Sekilas Saminisme Politik
Tanah Jawa itu bukan milik Hindia Belanda, bukan milik ratu, bukan milik jendral-jendral, bukan milik para gentho, melainkan milik keturunan Pandawa yaitu keluarga Majapahit. Entah itu nyata atau maya, tapi begitulah yang tersurat dalam sejarah Jawa versi Serat Punjer Kawitan karya tulisan tangan Samin Surosentiko (1859 ? 1914) yang ditemukan di Desa Tapelan, kawasan Blora, Jawa Tengah. Di sini termuat info bahwa Samin Surosentiko, sewaktu kecil bernama Raden Kohar, adalah seorang pangeran yang menyamar di kalangan rakyat wong cilik pedesaan.
Berdasar serat itulah Samin menghimpun kekuatan rakyat dan selanjutnya mengajak para pengikutnya melawan pemerintah Belanda dengan caranya sendiri. Bukan dengan kekerasan atau bedil, melainkan dengan menganggap angin pemerintah yang bengis! Antara lain dengan melakukan aksi empat penolakan yaitu menolak membayar pajak, menolak memperbaiki jalan, menolak jaga malam, dan menolak kerja paksa alias rodi. Itulah laku anarki sejati yang mulia ajaran eyang Samin. Pasifisme aktif mirip Gandhi. Ke-bloon-an ceria nan pintar mirip-mirip aksi para rahib Eropa zaman pertengahan dalam menggembosi kekejaman kongkalikong antara feodalisme istana dengan amburadul hirarki gereja pada masanya.
Tentu saja bukan sekedar berdasar Serat Punjer Kawitan saja Samin membangkang pemerintah. Tetapi atas dasar totalitas dirinya. Ini secara empirik muncul dalam aneka ajaran karyanya. Di antaranya adalah ajarannya tentang negara, dalam Serat Pikukuh Kasajaten. Menurut Samin, negara akan terkenal, disegani dan bisa menjadi tempat berlindung rakyat apabila para warga tekun dalam ilmu pengetahuan dan hidup damai.
Sekitar seabad kemudian, menyikapi sepak terjang eyang Samin itu, Pemda Blora abad ke-21 memaklumkan dia sebagai pahlawan lokal yang amat berjasa. Ini cukup membingungkan dan kontradiktoris dalam konteks NKRI Orde Baru jilid baru. Jika Samin masih hidup, agaknya akan rajin mendemo rezim Jakarta, semisal mengajak pengikutnya ramai-ramai menolak bayar pajak. Golput zaman sekarang ini relatif lebih lunak dibandingkan “golput”-nya Samin. Golput cuma bergerak di bidang pemilu. Apalagi jika urusannya cuma di sekitar coblos mencoblos, kaum Samin lebih tegas dan sarkastis dalam membangkang, “Ngapain nyoblos segala, tiap malam sudah nyoblos!” ujar pengikut eyang Samin, umpamanya bisa ngomong Jakarte. Memang, ekspresi yang secara gender masih berbau “maskulin lugu”. Yang mungkin bisa membuat kaum perempuan, atau para feminis radikal, tersinggung.
Kembali ke perkara empat penolakan di atas. Pada malam Kamis legi, 7 Pebruari 1889, Samin berceramah di tanah lapang Desa Bapangan Blora. Ia antara lain menyatakan, Tanah Jawa bukan milik Belanda, melainkan milik wong Jawa, maka tidak perlu membayar pajak. Justru sang pemilik harus memanfaatkan miliknya. Begitulah, maka pohon-pohon jati di hutan ditebangi, untuk dimanfaatkan penduduk, sebab pohon-pohon itu warisan dari Pandawa. Tentu saja Pemerintah Belanda murka. Lalu menangkapi para tokoh ajaran Samin.
Riwayat Singkat Samin
Samin Surosentiko lahir pada 1859 dengan nama Raden Kohar di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau Samin Sepuh. Ia mengubah namanya menjadi Samin Surosentiko sebab Samin adalah sebuah nama yang bernafas wong cilik. Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan Pengeran Kusumoningayu yang berkuasa di Kabupaten Sumoroto ( kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada 1802-1826.
Pada 1890 Samin Surosentiko mulai mengmbangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora. Banyak yang tertarik dan dalam waktu singkat sudah banyak orang menjadi pengikutnya. Saat itu pemerintah Kolonial Belanda menganggap sepi ajaran tersebut. Cuma dianggap sebagai ajaran kebatinan atau agama baru teri yang remeh temeh belaka.
Jelas, sikap meremehkan itu gegabah! Sebab, pada 1903 residen Rembang melaporkan terdapat 722 orang pengikut Samin yang tersebar di 34 desa di Blora bagian selatan dan Bojonegoro. Mereka giat mengembangkan ajaran Samin. Pada 1907, pengikut Samin sudah berjumlah sekitar 5000 orang. Pemerintah mulai merasa was-was sehingga banyak pengikut Samin yang ditangkap dan dipenjarakan.
Pada 8 Nopember 1907, Samin Surosentiko diangkat oleh pengikutnya sebagai Ratu Adil dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Kemudian 40 hari sesudah menjadi Ratu Adil itu, Samin Surosentiko ditangkap oleh asisten Wedana Randublatung, Raden Pranolo. Beserta delapan pengikutnya, Samin lalu dibuang ke luar Jawa, dan meninggal di luar jawa pada 1914.
Tahun 1908, Penangkapan Samin Surosentiko tidak memadamkan gerakan Samin. Pada 1908, Wongsorejo, salah satu pengikut Samin, menyebarkan ajarannya di Madiun, mengajak orang-orang desa untuk tidak membayar pajak kepada pemerintah. Wongsorejo dengan sejumlah pengikutnya ditangkap dan dibuang keluar Jawa.
Toh gerakan Samin tidak kapok dan masih nyentrik. Pada 1911 Surohidin, menantu Samin Surosentiko dan Engkrak salah satu pengikutnya menyebarkan ajaran Samin di Grobogan. Karsiyah menyebarkan ajaran Samin di kawasan Kajen, Pati. Perkembangannya tidak jelas. Antara mulur dan mungkret.
Tahun 1912, pengikut Samin mencoba menyebarkan ajarannya di daerah Jatirogo, Kabupaten Tuban. Lebih banyak mungkretnya katimbang mulurnya. Alias gagal.
Puncak geger gerakan Samin pada 1914. Pemerintah menaikkan pajak. Disambut oleh para pengikut Samin dengan pembangkangan dan penolakan dengan cara-cara nyentrik. Misalnya, dengan cara menunjukkan uang pada petugas pajak, "Iki duwite sopo?" (Ini uangnya siapa?), dan ketika sang petugas menjawab, "Yo duwitmu" (Ya uang kamu), maka pengikut Samin akan segera memasukkan duit itu ke sakunya sendiri. Singkat kata, orang-orang Samin misalnya di daerah Purwodadi dan di Balerejo, Madiun, sudah tidak lagi menghormati pamong Desa, polisi, dan aparat pemerintah yang lain.
Dalam pada itu, di Kajen Pati, Karsiyah tampil sebagai Pangeran Sendang Janur, mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membayar pajak. Di Desa Larangan, Pati orang-orang Samin juga meledek dan memandang para aparat desa dan polisi sebagai badut-badut belaka.
Di Desa Tapelan, Bojonegoro juga terjadi perlawanan terhadap pemerintah, dengan tidak mau membayar pajak.
Karena itu, teror dan penangkapan makin gencar dilakukan terhadap para pengikut Samin. Sebab diteror terus, lama-lama ya ketakutan. Sehingga pada sekitar 1930-an, perlawanan gerakan Samin terhadap pemerintah kolonial menguap dan terhenti. Penyebab utamanya adalah karena sepeninggal Samin, tidak terdapat figur pimpinan yang tangguh baik ke dalam mau pun ke luar. Ke dalam tidak mampu memadukan ide, platform, manajemen, organisasi sehingga terjadi konsolidasi lintas sektor di dalam gerakan untuk menuju target-target yang jelas. Dan ke luar, tidak mampu membuat jaringan dengan gerakan-gerakan perjuangan yang lain. Saminisme menjadi kesepian di jagat obsesinya sendiri!
Epilog
Memang, dalam konteks sesaat dan kepentingan jangka pendek, gerakan Samin dengan Saminismenya gagal melawan kesewenang-wenangan pemerintah. Tapi dalam tinjauan global universal jangka panjang, secara historis Samin telah memberi warna khusus dan insipirasi dalam sejarah perjuangan bangsa. Dia telah mampu menghimpun kekuatan yang cukup besar. Ajaran-ajarannya tidak hanya tersebar didaerah Blora saja, tetapi tersebar di beberapa daerah lainnya, seperti : Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Madiun, Jember, Banyuwangi, Purwodadi, Pati, Rembang, Kudus, Brebes, dan lain-lain. Meski orang-orang di kawasan Blora sendiri, yang bukan warga Samin, mencemoohkannya. Bukan saja pada masanya. Mungkin sampai sekarang.
Terpenting yang harus dicatat sebagai fakta metafisik sosial politik adalah, di tempat pertama, geger Samin bukan cuma disebabkan oleh faktor ketidakadilan ekonomis. Yang lebih penting adalah karena faktor-faktor kultural magis mistis Jawa yang religius. Pada hemat saya, yang paling dahsyat dalam gerakan Samin adalah mendobrak seluruh mitos pekerti Jawa konvensional yang digambarkan halus, serba nerimo atau mengalah, pasif, pesimistis dan radikal dalam hal-hal kovensional. Dalam geger Samin semua mata mestinya akan terbuka lebar-lebar, bahwa budaya Jawa itu ternyata juga bisa amat aktif, kreatif, berani, urakan, optimistis, dan terpenting “tak terduga” dalam arti mengisyaratkan nilai-nilai eskatologis dalam arti rohani vertikal dan futuristik dalam arti material
horizontal.
***

