Penjara Lowokwaru 1965/1966
Pada pagi hari 1 Oktober 1965 aku tidak mendengarkan siaran apa pun, kami tidak memiliki pesawat radio. Aku baru mendengarnya pada sore hari di rumah teman, ketika Jendral Suharto bicara di radio. Maka hari-hari berikutnya diwarnai dengan berbagai perdebatan di kalangan kami beserta kebingungan dan ketakutan akan tindak kekerasan yang terjadi di banyak tempat. Perdebatan kian sengit ketika ada seruan kabur tak jelas yang bisa ditafsirkan macam-macam untuk menyelamatkan diri, seperti kata-kata defensif aktif . Apanya yang defensif, dan apanya yang aktif. Kemudian tiap hari orang digerebek, ditangkap, ditahan, dicomot. Selanjutnya berita lebih seram, orang dibantai baik yang digelandang dari tempat tinggalnya maupun dari tempat kerjanya, juga di jalanan, di tempat persembunyian, bahkan juga dari tempat tahanan dan penjara. Menyelamatkan diri dan menghindar dari penangkapan, bersembunyi? Menghadapi peristiwa lokal, tiap orang mampu melakukannya. Tapi ini peristiwa politik nasional dengan mobilisasi massa luar biasa. Hanya para profesional yang bisa lari dan bersembunyi dengan rapi, itu pun belum tentu berhasil terus menerus dalam jangka panjang. Kian ke pelosok, makin runyam keadaannya, di sana terjadi pembantaian di tempat. Sanak keluarga, teman, atau orang yang kau kenal baik, mungkin sedang diincar untuk diciduk nanti malam atau esok. Atau di antara orang itu justru ada yang akan menyeretmu ke mulut macan atau buaya.
Akhir bulan Oktober 1965 isteriku sedang hamil tua anak kami pertama. Jam 3.00 pagi buta pintu rumah kami diketuk agak keras dan tidak sabaran. Setelah bangun aku bersiap untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Seperti telah terlatih beberapa minggu, isteriku yang membukakan pintu. Aku segera keluar kamar menemui mereka, seorang polisi dan tentara. Dengan sopan mereka mengemukakan maksudnya untuk mengamankan diriku, meski tidak ada ancaman orang, binatang, api, atau banjir yang membahayakan. Ini sekedar istilah konyol untuk kata menangkap , bagian dari setumpuk kosa kata ciptaan orde baru yang menyesatkan dan membodohi dan menipu. Kami baru beberapa hari pindah ke tempat baru itu, rumah tante isteriku yang hidup sendiri setelah ditinggal ibunya di Jl. Kenanga. Kami mendapatkan sebuah kamar. Kekayaan kami terdiri dari sebuah tempat tidur, sebuah almari pakaian dan dua rak buku kecil yang penuh. Terutama rak buku menjadi sasaran penggeledahan.
Beberapa minggu sebelum G30S, di Jakarta telah terjadi demonstrasi besar anti India karena sikap Sondhi, seorang India pengurus suatu badan olah raga Asia yang dipandang menghina Indonesia. Notabene demo itu dilakukan oleh golongan kiri. Rupanya sang polisi masih disegarkan ingatannya terhadap kejadian tersebut. Maka dikumpulkanlah semua buku saya yang berbau India untuk disitanya termasuk semua text books sejarah kebudayaan dan kesenian India, buku karya Rabindranath Tagore, riwayat hidup Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi. Tentu saja buku yang berbau Rusia, apalagi terbitan Moskow, The Road To Life sebanyak tiga jilid karya Makarenko, seorang pedagog Rusia tersohor, juga diboyongnya. Percobaanku untuk menjelaskan bahwa itu semua buku-buku sejarah dan pendidikan sesuai dengan sekolah dan pekerjaanku, mendapatkan jawaban klasik, "Hanya untuk diperiksa, nanti dikembalikan." Barangkali jawaban demikian mengacu pada text books polisi. Bagaimana akan dikembalikan kalau tidak pernah dibuat berita acara penyitaan sementara. Tapi soal buku ini begitu remeh temeh terbanding urusan kejahatan kemanusiaan yang terjadi.
Di luar rumah ternyata berkumpul segerombolan orang yang mengawasi dengan berbagai alat kekerasan yang tajam maupun tumpul. Rupanya mereka menjadi kurang bernafsu setelah menyaksikan sang pesakitan cumalah seorang berbadan ceking yang sekali tepuk akan mampus. Buru-buru isteriku memberikan jaket untuk kukenakan beserta cucuran air mata. Mencinta itu saling mendidik. Ini bagian panjang dari proses percintaan kami dalam rumah tangga baru, ibarat pemahkotaan dan penyaliban sekaligus seperti yang digambarkan pujangga Khalil Gibran, tentu dalam skala mini saja.
Pagi itu jalan-jalan kota Malang mulai menggeliat. Kami sampai ke Polresta Malang di pojok jalan Oro-oro Dowo dan Kayutangan. Setelah didata, aku diantar ke sebuah bangunan seperti los pasar. Di sana sudah ada barang 150 orang, ada yang tidur, duduk-duduk, rebahan, ada yang sedang salat. Beberapa orang telah kukenal, seorang dosen, pegawai penerangan, wartawan, mahasiswa. Ada juga seorang lurah yang telah kukenal ketika sebagai mahasiswa melakukan acara turun ke desa, di suatu pelosok Malang Selatan. Ia menceritakan kisah pelariannya setelah seluruh perangkat desanya dibantai habis di depan keluarganya masing-masing. Hanya secara kebetulan saja ia bisa selamat dan lari ke kota Malang, kemudian menyerahkan diri ke kantor polisi setelah menggelandang beberapa waktu. Ia tak tahu nasib anak isterinya. Tentunya cerita itu ulangan yang ke sekian kalinya meski masih dengan getar emosi. Ia menerima solidaritas teman-teman lain berupa ganti pakaian lengkap dengan sarung. Ia hanya berbekal naluri dan pikiran mnyelamatkan diri serta baju yang menempel.
Banyak dari kami masih lebih beruntung daripada banyak orang lain yang langsung dibantai di tempat seperti Pak Marsidik, seorang Digulis, Heruliman yang langsung diantar ke kuburan untuk disembelih setelah dijemput dari tahanan. Betapa ironis, Heru pun disebut diamankan . Masih banyak kisah lain, satu keluarga dibantai di tempat sampai cindil abange, sampai bayinya yang masih merah di bawah pengawasan aparat. Itulah salah satu aspek kekenyalan budaya Jawa, masih merasa beruntung dalam keadaan sulit, mendorong optimisme, mengacu berpikir positif. Agaknya disebut juga rasa bersyukur. Meski begitu aku tak tahu bagaimana caranya seorang isteri dan ibu bersyukur, sedang ia menyaksikan sendiri pembantaian suami dan anak remajanya, anak satu-satunya. Dengan gampangan dan dingin bisa dijawab, ia patut bersyukur karena ia masih hidup dengan segala kemungkinan yang terbuka. Manusia bukan sekedar badan fisik apalagi angka, ia sekaligus pikiran, perasaan, pengalaman, intelektualita, juga emosi sedih marah sakit hati takut, dengan segala naluri dan keterikatannya.
Pada hari ke lima penahananku, suatu malam beberapa puluh di antara kami disuruh bersiap dengan barang milik kami untuk dipindahkan ke suatu tempat tanpa disebutkan. Pemindahan itu pun tak diberitahukan kepada para keluarga. Ini juga suatu metode teror massal yang dilakukan penguasa kepada para keluarga tahanan. Beberapa orang benar-benar panik karena teringat Pak Lurah beserta beberapa orang lain yang dijemput polisi beserta sejumlah pemuda, selanjutnya raib untuk selamanya. Seorang polisi tanpa maksud menakuti-nakuti menceritakan hal itu, mayat mereka dibuang ke Kali Brantas. Sementara itu isteriku termasuk sebarisan isteri para tahanan yang kebingungan mencari suaminya. Sampai di situ teror tersebut telah mencapai sasarannya. Kemudian hari isteriku menceritakan, ia datang tiap hari selama seminggu ke kantor polisi dengan perut buncitnya. Para petugas tetap tidak memberikan keterangan tentang keberadaanku, juga tak mengijinkannya bertemu Kapolres. Isteriku pun pergi ke Kodim dan Korem. Kedua instansi itu menyarankannya untuk ke kantor polisi. Dalam kekhawatiran dan ketakutan semacam itu bakat intelijen isteriku timbul. Ia bisa mendapatkan alamat rumah kepala polisi lengkap dengan nomor teleponnya. Beberapa teman dekatnya sangat mengkhawatirkan, bahkan mengecam langkah yang diambilnya sebagai membahayakan diri sendiri. Isteriku cukup gigih, orang lain menamainya keras kepala. Akhirnya ia mendapat kepastian akan keberadaanku. Sejumlah keluarga lain ikut mendapatkan manfaat. Meski ia tak dapat menemuiku, kirimannya berupa satu bungkus abon, satu bungkus sambal pecel, dan satu setel pakaian kusambut dengan sukacita. Beberapa hari kemudian aku mendapatkan berita, sebenarnyalah isteriku mengirimkan lebih banyak dari yang kuterima. Itu bukan cerita baru, jeruji besi dan tembok tebal itu tidak cuma menyekap dan memisahkan orang dari dunia ramai, ia juga menggerogoti dan menyunat milik pesakitan yang sekarat sekali pun.
Dalam keadaan sulit dan kritis, tanpa sadar orang membuka topengnya masing-masing. Dalam keadaan semacam itu, dengan mudah tanpa belajar psikologi, orang bisa mengamati dan mendapatkan potret kepribadian sebenarnya dari seseorang. Pada hari-hari pertama di penjara aku mendapatkan seseorang yang dikenal sebagai jago pidato berkelahi dengan seorang buta huruf untuk memperebutkan puntung rokok sipir penjara. Berdasar sejumlah pengalaman dapat kutarik kesimpulan sementara, dalam keadaan kritis darurat semacam itu perokok berat dengan cepat jatuh moralnya. Maaf perokok berat! Agaknya kebiasaan merokok dapat memberikan kontribusi negatif dalam kepribadian seseorang. Dan topeng-topeng lain pun pada tanggal. Seseorang menyembunyikan sebungkus permen, gula, dendeng kering, dan barang berharga lain untuk ukuran penjara, bagi diri sendiri, dan dijaganya dari jamahan orang lain. Di penjara orang bisa menyembunyikan sesuatu dari petugas, tapi tidak dari temannya sendiri. Untuk mengerti perilaku manusia, berbagai ilmu menganalisis tentang dorongan alamiah dan manusiawi untuk bertahan hidup. Dalam situasi penjara semacam itu, solidaritas dipandang sangat berharga, taruhan nilai-nilai bersama. Sementara para egois dipandang seperti nyamuk yang dalam tahap tertentu bisa berbahaya. Kalau seseorang begitu sayang terhadap sebungkus permennya tanpa menghiraukan orang lain yang sedang memerlukan energi, pada saat lain ia pun dapat menjual kepala temannya untuk sebungkus gula.
Pada suatu hari seorang polisi yang tak kukenal masuk blok kami dan mencariku. Dengan berpura-pura omong keras ia menyelipkan sepucuk surat. Ia mengabarkan, isteriku telah melahirkan bayi laki-laki dan menunggu nama dariku. Aku menuliskan nama pada sepotong kertas yang disodorkannya untuk diteruskan pada isteriku. Di Lowokwaru aku sempat bertemu Goei Poo An, pemimpin redaksi dan pemilik koran Trompet Masjarakat Surabaya yang berada di sel berseberangan. Koran itu dikenal sebagai penyokong Bung Karno, pembela rakyat kecil serta dikelompokkan sebagai kiri. Koran tersebut beredar luas di Jawa Timur, aku telah mengenalnya sejak di SMP ketika menjadi loper koran. Pada hari-hari itu sel-sel di blok kami masih cukup mendapat pasokan makanan dari luar. Pada hari-hari pertama orang biasanya tak bisa makan jatah penjara, nasi yang keras dan bulukan di ompreng dekil. Aku sendiri pernah masuk dapur penjara ketika perploncoan, melihat sendiri bagaimana kondisi makanan dan kebersihannya. Tak aneh kalau di dalamnya tersimpan bekicot, kecoak dan yang lain. Setelah pasokan makanan dari luar surut, tak ada cara lain kecuali harus belajar bertahan hidup. Pada minggu ketiga kedatangan rombonganku, banyak di antara kami yang sulit tidur. Gelombang pemangggilan pada jam 2.00 3.00 pagi mulai lagi. Seorang dosen FKIP, teman baikku, Drs.Adinegoro, seorang yang lembut dan santun serta penuh semangat, beserta 60-an yang lain telah terpanggil ketika ditahan di belakang stasiun. Mereka semua tak ada kabar beritanya, lenyap ditelan bumi. Di kemudian hari kuketahui sebagian dari mereka dibantai di muara Kali Lesti, Gladakperak, pantai selatan Malang.
Malam itu sebagian besar penghuni sel kami berjaga-jaga, beberapa orang tidur nyenyak. Hal itu terjadi juga dengan sel-sel blok lain. Pada hari-hari berikutnya aku biasa tidur nyenyak tanpa mendengar panggilan tersebut. Ketika pagi kulihat sel-sel yang berhadapan dengan sel kami telah hampir kosong termasuk Pak Goei. Orang-orang baru pun datang dan sel-sel itu penuh kembali. Tiap kali rombongan baru datang, koleksi kisah-kisah seram pembantaian pun selalu bertambah. Pada suatu hari seorang pelarian dari daerah Blitar mengisahkan kejadian di suatu rumah sakit. Pada suatu kali rumah sakit didatangi gerombolan yang dijaga tentara dan menggelandang siapa saja yang dikehendakinya. Di antara yang dicomot terdapat sejumlah pasien luka parah yang selamat dari pembantaian beserta sejumlah pegawai rumah sakit. Semuanya dimusnahkan. Rumah sakit dituduh melindungi pelarian PKI, tuduhan maut. Kami mendengar teman kami Drs. Mulyakno, seorang guru yang isterinya baru saja melahirkan, telah lenyap dari penjara Blitar beserta banyak orang lain termasuk dua orang guru saudara sepupuku, Mas Hardi dan Mas Harlan.
Seorang teman karena kekeliruan nama di kembalikan lagi ke sel setelah ia sempat melihat teman-teman lain diikat kedua tangannya, kemudian dimasukkan ke truk-truk yang siaga di dekat gerbang bagian dalam, jauh dari sel kami. Kebusukan merebak ke hidung kami melalui berbagai sumber, nara pidana, sipir, polisi, tentara. Mereka manusia biasa lengkap dengan emosi dan perasaannya, yang suatu kali tak bisa menahan untuk tidak bicara. Truk-truk itu dilarikan ke beberapa tujuan yang telah ditetapkan ke luar kota yang terpencil. Lubang-lubang besar telah disiapkan beserta segerombolan pembantai dengan segala macam senjata tajamnya. Pemusnahan demi pemusnahan di pagi buta, ketika ayam jantan berkokok di balik kebun dan sawah di kejauhan.
Ketakutan merupakan sesuatu yang amat manusiawi. Berhari-hari Mas Karno, seorang sarjana ekonomi, ketika di luar kami anggap pemimpin. Ia selalu dalam keadaan panik, gemetar, susah makan, tapi sering ke belakang. Ia mondar-mandir menyebarkan kepanikan dan ketakutannya. Ia sebal ketika kubilang bahwa segala kekhawatiran dan keluhan tidak membuat keadaan lebih baik, tidak membuat kita dibebaskan. Yang bisa dilakukan adalah pasrah, menjaga kesehatan fisik dan mental dalam solidaritas. Betapa mudah diucapkan. Kalau anda mengalaminya, terpulang pada diri sendiri. Mampukah kamu mendidik diri sendiri setelah menerima sejumlah pendidikan yang benar maupun yang salah. Dalam kenyataannya yang disebut pasrah dan solidaritas itu tidak gampang dilaksanakan, juga dalam kesulitan bersama. Ego sejumlah manusia tidak surut. Topeng-topeng berguguran tanpa rencana, menelanjangi sejumlah egois yang tak mampu meningkatkan diri. Ini semua tak ada hubungan sejajar dengan kedudukan seseorang ketika masa damai, kursus politik yang telah ditempuhnya, ilmu yang telah ditimbanya. Tentu saja hal-hal itu bisa berdampak pada kepribadian orang, positif maupun negatif. Agaknya kemampuan mendidik diri sendiri adalah salah satu kuncinya.
Di penjara itu Bung Amir Syarifudin pernah disekap dan disiksa oleh penguasa Jepang dengan digantung. Yang dialami ratusan teman kami lebih ringkas, langsung digelandang dan dibunuh. Selama di Lowokwaru aku sempat merenungkan kembali tentang berbagai kejadian yang telah lewat. Terngiang kembali kata-kata dokter Sudarsono, tokoh PSI, mantan menteri dan duta besar, kebetulan adik ibu mertuaku, ketika itu pejabat tinggi di Deplu. Sepulang dari kongres HSI bulan Agustus 1965 aku mampir ke rumahnya di Jl. Utankayu. Ia nyeletuk, "Hati-hati kamu, PKI mau brontak lagi!" Aku menganggapnya sebagai bercanda seperti sering terjadi. Dengan perkembangan kejadian adakah ini berarti datangnya peristiwa tersebut bukan rahasia bagi mereka? Lalu retorika Aidit tentang revolusi dan merelakan cangkir piring pecah berantakan. Hal itu disampaikannya dalam pertemuannya dengan beberapa peserta kongres HSI. Perdebatan terjadi di kalangan utusan kongres, kemudian diredam oleh pemegang otoritas. Pemberontakan? Siapa terhadap siapa? Revolusi? Sebuah kosa kata dengan batas-batas amat luas. Apa revolusi bisa dirancang dan dibikin? Perdebatan politik dan ideologi sejak abad lampau, sampai juga ke penjara Lowokwaru. Apa revolusi hanya urusan beberapa gelintir pemimpin dan komandan tentara? Kudeta militer, nah ini yang jejaknya mudah dilihat dalam rentetan kejadian. Sebagian dari kami menamainya sebagai petualangan militer, itu terlepas dari segala yang kemudian menimpa kami secara kelompok dan pribadi.
Pagi itu tiba-tiba Drs Amim dan Drs Harsomo menerima panggilan. Selama ini interogasi yang kualami biasanya bersifat agak massal, beberapa orang sekaligus berderet-deret. Aku giliran pertama dipanggil. Ketika menghadap, pejabat itu memperkenalkan diri sebagai Letkol Sutrasno SH, Komandan Korem 83, Malang. Ia sebagai ketua tim pemeriksa langsung menembakku dengan pernyataan, "Jadi saudara yang membacakan pernyataan HSI menyokong Dewan Revolusi di RRI Malang pada 1 Oktober malam itu?" Aku pura-pura tak menangkap pertanyaannya dan meminta diulangi. Secara kebetulan pada malam hari tanggal tersebut aku mengisi acara di RRI Malang seperti telah dijadwalkan jauh sebelumnya. Topiknya tiada lain dari urusan revolusi berdasar ajaran Bung Karno. Untuk pertama kalinya keberadaanku pada hari genting itu di RRI dipertanyakan. Selanjutnya kami berbincang tentang keluarga, pendidikan, pekerjaan. Akhirnya ia mengabarkan bahwa isteri dan anakku yang baru lahir dalam keadaan baik. Tak terbayang bagiku bahwa isteriku pun rupanya menghubungi pejabat ini.
Seminggu setelah interogasi yang aneh itu, bulan Januari 1966 kami berdua dipanggil kembali. Kali ini dibawa dengan mobil pesakitan menuju Polres. Kami berdua tak tahu apa yang akan kami hadapi, petugas yang membawa kami hanya memberitahukan tempat tujuan. Kami dikawal memasuki ruang di samping kantor Kapolres Letkol Drs Suhartono. Ternyata di sana telah menanti isteri dan anak kami masing-masing yang baru berumur empat minggu. Para isteri segera mencucurkan air mata dan sesenggukan dalam pelukan suami masing-masing. Dengan ukuran jaman itu, kenyataan ini sesuatu yang langka. Segala sesuatu hampir tanpa aturan, kecuali kekuasaan di bawah clurit dan laras senjata. Aku merasa dimanja benar oleh hidup ini, menatap wajah isteriku, bersama mencium bayi kami, sementara banyak teman lain kemarin atau esok, dirampas seluruh hak hidup mereka, dikubur massal entah di mana, atau mayatnya dilempar ke kali. Kemewahan yang kualami itu hanya berlangsung selama setengah jam.
Dalam keterbatasan penjara akal sejumlah orang amat berguna bagi orang banyak. Tidak boleh ada pisau atau silet atau benda tajam apa pun yang lain? Sekeping pecahan botol bisa menjadi pisau cukur memadai. Sepotong paku atau besi apa saja bisa dijadikan pisau tajam. Sebuah kaleng bekas susu dengan mudah menjadi kompor minyak. Sekerat tulang tebal dan sepotong kayu keras, itu barang berharga yang bisa disulap jadi benda-benda seni. Hal-hal semacam itu sudah pernah aku dengar dan baca, bagaimana para tahanan kamp Nazi dapat membuat radio, bahkan pemancar sendiri. Manusia dikaruniai nalar dan kreativitas, tapi manusia juga mampu memasung dan menghancurkan keduanya. Ada berbagai cara orang menyusun kalender. Ada yang menyusunnya pada potongan-potongan kecil kertas sampai akhir tahun berikutnya. Yang banyak dilakukan coretan di tembok sel. Sementara orang menghitung sebulan, dua bulan, tiga bulan dan seterusnya dengan harapan dalam hitungan bulan akan dibebaskan, sedang ia melihat sendiri di depan hidungnya serombongan orang dibawa pergi dan lenyap. Adakah ia merasa memiliki keistimewaan untuk terpilih dibebaskan, atau harapan biasa saja untuk bertahan hidup. Dengan memahami perkembangan kekuasaan Jendral Suharto, kami tak ingin memiliki mimpi yang menyesatkan. Aku meledek Mas Karno dengan mengatakan bahwa kita akan tinggal di penjara bukan enam atau tujuh bulan, tapi enam atau tujuh tahun atau bahkan lebih. Ia marah dan menuduhku sebagai pesimis dan menyebarkan pesimisme.
Pada bulan ke empat beberapa orang di blok kami dipindah ke blok lain yang hanya terdiri dari dua sel kecil, masing-masing dengan lima penghuni. Aku berkumpul dengan Pak Jarwo, seorang pengusaha kota Malang yang cukup beken. Terdapat peralatan memadai seperti kompor kaleng susu yang dibarter dari blok lain. Terdapat pasokan makanan dengan tetap dari luar lewat jalur sang penguasaha kaya. Di jaman itu kami belum mengenal peralatan elektronik kecil dengan kapasitas besar. Kelak Pak Jarwo dan beberapa teman lain dicomot dan lenyap tanpa jejak. Maka kekayaannya yang berupa beberapa rumah tinggal, toko buku, percetakan, pabrik rokok, kendaraan, dan yang lain diambil alih oleh para penguasa baju hijau menjadi bancaan seperti warisan moyangnya. Kelak aku juga mengetahui sebenarnyalah namaku bersama Drs Amim tercantum dalam daftar mereka yang harus dilenyapkan. Penguasa ketika itu menggolongkan sarjana dan kaum cendekiawan kiri sebagai kelompok amat berbahaya. Kelak aku juga mendengar samar-samar pencoretan nama kami dari daftar berkat campur tangan Letkol Sutrasno SH atau dan Letkol Polisi Drs Suhartono. Aku baru mengenal keduanya ketika ditahan. Beberapa tahun kemudian baru kudengar bahwa Letkol Sutrasno diberhentikan dari jabatannya.
Setelah enam bulan ditahan, pagi itu aku dan Drs Amim lagi-lagi dipangggil untuk segera berkemas. Seorang sipir berbisik bahwa kami berdua dibebaskan. Meski kami sempat gembira tapi kami tak bisa mempercayainya. Kami pun membenahi barang kami lengkap termasuk bantal dan tikar sesuai dengan saran teman-teman. Pemindahan tahanan termasuk pemindahan ke alam baka tidak pernah diberitahukan dengan jelas. Berjam-jam kami berdua berada di sebuah ruangan tertutup Kodim Malang di Jl. Kahuripan. Sekitar jam dua siang seseorang memasukkan dua nasi bungkus. Menjelang sore kami berdua sudah kehabisan gairah dan bahan percakapan, juga persediaan air putih. Jam enam, jam tujuh, jam delapan, jam sembilan baru kami berdua dipanggil menghadap seorang mayor. Kami dibebaskan dengan wajib lapor. Kami harus menandatangani setumpuk kertas yang hampir-hampir tak sempat kami baca. Aku dijemput Nyak Alan, adik iparku. Dengan becak kami menuju Jl. Muria 6, rumah mertuaku, tempat isteri dan anakku tinggal setelah penangkapanku. Adik ipar ini pernah ditahan sebentar dan wajib lapor. Ia tidak takut menjemputku. Harap maklum, rezim berkuasa telah membuat stigma, mengkondisikan masyarakat untuk jeri berhubungan dengan tapol atau bekas tapol karena akan dikucilkan, dipecat, ditangkap, ditahan, bahkan dibunuh.
Ketika berada di penjara aku dipecat sebagai dosen, tanpa surat pemecatan. Pak Dwidjo, Rektor IKIP ketika itu datang menemui isteriku, menyatakan ikut prihatin. Tak lama kemudian kedudukannya diganti oleh orang lain. Aku mencatat nama beliau sebagai seorang yang jujur dan penuh rasa kemanusiaan, pengabdi pendidikan. Kelak aku mendengar sampai beberapa tahun kemudian namaku masih tercantum dalam daftar gaji. Tiap bulan seseorang telah menandatanganinya. Emploken!
Beberapa minggu setelah dibebaskan aku diijinkan oleh pejabat tempat aku wajib lapor untuk pindah ke Surabaya dengan alamat yang kukarang sendiri. Selanjutnya dengan bantuan saudara dan teman aku lari ke hutan rimba Jakarta. Dengan berdebar dapat kuikuti berita ditangkapnya kembali bahkan dibunuhnya teman-teman yang telah dibebaskan bersamaku, di antaranya mas Nuryono, kemenakan Pak Jarwo.
[Jakapermai2000].-

