Pengakuan Prajurit Tjakrabirawa

Pengakuan Prajurit Tjakrabirawa

DI LUBANG BUAYA HANYA ADA TENTARA

(petikan wawancara dengan HD. Haryo
Sasongko, 11 Juni 2001)

Buntoro, seorang prajurit berpangkat Prajurit Dua (Prada) asal dari Divisi
Diponegoro Jawa Tengah Yon 450 Purwokerto. Dia kemudian mengikuti testing
calon anggota Tjakrabirawa (pasukan khusus kawal kepresidenan) yang dibentuk
pada 1962. Dinyatakan lulus, Buntoro berangkat ke Jakarta ke markas barunya
di Tanah Abang II. Dia temasuk dalam Yon I yang terdiri dari TNI/AD dengan
komandan Letkol. Untung.

Menjelang 1 Oktober '65, kalangan Tjakrabirawa curiga dengan tindakan
Soeharto, ketika itu Panglima Kostrad, yang memerintahkan batalyon-batalyon
elit dari Jateng dan Jatim untuk "stand by" di Jakarta dalam rangka
persiapan peringatan HUT ABRI 5 Oktober '65. Buntoro heran, mengapa untuk
upacara saja didatangkan pasukan elit dan dengan perlengkapan tempur pula?
Buntoro tahu pasti, pasukan elit yang terdiri dari Yon 454 Diponegoro dan
Yon 530 Brawijaya, semua adalah penembak mahir. Perlukah untuk suatu
upacara, mengusung penembak mahir dan dalam kondisi siap tempur, membawa
senjata lengkap dengan peluru tajam?

Kalangan Tjakrabriawa yang bertugas menjaga keselamatan Bung Karno
semakin curiga. Apalagi, isu Dewan Jenderal sudah beredar di kalangan
prajurit Tjakra yang dikabarkan akan melakukan kudeta pada 5 Oktober '65.
Untuk itukah maka pasukan penembak mahir dengan perlengkapan tempur
didatangkan?

Pukul 01. tanggal 1 Oktober '65, sepasukan Tjakrabirawa di mana ada
Buntoro berkumpul. Pukul 02.00 mereka begerak sesuai instruksi "untuk
mengambil para anggota Dewan Jenderal guna dimintai keterangan serta
tanggungjawab dengan menghadapkan mereka pada Bung Karno. Yang salah
diadili, yang tidak salah dilepas kembali."

Dengan instruksi itu, Buntoro memahami, berarti para jenderal harus
"diambil" dalam keadaan hidup. Di bawah pimpinan Sersan Mayor Satar
dengan
anggota satu peleton dari Yon I Tjakra di mana ada Buntoro, mereka berangkat
untuk "mengambil " Mayjen TNI/AD S. Parman dalam keadaan hidup. Dengan
mudah, tugas itu dilaksanakan. Pukul 04.00 mereka sudah membawa S. Parman ke
Lubang Buaya dan sesuai perintah menyerahkannya kepada Untung lewat Satar.
Buntoro bersama teman-temannya kemudian beristirahat, merasa tugas sudah
selesai. Ketika itu dia melihat di Lubangbuaya hanya ada tentara, ya
Tjakrabirawa itu. "Dan ada pasukan lain, saya tidak tahu itu siapa mereka.
Mungkin dari Kodam Jaya," katanya. "Yang jelas, di situ tidak ada
orang
sipil satu pun, karena memang orang sipil dilarang masuk dan memang tidak
ada. Itu kawasan militer," sambungnya.

Jelas, tak ada Pemuda Rakyat, tak ada Gerwani, apalagi Pesta Harum
Bunga di tempat itu. Karena lelah, Buntoro dan teman-temannya tertidur. Dan
terkejut karena mendengar rentetan tembakan. Siapa yang menembak dan siapa
yang ditembak? Buntoro dan kawan-kawannya bingung. Prajurit Tjakra? Bukankah
mereka tertidur bersamanya? Dan bukankah para jenderal harus ditangkap dalam
keadaan hidup? Mereka kemudian mendengar bahwa yang ditembaki adalah para
jenderal. Semua mati dan dimasukkan ke dalam sumur.

"Kami merasa dikhianati Kami harus menangkap jenderal dalam keadaan
hidup, utnuk dihadapkan pada Bung Karno. Perintah itu sudah kami laksanakan.
Tetapi di Lubangbuaya mereka dibunuh.".

Buntoro dengan teman-temannya berusaha mencari pimpinannya, Satar, dan
bersama Satar mencoba mencari Untung. Tapi yang dicari sudah tak
ada.........