Perang Urat Saraf yang Mematikan
Gejolak pertarungan politik yang selama ini mengambil lahan subur di atas primordialisme,
aliran, dan ideologi, tampaknya akan mencapai klimaks. Tidak seorang pun bisa
menjawab apakah situasi itu akan menjebol tembok segregasi sosial yang lahir
dari proses politik bertiraikan saling curiga itu.
Republik Indonesia tidak beda dengan manusia uzur. Sejak dwi tunggal Soekarno-Hatta
memproklamasikan kemerdekaan tahun 1945, nyaris tidak ada hari tanpa konflik
terbuka. Heroisme melawan kolonial di masa silam tetap dilanggengkan dalam bentuk
kekerasan yang diwakili para "jawara" politik.
Puncaknya, badai ekonomi dahsyat. Inflasi meroket sampai 600 persen menjelang
pertengahan tahun 1965. Bung Karno, Pemimpin Besar Revolusi, menjadi tumpuan
harapan. Tetapi, dalam situasi demikian, ia pun tidak beda dengan nakhoda kapal
yang bocor dan oleng di tengah hantaman angin puting-beliung di samudera luas.
Sementara penumpang baku hantam, tanpa mempedulikan situasi gawat.
Kondisi psikologis demikian mewarnai Jakarta sejak pertengahan tahun 1965.
Sulit dibedakan lagi antara kenyataan dan isu. "Ibu Pertiwi sedang hamil
tua" begitu setiap hari kalimat yang diucapkan penyiar Suara Indonesia
Bebas pada akhir siarannya, dan kemudian ditutup dengan kata, "Berontak!"
Kecuali agen CIA, tidak ada yang tahu persis lokasi radio yang frekuensinya
begitu kuat hingga dapat ditangkap melalui gelombang pendek di seluruh Indonesia.
Banyak yang menduga posisi pemancar tersebut di Malaysia atau Filipina Selatan.
Namun, Prof Roland G Simbulan dari University of the Philippines, dalam tulisannya
mengenai peran rahasia CIA di Filipina, mengungkapkan hal lain.
Ia mengatakan, tahun 1965 pemancar bergerak sangat canggih dengan frekuensi
tinggi pada gelombang pendek, telah diterbangkan menggunakan pesawat pengangkut
US Air Force C-130 dari pangkalan angkatan udara Clark, Filipina Tengah, menuju
Jakarta. Radio ini ditempatkan di markas Jenderal Soeharto. Pengiriman radio
itu atas perintah William Colby, Direktur CIA Divisi Asia Timur Jauh.
***
TERDAPAT ratusan tulisan dan komentar mengenai peristiwa sekitar bulan Oktober
1965 oleh para ilmuwan, pengamat, dan aktivis HAM di mancanegara. Namun, yang
menarik adalah apa yang dikemukakan Sundhaussen dalam bukunya The Road to Power:
Indonesian Military Politics, bahwa untuk memahami peristiwa G30S, pertama-tama
harus mengamati isu yang berkembang saat itu.
Mengikuti alur pikir demikian, Dr Peter Dale Scott dari University of California,
Berkeley, secara jelas menggambarkan trik disinformasi CIA yang begitu canggih
hingga menimbulkan ketegangan luar biasa, khususnya antara PKI dengan kelompok
Jenderal Nasution. Sebagian disinformasi diproduksi dalam pamflet gelap, yang
disebarkan melalui jaringannya yang dulu terlibat dalam pemberontakan bersenjata.
Pamflet ini, meminjam istilah Peter Scott, merekayasa paranoid.
Salah satu pamflet pada Agustus 1965 berbunyi antara lain, "PKI sudah
siap tempur. Kelompok Jenderal Nasution berharap PKI lebih dulu menarik pelatuk.
Namun, PKI tidak akan melakukan hal ini. PKI tidak akan membiarkan dirinya terprovokasi
seperti dalam Peristiwa Madiun. Sekarang hanya ada dua pilihan: PKI atau kelompok
Nasution. Tidak ada alternatif di luar itu.
Ralph McGehee, veteran CIA yang pernah bekerja selama 25 tahun (1952-1977)
sebagai staf Counterintelligence CIA seksi Komunisme Internasional, menyebut
proses eskalasi disinformasi secara sistematis telah dilakukan CIA. Melalui
tulisannya The Indonesian Massacres and CIA, yang sebagian disensor CIA karena
menggunakan data rahasia negara yang belum boleh dipublikasikan kepada publik,
ia menyebut dokumen palsu itu telah menggiring massa melakukan kekerasan. Sebab,
demikian tambahnya, temuan dokumen itu akan disusul berita bohong mengenai ditemukannya
kuburan massal korban kekejaman komunis.
Situasi Jakarta pada September 1965 amat sangat tegang. Di kalangan PKI beredar
"dokumen" rencana jahat Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta
pada 5 Oktober 1965, menyusul makin parahnya kondisi kesehatan Bung Karno. Jika
kudeta ini berhasil, Angkatan Darat akan melenyapkan semua kader PKI. Sedang
di kalangan militer menyebar dokumen rencana PKI untuk mengambil alih kekuasaan
dan menghabisi para jenderal.
"Dokumen" ini muncul tidak lama setelah beredarnya isu memburuknya
kesehatan Bung Karno. Isu ini menyebabkan lenyapnya sandang-pangan di pasaran.
Akan halnya isu mengenai memburuknya kesehatan Bung Karno, disebut-sebut bersumber
dari hasil diagnosa tim dokter RRC yang memeriksa Bung Karno, yang laporannya
dikirim ke Beijing. Walaupun nantinya tim dokter RRC kaget karena tidak pernah
membuat laporan demikian, tetapi informasi palsu ini telanjur menimbulkan guncangan
politik dalam masyarakat.
Menurut Ralph McGehee dan sejumlah mantan staf CIA lainnya, pola disinformasi
merupakan prosedur baku dalam operasi rahasia CIA. Tujuannya mendiskreditkan
pemimpin atau kelompok yang dianggap menghalangi kepentingan AS.
Kemudian melalui Divisi Pelayanan Teknis CIA, yang mempunyai jaringan atas
ratusan media massa di AS dan di berbagai negara di dunia, informasi ini disajikan
kepada publik sebagai suatu "temuan besar". Inilah juga yang dilakukan
CIA untuk mematangkan situasi menjatuhkan Presiden Arbenz di Guatemala tahun
1954, Soekarno (1965-1966), Allende di Cile (1973), Juan Torres di Bolivia (1971),
Arosemana di Dominika (1963), Joao Goulart di Brasil (1964), dan sejumlah kepala
pemerintahan lainnya.
Pemalsuan dokumen itu begitu canggihnya, hingga sulit mengatakan itu palsu.
Terbukti, misalnya, Subandrio sampai perlu melaporkan dokumen Dewan Jenderal
itu sepekan sebelum meletusnya G30S. Bahkan sejumlah perwira yang loyal kepada
Bung Karno terpancing bertindak. Inilah memang yang dihendaki pembuat dokumen
palsu itu.
Perwira yang dipimpin Letkol Untung berencana menghadapkan para jenderal yang
namanya tercantum dalam daftar Dewan Jenderal untuk menghadap Bung Karno. Mantan
Panglima Angkatan Udara Omar Dani, yang baru saja menerbitkan biografinya, mengaku
mendengar rencana ini dari Mayor Heru perwira intelnya. Sementara Kolonel Latief,
empat jam sebelum meletusnya G30S, juga melaporkan adanya gerakan militer kepada
Jenderal Soeharto.
Sebaliknya, kegusaran pimpinan TNI AD yang antikomunis makin sulit dibendung
setelah pada awal September muncul berita di salah satu surat kabar Malaysia
yang mengutip sebuah koran di Bangkok, bahwa sebuah kapal mengangkut senjata
dari RRC sedang siap-siap berlayar menuju Indonesia. Diduga senjata tersebut
untuk memenuhi permintaan PKI, yang selama ini menuntut Pemerintah RI mempersenjatai
kaum buruh dan tani sebagai Angkatan V.
Berita dari luar negeri selalu dianggap kredibilitasnya tinggi, tetapi seandainya
pun hendak dilakukan pengecekan, jelas bukan hal mudah. Surat kabar Thailand
yang dikutip di Malaysia itu juga mengambil sumber "dipercaya" di
Hongkong, yang hingga saat ini tidak diketahui siapa itu.
Dalam situasi psikologis demikian, sebuah pemantik kecil akan membuka katup
banjir bandang amok. Mereka yang paham permainan perang urat saraf, sekarang
tinggal menggelindingkan bola ke arah mana. Pemain akan berebut mengejarnya.
Para perwira pimpinan Letkol Untung makin gerah pada akhir September, mengingat
rencana Dewan Jenderal melakukan kudeta 5 Oktober. Kasak-kusuk, sas-sus, dan
ditemukannya kembali "dokumen" rahasia, membuat mereka terjerumus
bertindak lebih dulu. Yang mengagetkan, seperti kata Omar Dani, para jenderal
itu bukannya dibawa menghadap Bung Karno, tetapi tewas dibunuh.
Syam Kamaruzaman, tokoh misterius yang menjadi penghubung DN Aidit dengan militer,
disebut-sebut memprovokasi Untung dan kawan-kawan, dengan memberi instruksi
menembak jenderal-jenderal kontrarevolusi itu jika memang diperlukan demikian.
Sejumlah tulisan mengenai sekitar G30S menyebut Syam tadinya intel Kodam Jaya.
Ia kenal baik dengan Soeharto pada waktu di Semarang. Ketika itu Syam menjadi
kader salah satu parpol yang kelak dibekukan Bung Karno. Letkol Untung, Kolonel
Latief, Brigjen Supardjo, Kolonel Suherman juga anak buah Soeharto di Kodam
Diponegoro.
Lebih menarik lagi, Brigjen Supardjo dan Kolonel Suherman, Asisten Intel Kodam
Diponegoro, belum lama kembali dari pendidikan militer di AS. Ini artinya, seperti
tulis Peter Scott, ia telah melewati prosedur seleksi ketat intelijen AS. Sedang
Banteng Raiders, Batalyon 454 dan 530, yang selama ini disebut-sebut menjadi
tulang punggung G30S, didatangkan dari Jateng atas perintah Jenderal Soeharto
melalui radiogram. Dua batalyon Raiders ini pernah mendapat bantuan pelatihan
dari Pentagon.
***
TANPA bermaksud mengungkap siapa yang bersalah dalam peristiwa berdarah tersebut,
menjadi sangat logis jika sejumlah pimpinan Angkatan Darat yang antikomunis
dan masyarakat luas lainnya kemudian bereaksi keras setelah terjadinya G30S.
Ditambah "bukti" pembantaian tujuh pahlawan revolusi secara "mengerikan",
menjadi petunjuk akhir bahwa "dokumen" yang ditemukan selama ini otentik.
Menurut McGehee, pada 23 Oktober 1965 lagi-lagi "ditemukan" dokumen
rahasia PKI. Temuan besar ini dimuat di sebuah surat kabar Jakarta yang masuk
jaringan CIA. Isi berita tersebut antara lain, "ditemukan jutaan kopi teks
proklamasi Gestapu....Teks... sangat jelas dicetak di RRC. Selain itu ditemukan
pula topi serta perlengkapan militer dalam jumlah besar. Ini merupakan bukti
yang tidak terbantah mengenai keterlibatan RRC... Sedang senjata dikirim dengan
kapal laut dengan berkedok kekebalan diplomatik..."
Tanggal 30 Oktober 1965, masih menurut McGehee, Jenderal Soeharto, dalam pertemuan
khusus dengan para jenderal dan perwira menengah lainnya, dengan nada gusar
mengatakan, penemuan dokumen tersebut menunjukkan PKI berada di balik peristiwa
G30S. Ia kemudian memerintahkan penumpasan komunis hingga ke akar-akarnya (communists
be completely uprooted).
Sejak itulah militer mulai melancarkan kampanye berdarah untuk membasmi hingga
ke akar-akarnya segala yang berkaitan dengan komunis. Elemen-elemen masyarakat
yang terjangkit histeria sosial digerakkan membentuk pagar betis. Banjir darah
terjadi di mana-mana. Jutaan manusia kehilangan orangtua, ibu, kakak atau adik.
Kedutaan RRC juga tidak luput dari amuk massa. Hubungan negara Tirai Bambu
dengan RI yang tadinya begitu mesra, berubah menjadi musuh mengerikan. Hubungan
diplomatik diputus. Suatu hal yang sangat didambakan AS untuk membendung pengaruh
RRC.
Di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, secara mengejutkan proses pembunuhan
berjalan sangat sistematis. Aksi sepihak yang dilancarkan BTI (Barisan Tani
Indonesia) merebut lahan "tuan tanah" pada masa sebelumnya, sekarang
dibalas tanpa ampun.
Kombinasi panik, dendam, dan ketakutan yang diekspresikan dalam amuk itu makin
gawat setelah setiap hari dikumandangkan melalui RRI: "dibunuh atau membunuh".
Para pejabat militer di daerah meneruskannya dengan mengulangi kalimat itu setiap
saat. Sedang pemancar gelap Suara Indonesia Bebas yang lokasinya entah di mana,
memberitakan aksi pembalasan yang dilakukan PKI di sejumlah daerah, pertempuran
sengit berlangsung di kompleks Merapi-Merbabu, CC PKI membangun basis gerilya
di Blitar Selatan, dan lain sebagainya. Berita fiktif ini membakar kepanikan
di banyak tempat.
Di luar Pulau Jawa, banjir darah paling dahsyat terjadi di Sumatera Utara.
Korban terbesar buruh perkebunan. Di Sumut saja sedikitnya 100.000 korban tewas.
Di Tapanuli Utara, Selatan, dan Simalungun, tatanan adat terjungkal setelah
milisi Komando Aksi Penumpasan G30S mulai bergerak menetralisir elemen-elemen
komunis. Mereka tidak peduli apakah calon korban adalah paman, satu marga atau
keluarga istrinya. Padahal hubungan yang dibentuk hirarki adat itu adalah simpul
keutuhan sosial.
Sama seperti di Jakarta, sebelum terjadinya pembantaian massal terhadap anggota
dan simpatisan PKI, di kota-kota kecil seperti di Sumatera Utara beredar pula
"dokumen" rahasia rencana jahat PKI.
***
KETIKA mayat-mayat mulai bergelimpangan, Kedubes AS di Jakarta memberi daftar
nama 5.000 kader PKI di berbagai organisasi kepada Jenderal Soeharto. Berbekal
dengan ini, Kostrad dan RPKAD bergerak cepat merontokkan organisasi komunis
tersebut, sebelum mereka sempat berbuat sesuatu.
Publik AS mengetahui peristiwa itu setelah Kathy Kadane mengumpulkan informasi,
kemudian menulisnya dalam Herald Journal (19/5/1990). Esok harinya San Francisco
Examiner menurunkannya di halaman depan, kemudian disusul Washington Post hari
berikutnya.
Markas CIA, melalui jubirnya Mark Mansfield, membantah keterlibatan badan intelijen
ini dalam pembunuhan massal. "Tuduhan itu jelas tidak mempunyai substansi
hanya karena memberi daftar nama semata-mata," ujarnya. Namun, bukti yang
dikemukakan Kathy Kadane membuat khalayak AS kali ini tidak percaya pada kebohongan
CIA.
Laporan Mansfield didasarkan pada pengakuan mantan Dubes AS di Jakarta, Marshall
Green. Tetapi, demikian tambahnya, Green tidak begitu banyak tahu detail soal
ini.
"Daftar nama kader PKI itu sangat membantu Angkatan Darat," ujar
Robert J Martens, mantan staf seksi politik di Kedubes AS di Jakarta, yang ditugaskan
menyusunnya. Daftar ini kemudian disampaikan Edward Master, Kepala Seksi Politik
Kedubes AS, kepada Adam Malik untuk diteruskan kepada Jenderal Soeharto.
Disebutkan, setiap saat Kedubes AS selalu mendapat laporan dari markas Jenderal
Soeharto mengenai "realisasi" daftar itu. "Amat sangat banyak
yang berhasil ditangkap waktu itu," ujar Josepf Lazarsky, Kepala Perwakilan
Stasiun CIA di Jakarta, bangga. Mengenai nasib mereka ini, Lazarsky berpegang
pada ucapan Soeharto, "Jika ditahan terus siapa yang akan memberi makannya."
AS melalui CIA sesungguhnya tidak hanya terlibat dalam memasok nama-nama kader
komunis. Dalam laporan Dubes Marshall Green ke Washington awal November tahun
itu, dikemukakan adanya permintaan senjata dari jenderal Angkatan Darat untuk
digunakan kelompok milisi di Jawa Tengah dan Jawa Timur menumpas PKI.
Hal itu juga dibenarkan Kathy Kadane dalam suratnya tujuh tahun kemudian setelah
tulisannya yang menggegerkan itu. Dalam surat untuk editor New York Review of
Books (10/4/ 1997) ia mengatakan, menit-menit Jenderal Soeharto memutuskan menumpas
komunis, Pentagon mengapalkan mobil-mobil jip, lusinan radio lapangan, dan persenjataan.
Salah satu radio dengan frekuensi tinggi dan yang paling canggih pada masa itu,
dipasang di Kostrad, markas Soeharto. Antenanya, kata Kathy Kadane, kelihatan
dipajang di depan. Melalui radio ini pula, intelijen AS tahu semua perkembangan,
karena komunikasinya disadap.
Namun, AS bukanlah pemain tunggal. Direktorat kontra intelijen luar negeri
Inggris, MI-6, dan Australia, juga terlibat dalam perang propaganda menjatuhkan
Soekarno. Dalam bukunya Britain's: Secret Propaganda War 1948-77, Paul Lashmar
dan James Oliver mengatakan, enam bulan sebelum pecahnya G30S, MI-6 mengirim
Norman Reddaway ke Jakarta atas permintaan khusus Dubes Inggris untuk RI, Sir
Andrew Gilchrist. Operasi rahasia yang selama ini dilakukan untuk menggerogoti
Presiden Soekarno, dinilai kurang manjur.
Pemerintah Inggris sendiri sangat berkepentingan dengan jatuhnya Bung Karno
untuk menghentikan kampanye konfrontasi ganyang Malaysia. Dalam hal ini MI-6
bergandengan dengan CIA.
Yang menarik adalah disebutnya nama Ali Murtopo, dalam hubungan rahasia stasiun
MI-6 di Singapura. Ketika konfrontasi ganyang Malaysia sedang berlangsung, Ali
Murtopo dikabarkan pernah ke Singapura. Informasi ini bocor sehingga menjadi
bahan pembicaraan.
Persoalan sekitar G30S tidaklah sesederhana apa yang dibolehkan Orde Baru diketahui
masyarakat selama ini. Jaringan intelijen asing yang sangat kompleks dan penuh
liku, membuat mustahil memahaminya.
Sama halnya seperti kita tidak akan pernah tahu peran apa yang dimainkan Agustus
C "Gus" Long, bos perusahaan minyak Texaco, korporasi raksasa dalam
skala dunia. Perusahaan ini, berpatungan dengan Socal (Standard Oil of California),
menguasai saham Caltex. Agustus 1965, Long yang juga Dewan Direktur Freeport
ditunjuk sebagai anggota dewan penasihat intelijen Presiden AS untuk urusan
luar negeri.
Sebelum jatuhnya Presiden Soekarno, Freeport mencoba lobi khusus melalui Presiden
Kennedy dan adiknya, Robert Kennedy, agar bisa memperoleh kontrak penambangan.
Bung Karno tidak bergeming, sehingga menimbulkan frustrasi eksekutif Freeport.
Dalam tulisannya JFK, Indonesia, CIA & Freeport Sulphur, Lisa Pease mengatakan,
dalam posisi sebagai penasihat intelijen Presiden AS untuk urusan luar negeri,
Long banyak mengetahui ihwal jatuhnya Bung Karno. Maka tidak heran begitu UU
PMA disahkan tahun 1967, yang pertama kali disetujui Soeharto adalah kontrak
Freeport.
Selain Long, pada periode 1960-an sampai 1970-an masih ada nama "sakti"
lainnya dalam jajaran dewan direktur, yaitu Robert Lovett. Mantan Asisten Menteri
Peperangan (PD II) dan kemudian menjadi Menteri Pertahanan ini, dijuluki sebagai
"arsitek perang dingin". Periode setelah itu muncul nama-nama baru
seperti mantan Menlu Henry Kissinger, menyusul lagi James Woolsey, mantan Direktur
CIA.
Mantan Direktur CIA Asia Timur Jauh, William Colby, menyebut sukses menumpas
komunis di Indonesia sebagai yang terbaik dan seperti dikehendaki.
Vietnam boleh jatuh ke tangan komunis. Kemudian akan menyusul negara-negara
tetangganya. "Tetapi, kita tidak akan membiarkan hal ini terjadi pada Indonesia,"
kata Presiden Eisenhower tahun 1953. Selain pertimbangan posisinya yang strategis,
kekayaan alamnya menempati urutan kelima di dunia. Tetapi, apakah untuk itu
mayat-mayat bergelimpangan?
Tidak ada yang bisa menjawabnya, sama seperti bertanya pada mayat korban peristiwa
mengerikan itu. AS dan segenap jaringan agen CIA, termasuk di Indonesia, akan
menyimpan rapat rahasia ini. Sebab jika ini terkuak, Pemerintah AS akan terkena
puting-beliung yang menghancurkan harga dirinya sebagai pendekar HAM, baik oleh
Kongres maupun masyarakat internasional.
Tidak hanya itu, sangat mungkin pula diseret ke pengadilan internasional dan
membayar kerugian bagi sedikitnya 5.000 korban daftar maut atau satu juta korban
tewas keseluruhan, jika keluarga korban menuntutnya. Bertrand Russel, pemikir
besar liberalisme, menyebut peristiwa ini sebagai hal amat mengerikan yang mustahil
bisa dilakukan manusia.
Namun, agaknya kita tidak peduli walaupun para perwira TNI akan diseret ke
mahkamah internasional berkaitan kasus Timtim, karena kita percaya Soeharto
yang telah memvonis PKI. Kita juga tidak peduli ketika para eksekutif korporasi
multinasional bergelimang dollar dan emas hasil "jarahan" dari Indonesia.
Di bawah benderang sinar lampu di Manhattan, mereka menghitung laba yang tidak
habis-habisnya. Sementara di Republik tercinta ini baku hantam sejak kemerdekaan
hingga sekarang terus berlanjut.
Kita adalah katak dalam tempurung yang sejati. (mt)

