya PKIsalah. “Pokoke niku, kata Kiai. Beda dengan sekarang. Orang sudah dapatberpikir jernih, apakah PKI benar salah? Apakah PKI akan menguasai pemerintahanseperti di Madiun dulu? Apa PKI diprofokasi?

Setelah bupati Suali hilang, kepemimpinandiganti oleh Dandim. Sedang Dandimnya sendiri diganti orang baru, sampai pemilu1971. Pada tahun menjelang pemilu 1971, ada pertemuan NU Jawa Tengah diSemarang. Kiai datang dengan ketua Ansor. Waktu itu sudah diprediksikan bahwapemilu 1971 nanti akan ada pemaksaan dari penguasa. Ini dengan melihat keadaansaat itu bahwa tentara berkuasa. Dan biasanya orang itu kalau sudah berkuasaitu tidak mau diturunkan. Dan ternyata benar. NU digebuki. Apalagi eks PKI,korban G30S.

Berkaitan agenda rekonsiliasi, Kiaimenyatakan sekarang sudah saatnya. Yang berdosa kemarin ya sudah.Sekarang ya sekarang tidak terus sekalian anak-anak dikait-kaitkan. “Aku kiyo wis tuo, duso iki. Na koyo NU yo ora iso opo-opo. Nyatane anake ora isokerjo...”, demikian kata Kiai. TAP MPRS pun perlu dicabut. Menurut Kiai,ajaran-ajaran komunis itu juga ada perlunya dipelajari. Sebab Islam juga adasinggungannya di bidang masalah sosialnya. Cuma hal pemaksaan itu yang mungkinperlu dikaji ulang.

Kisah Kiai Sufi[26]

Gus Muda dari eks Karesidenan KeduJawa Tengah bercerita tentang ayahnya, Kiai Kamil[27],dan keluarganya. Meski Gus Muda lahir setelah tahun 1965 dan tidak “menangitragedy 1965-66, tetapi peristiwa politik dan tragedy kemanusiaan 1965 tidaklahasing dan dekat dengan diri dan keluarganya. Gus Muda berkisah, “Waktu itu,ayah saya, kiai pesantren di desa. Ketika peristiwa 1965-66 terjadi, kiaimenyelamatkan beberapa orang yang dikejar-kejar akan dibunuh karena dituduh PKIdan menyembunyikan mereka di dalam pesantren ayah saya. Mereka selamat, meskipesantren ayah waktu itu menjadi gunjingan banyak orang bahwa pesantren ayahadalah pesantrennya orang PKI!”.

Menurut Gus Muda, Kiai melakukan itukarena dua prinsip yang dipeganginya. Pertama Kiai sangat takut fitnah diantara manusia dan akan menghancurkan misi Islam agar menjadi rahmatan lilalamin. Kedua Kiai haqqul yaqin menyadari bahwa kekerasan tidak akanmenyelesaikan masalah, tetapi justru akan melanggengkan dan membesarkanmasalah. “Karena kedua prinsip itu, ayah saya menyelamatkan mereka. Sampaisekarang keluarga mereka masih bersaudara dengan keluarga kami khususnya dankeluarga besar pesantren pada umumnya. Ibu saya mengajari saya memanggil merekadengan pak dhe dan bu dhe.

Kisah eksekutor [28]

Sebut saja namanya Rauf. PendidikanRauf sampai SR. Rauf mantan anggota Sipur tahun 1957, dan ikut menumpas DI/TIIKartosuwiryo. Pada saat peristiwa 1965 terjadi, Rauf baru masuk Islam, pindahdari Jakarta ke Jepara sampai akhirnya menjadi anggota Banser/Ansor.

Rauf mengaku bahwa kejadian diJakarta telah menciptakan ketegangan yang hebat di Jepara. RPKAD show force terjun payung di Kudus. Dan ketika konvoi RPKAD lewat, dengan niat berhati-hatiagar tidak dicurigai, Rauf mengacungkan kepalan tangan dan berseru, “HidupRPKAD! Hidup RPKAD!”. Konvoi berhenti dan Rauf diajak naik truk menujumarkas. Itulah awal hidup baru bagi Rauf yang kemudian harus menjadi pasukaninti; menjadi eksekutor bagi mereka yang dituduh sebagai orang PKI.

Di tengah tugasnya sebagai pasukaninti, berkali-kali Rauf terpaksa harus membunuh orang yang salah tangkap. Rauftidak tahan dan pernah meminta pertimbangan para kiai untuk mengundurkan diridari keanggotaan sebagai pasukan inti. Namun karena pertimbangan nasib hidupRauf sendiri yang terancam jika mengundurkan diri dan juga karena nasihat daribeberapa kiai, akhirnya Rauf tetap melanjutkan tugasnya sebagai eksekutor.

Rauf senang akhirnya dapat bertemudengan anak-anak muda NU Jepara yang mau mendengarkan kisah hidupnya, bahkanmengajaknya dapat bertemu dengan banyak korban 1965 di Jepara. Mulanya Raufmengaku bingung ketika anak-anak muda NU menawarkan Rauf untuk dapat bertemudengan kalangan korban. Tetapi kepasrahan dan ikhlas atas “kebodohan” dirinyasendiri, akhirnya Rauf berangkat mengikuti pertemuan dengan kalangan korbanyang difasilitasi kiai muda di pesantrennya di Jepara. Bahkan juga ikutpertemuan regional antara mereka para korban tragedi 1965 dengan kalangan NU seJawa Tengah di Semarang tahun 2003.

Polarisasi Reaksi atas Peristiwa 1965-66 dan

Respon Agenda Rekonsiliasi

Keempat kisah orang-orang NU didalam arus peristiwa 1965-66 berbeda-beda. Jika diklasifikasikan, maka ketigakisah pertama dapat dikelompokkan menjadi tiga ruang: (1)politisi yang antiPKI, (2)terlibat di dalam proses pengganyangan tetapi tidak sepenuh hati, dan(3)yang melawan arus mainstream sikap politik dengan menyelamatkan mereka yangakan dibunuh dengan alasan nilai tertentu. Jika dirujukkan pada dua aliranperubahan sosial, yakni teori behavioral dan structural, ketiga sikap ini jikadilihat di dalam arus perubahan yang besar di Indonesia saat itu, hanya kisahketiga yang tampak berbasis pada sikap pribadi, sementara dua kisah yangpertama dapat dilihat sebagai respon dan sikap yang sangat dependent atasrespon mainstream saat itu. Sementara dari kisah keempat tentang seorangeksekutor, tampak nyata bagaimana respon dan sikapnya yang sangat tidakindependent, potret dari sikap ketundukkan structural mutlak atas sekitarnya,ketidaktahuannya tentang situasi dan ketidakmampuannya untuk bersikap, danmenjadikannya terbenam di dalam suasana ketakutkan. Arti kata, tipe orangkeempat di dalam NU, juga pada umumnya massa NU, kisah hidup mereka cenderungtergantung kepada siapa mereka dekat dari tiga tipe orang di dalam NUsebelumnya.

Sebagaimana pertentangan internalyang terjadi antara kelompok Osa-Usep dan Ali Surachman di internal PNI, didalam ruang NU juga dipenuhi oleh carut-marut pertentangan politik, hinggasikap politik di dalam tubuh NU terbelah menjadi hitam dan putih. Surutnyapopularitas Soekarno juga menandai surutnya kelompok politik yang dekat denganSoekarnois dan diganti dengan dominasi kelompok politisi yang anti PKI[29] atas kelompok moderat dan kelompok yang tetap berusaha untuk menggunakan nalarkemanusiaan dan kehati-hatian di dalam mensikapi perkembangan situasi.

Pertama-tama nyata bahwa pergantian“leader di dalam elit NU saat itu menjadi factor penting di dalammengubah arah politik NU karena bertemu dengan tipologi organisasi NU yangpatriarchal. Hal ini mengatasi perbedaan sikap dan respon di dalam kalanganelit NU, antara mereka yang menempatkan realitas politik sebagai yang utama danorang-orang NU di dalam pusaran warganya yang melihat pentingnya untuk tetapberpegang pada kehati-hatian, kemanusiaan dan koridor hukum, --dalam bahasaAswaja, secara doctrinal disebut dengan sikap tawasut (moderat), tawazun (adil), tasamuh (pemurah). Meskipun pada akhirnya sikap politik elitNU tersebut tidaklah berguna apapun di dalam arus perubahan yang besar diIndonesia saat itu. Persepsi tentang realitas politik saat itu telah didominasioleh persepsi Orde Baru yang bersentral pada Soeharto yang dengan militer dibawah komandonya yang melakukan psy war, pelarangan dan kontrolpenerbitan mass media, mobilisasi, agitasi dan provokasi dengan segala cara.

Dalam kaitan di atas, dapatdipastikan bahwa tidak ada siapapun, kelompok atau individu, yang mampu keluardari mainstream arus perubahan yang mengakar di dalam system dan struktur baruyang menekan dan mengancam, kecuali ia akan terbuang dari dalam arus besarperubahan bangsa, yang mana hal ini berjalan sepanjang umur kekuasaan rezimOrde Baru.

Soeharto turun di tahun 1998 dandiganti Habibie. Tetapi perubahan drastic tampak nyata terjadi di masa rezimGus Dur. Penekanan demokrasi dalam dua makna yang fundamental, yakni penegakanhak asasi manusia dan kebebasan informasi, telah menabrak berlawanan 180derajat terhadap arah politik mainstream Orde Baru. Bahkan akhirnya rezim GusDur pun harus tumbang di tengah jalan karena itu. Tetapi arus yang menekanterbalik 180 derajat itu telah menemukan ruang di dalam perubahan secarakeseluruhannya. Agenda rekonsiliasi pun dapat disikapi dalam proporsi yangtetap berpijak pada polarisasi atas respon dan sikap atas peristiwanya di masalalu.

Politik HAM dandemokrasi

Skema ini dan fenomena rezim Gus Dur, menjelaskan bagaimanaperubahan social yang bertumpu pada teori behavioral[30] bagi Indonesia masihlah sangat dimungkinkan, meskipun factor structuralmemainkan peranan yang lebih krusial. Sementara internal NU tampak kinicenderung akan tetap berjalan di dalam kerangka system dan strukturpatriarchal.




[1]Peneliti di Syarikat Indonesia.

[2]Saya menyebut paramiliter dari kalangan sipil sebagai kesatuanketiga. Kesatuan pertama (inti) adalah kesatuan Kostrad yang dikirimkan keberbagai daerah. Kesatuan kedua adalah militer (terutama AD) di berbagaidaerah.

[3]“Orang-orang PKI” dalam tanda kutip karena juga termasuk mereka yangsebenarnya bukanlah anggota atau simpatisan PKI, dan dengan alasan atau caraapapun ditangkap karena dituduh sebagai orang PKI.

[4] Satu studi yangruntut dapat dibaca di Greg Fealy, Politik Ijtihad Ulama: Sejarah NU1952-1967, LKiS: Yogyakarta, 2003.

[5] Berkaitan pecahnya kecenderungan politik di dalam tubuh PBNU menjadi kelompok yang “dekat denganSoekarno dan tidak” dapat dibaca di Greg Fealy, Ibid, terutama di bab IVdan V.

[6]Sejarah NU dan perkembangannya dapat dilihat di Choirul Anam, “Sejarah NU dan Perkembangannya, dan bagaimana dengan hubungan NU dengantokoh-tokoh pendirinya dapat dilihat di “Sedjarah Hidup K.H.A. Wahid Hasyim,dan Karangan Tersiar”.

[7]Definisi atas kata doktrin dan tradisi, penulis mendasarkan pada Dr.A. Zaki Badawi,A Dictionary of The Social Scienses; English, French,Arabic”, Beirut: Librairie du Liban, 1993. Gambaran teoritik NU danpesantren sebagai sub kultur dalam dua ruang doktrin dan tradisi dapat dilihatdi Abdurrahman Wahid, “Muslim di Tengah Pergumulan”, Jakarta: Lappenas,1987.

[8]Apa itu paham keagamaan Ahlussunah Wal Jama’ah, lihat SaidAgil Siradj, Ahlussunnah Wal Jama’ah, (Jogja: LKPSM NU, 1998). Dapatdilihat pula di Imam Baehaqi, edt., “Kontroversi Aswaja: Aula Perdebatan danReintepretasi”, Jogjakarta: LKiS, Cetakan II, November 2000.

[9]Paparan luas bagaimana khas orang-orang NU berpolitik sertabagaimana “berdalil”nya dapat dibaca di Greg Fealy, “Ijtihad Politik Ulama, Sejarah NU 1952-1967”, Jogjakarta: LKiS, 2003.

[10]Sebagai contoh tentangtradisi barzanzi, membaca kisah kenabian Muhammad saw karya Al Barzanzi,yang dianggap sebagai satu pengaruh dari kebiasaan paham/madzhab Syi’ah. MeskiNU menyatakan sebagai Sunni dan bukan Syi’i, tradisi barzanzi menjadi kebiasaanumum di kalangan warga NU.

[11] Pembahasan luas atas sejarah nalar Arab, lihat Dr. M. Abid Jabiry, TakwiinalAql al’Araby, Markaz Dirasat al Wahdah al ‘Arabiyyah: Beirut, cet. IV,1989.

[12]Perdebatan tentang Aswaja dapat dibaca di Imam Baehaqi, edt., Ibid. Salah satu contoh kontemporer tentang upaya penafsiran ulang atas aswajadilakukan oleh gerakan kaum muda NU sejak tahun 1993 untuk agenda kerakyatankonteks keindonesiaan.

[13]Paham dan praktek keagamaan itu sendiri bukanlah sesuatu yangberhenti tetapi terus berjalan untuk mencari, memahami, memaknai sekitarnyauntuk dan dalam proses keberagamaan masyarakat.

[14]NU 1926 ditekankan untuk menunjukkan karakter NU sejak awalpendiriannya dalam konteks peran sosial-pendidikan keagamaan dan non partai(1926-1949). Sedangkan NU 1955 atau lebih tepat NU 1952 (1952-1967) untukmenunjukkan fase penting di dalam NU di saat telah menjadi Partai NahdlatulUlama (PNU). Pertentangan dua paradigma ini muncul kembali pada tahun 1983-84dalam pertikaian orientasi organisasi antara Kubu Cipete (yang mau partai) danKubu Situbondo (yang mau kembali ke khittah 1926) dengan berpolitik tanpapolitik (partai).

[15]Deskripsi ini didasarkanpada wawancara penulis dengan Haji Ahmad, 3 (tiga) bulan sebelum wafatnya, Jum’at Kliwon, 13 Juni 2003. Wawancarapribadi, 25 Maret 2003.

[16] Bukan namasebenarnya.

[17]Hal ini sedikit disinggungdi dalam laporan Pusat Penelitian dan Studi Pedesaan dan Kawasan UGM, “AksiKekerasan di Pedesaan Klaten dan Banyuwangi, di dalam Robert Cribb, edt., “The Indonesian Killings;Pembantaian Massal di Jawa dan Bali 1965-66, Yogyakarta: Bentang, 2004

[18]Mantan Sekretaris NU Banyuwangi menyebutkan karena adanya konsensi 2jabatan DPD dari NU. Wawancara pribadi, 22Maret 2003.

[19]Saya pikir, di sini yang dimaksud pembentukan DPRD setelah peristiwaG 30 S.

[20]Kisah tentang peran politikmiliter di Banyuwangi pasca peristiwa politik 1965 di Jakarta dapat dibaca diSaiful H. Shodiq, “Politik Militer Pasca Peristiwa Politik 1965 di Jakarta;Studi Kasus Banyuwangi dan Jogjakarta”, 2005.

[21]Versi ini sejalan dengancerita yang dituturkan oleh mantan Sekretaris NU Banyuwangi. Wawacara pribadi,22 Maret 2003.

[22]Informasi yang digali hanya mendapatkan cerita bahwa Dandim 825Banyuwangi, dulu adalah anak buah DanremMalang saat itu yang bernama Sungadi(?).

[23]Kisah ini didasarkan pada wawancara-wawancara yang dilakukan direntang tahun 2003-2005.

[24] Bukan nama sebenarnya.

[25] Sebagai gambaran bagaimana umumnya ingatan orang NU tentangperistiwa Madiun 1948 dapat dibaca Tim Jawa Pos, “Lubang-Lubang PembantaianPetualangan PKI di Madiun”, Jakarta: Grafiti, 1990. Bandingkan denganHersri Setiawan, “Negara Madiun? Kesaksian Soemarsono Pelaku Perjuangan”, FUSPAD,2002.

[26] Wawancara pribadi, 7 Oktober 2004. Versi ini mengutip kisah yangdisampaikan Gus Muda di dalam satu forum Sarasehan UU KKR di Gedung PCNUBatang, 9/1/2005, sebagaimana diberitakan di Majalah Silah, edisi 05 tahunFebruari 2005.

[27] Bukan namasebenarnya.

[28] Kisah selengkapnya tentang Rauf ada dalam dokumentasi testimonikaset dan film di Syarikat Indonesia. Tetapi untuk kebutuhan tulisan ini,terutama dapat dibaca di dalam tulisan Farid Wajidi, “Syarikat danEksperimentasi Rekonsiliasi Kulturalnya, Sebuah Pengantar Awal”, di dalamTashwirul Afkar: Jurnal Refleksi Pemikiran Keagamaan dan Kebudayaan, Edisi No.15 Tahun 2003, diterbitkan oleh PP. Lakpesdam NU.

[29] Bagian lain dari dua kisah pertama orang-orang NU di dalam tulisanini menggambarkan bahwa hubungan “romantis” sayap politik NU dengan rezim OrdeBaru bertahan hanya sampai tahun 1971, di mana Soeharto dan militer di bawahkomandonya melancarkan mobilisasi kekuasaan politik melalui Sekber Golkar danmenghancurkan mereka yang menolak.

[30]Micro PoliticalTheory, dalam Fred IGreenstein dan Nelson W. Polsby, Handbook of Political Science, JilidII, Adisson-esley Publishing Company, Reading, Massachussetts, London,Amsterdam, Sydney, 1975.