Sosialisme dan Agama


syarikat - Posted on 06 October 2003

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Anonim (1997)

Diedit oleh Anonim (Desember 1998)


Masyarakat yang ada saat ini sepenuhnya didasarkan atas
eksploitasi yang dilakukan oleh sebuah minoritas kecil penduduk,
yaitu kelas tuan tanah dan kaum kapitalis, terhadap masyarakat luas
yang terdiri atas kelas pekerja. Ini adalah sebuah masyarakat
perbudakan, karena para pekerja yang "bebas", yang sepanjang hidupnya
bekerja untuk kaum kapitalis, hanya "diberi hak" sebatas sarana
subsistensinya. Hal ini dilakukan kaum kapitalis guna keamanan dan
keberlangsungan perbudakan kapitalis.

Tanpa dapat dielakkan, penindasan ekonomi terhadap para pekerja
membangkitkan dan mendorong setiap bentuk penindasan politik dan
penistaan terhadap masyarakat, menggelapkan dan mempersuram kehidupan
spiritual dan moral massa. Para pekerja bisa mengamankan lebih banyak
atau lebih sedikit kemerdekaan politik untuk memperjuangkan
emansipasi ekonomi mereka, namun tak secuil pun kemerdekaan yang akan
bisa membebaskan mereka dari kemiskinan, pengangguran, dan penindasan
sampai kekuasaan dari kapital ditumbangkan. Agama merupakan salah
satu bentuk penindasan spiritual yang dimanapun ia berada, teramat
membebani masyarakat, teramat membebani dengan kebiasaan mengabdi
kepada orang lain, dengan keinginan dan isolasi. Impotensi kelas
tertindas melawan eksploitatornya membangkitkan keyakinan kepada
Tuhan, jin-jin, keajaiban serta jang sedjenisnya, sebagaimana ia
dengan tak dapat disangkal membangkitkan kepercayaan atas adanya
kehidupan yang lebih baik setelah kematian. Mereka yang hidup dan
bekerja keras dalam keinginan, seluruh hidup mereka diajari oleh
agama untuk menjadi patuh dan sopan ketika di sini di atas bumi dan
menikmati harapan akan ganjaran-ganjaran surgawi. Tapi bagi mereka
yang mengabdikan dirinya pada orang lain diajarkan oleh agama untuk
mempraktekkan karitas selama ada di dunia, sehingga menawarkan jalan
yang mudah bagi mereka untuk membenarkan seluruh keberadaannya
sebagai penghisap dan menjual diri mereka sendiri dengaan tiket murah
untuk menuju surga. Agama merupakan candu bagi masyarakat. Agama
merupakan suatu minuman keras spiritual, di mana budak-budak kapital
menenggelamkan bayangan manusianya dan tuntutan mereka untuk hidup
yang sedikit banyak berguna untuk manusia.

Tetapi seorang budak yang menjadi sadar akan perbudakannya dan
bangkit untuk memperjuangkan emansipasinya ternyata sudah setengah
berhenti sebagai budak. Para buruh modern yang berkesadaran-kelas,
digunakan oleh industri pabrik skala besar dan diperjelas oleh
kehidupan perkotaan yang merendahkan kedudukan di samping
prasangka-prasangka religius, meninggalkan surga kepada parra pastur
dan borjuis fanatik, dan mencoba meraih kehidupan yang lebih baik
untuk dirinya sendiri di atas bumi ini. Proletariat sekarang ini
berpihak pada sosialisme, yang mencatat pengetahuan dalam perang
melawan kabut agama, dan membebaskan para pekerja dari keyakinan
terhadap kehidupan sesudah mati dengan mempersatukan mereka bersama
guna memperjuangkan masa sekarang untuk kehidupan yang lebih baik di
atas bumi ini.

Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Dalam kata-kata
inilah kaum sosialis biasa menyatakan sikapnya terhadap agama. Tetapi
makna dari kata-kata ini harus dijelaskan secara akurat untuk
mencegah adanya kesalahpahaman apapun. Kita minta agar agama dipahami
sebagai sebuah persoalan pribadi, sepanjang seperti yang diperhatikan
oleh negara. Namun sama sekali bukan berarti kita bisa memikirkan
agama sepanjang seperti yang diperhatikan oleh Partai. Sudah
seharusnya agama tidak menjadi perhatian negara, dan masyarakat
religius seharusnya tidak berhubungan dengan otoritas pemerintahan.
Setiap orang sudah seharusnya bebas mutlak menentukan agama apa yang
dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun, yaitu, menjadi seorang
atheis, dimana bagi kaum sosialis, sebagai sebuah aturan.
Diskriminasi diantara para warga sehubungan dengan keyakinan agamanya
sama sekali tidak dapat ditolerir. Bahkan untuk sekedar penyebutan
agama seseorang di dalam dokumen resmi tanpa ragu lagi mesti
dibatasi. Tak ada subsidi yang harus diberikan untuk memapankan
gereja, negara juga tidak diperbolehkan didirikan untuk masyarakat
religius dan gerejawi. Hal-hal ini harus secara absolut menjadi
perkumpulan bebas orang-orang yang berpikiran begitu, asosiasi yang
independen dari negara. Hanya pemenuhan seutuhnya dari tuntutan ini
yang dapat mengakhiri masa lalu yang memalukan dan keparat, saat
gereja hidup dalam ketergantungan feodal pada negara, dan rakyat
Rusia hidup dalam ketergantungan feodal pada gereja yang mapan,
ketika di jaman pertengahan, hkum-hukum inquisisi (yang hingga hari
ini masih mendekam dalam hukum-hukum pidana dan pada kitab
undang-undang kita) ada dan diterapkan, menyiksa banyak orang untuk
keyakinan maupun ketidakyakinannya, memperkosa hati nurani
orang-orang, dan menggabungkan pemerintah yang enak dan pendapatan
dari pemerintah, dengan dispensasi ini dan itu yang membiuskan, oleh
lembaga gereja. Pemisahan yang tegas antara lembaga Negara dan Gereja
adalah apa yang dituntut proletariat sosialis mengenai negara modern
dan gereja modern.

Revolusi Rusia harus memberlakukan tuntutan ini sebagai sebuah
komponen yang diperlukann untuk kemerdekaan politik. Dalam hal ini,
revolusi Rusia berada dalam sebuah posisi yang menyenangkan, karena
ofisialisme yang menjijikkan dari otokrasi feodal polisi berkuda
telah menimbulkan ketidakpuasan, keresahan, dan kemarahann bahkan di
antara para pendeta. Serendah-rendahnya dan sedungu-dungunya pendeta
Orthodoks Rusia, mereka pun sekarang telah dibangunkan oleh guntur
keruntuhan tatanan abad pertengahan yang kuno di Rusia. Bahkan mereka
yang bergabung dalam tuntutan untuk kebebasan, memprotes
praktek-praktek birokratik dan ofisialisme, hal memata-matai
polisiyang sudah ditetapkan sebagai "pelayan Tuhan". Kita kaum
sosialis harus memberikan dukungan kita pada gerakan ini, mendukung
tuntutan para pendeta yang jujur dan tulus hati menuju ke tujuan
mereka, membuat mereka meyakini kata-kata mereka tentang kebebasan,
menuntut bahwa mereka harus memutuskan semua hubungan antara lembaga
keagamaan dan kepolisian. Seperti juga bagi Anda yang tulus hati, di
tiap kasus Anda harus mempertahankan pemisahan antara Gereja dengan
Negara dan sekolah dengan Agama, sepanjang agama sudah dinyatakan
secara tuntas dan menyeluruh sebagai urusan pribadi. Atau Anda tidak
menerima tuntutan-tuntutan konsisten tentang kebebasan ini, dalam
kasus dimana Anda tetap terpikat dengan tradisi inkuisisi, dalam
kasus dimana Anda tetap berpegang teguh dengan kerja pemerintahan
yang enak dan pendapatan dari pemerintah, dalam kasus dimana Anda
tidak percaya terhadap kekuatan spiritual dari senjatamu dan
melanjutkan untuk mengambil suap dari negara. Dan dalam kasus itulah
para pekerja berkesadaran-kelas di seluruh Rusia menyatakan perang
tanpa ampun terhadap Anda.

Sepanjang yang diperhatikan kaum sosialis proletariat, agama
bukanlah sebuah persoalan pribadi. Partai kita adalah sebuah asosiasi
dari para pejuang maju yang berkesadaran kelas, yang bertujuan untuk
emansipasi kelas pekerja. Sebuah asosiasi seperti itu tidak dapat dan
tidak seharusnya mengabaikan adanya kekurangan kesadaran- kelas,
ketidaktahuan atau obscurantisme (isme kekaburan, ketidakjelasan)
dalam bentuk keyakinan-keyakinan agama. Kita menuntut pembinasaan
sepenuhnya terhadap Gereja dan dengannya mampu menerangi kabut
religius yang begitu ideologis dan dengan sendirinya senjata
ideologis, dengan sarana pers kita dan melalui kata dari mulut. Namun
kita mendirikan asosiasi kita, Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia,
tepatnya untuk sebuah perjuangan melawan setiap agama yang menina
bobokan para pekerja. Dan bagi kita perjuangan ideologi bukan sebuah
urusan pribadi, namun persoalan seluruh Partai, seluruh proletariat.

Jika memang demikian, mengapa kita tidak menyatakan dalam Program
kita bahwa kita adalah atheis? Mengapa kita tidak melarang
orang-orang Kristen dan para penganut agama Tuhan lainnya untuk
bergabung dalam partai kita?

Jawaban terhadap pertanyaan ini akan memberikan penjelasan tentang
perbedaan yang cukup penting dalah hal persoalan agama yang
ditampilkan oleh para demokrat borjuis dan kaum Sosial-Demokrat.

Program kita keseluruhannya berdasar pada cara pandang yang
ilmiah, dan lebih jauh materialistik. Oleh karenanya, sebuah
penjelasan mengenai program kita secara amat perlu haruslah
memasukkan sebuah penjelasan tentang akar-akar historis dan ekonomis
yang sesungguhnya dari kabut agama. Propaganda kita perlu memasukkan
propaganda tentang atheisme; publikasi literatur ilmiah yang sesuai
--dimana pemerintah feodal otokratis hingga saat ini telah melarang
dan menyiksa-- yang pada saat ini harus membentuk satu bidang dari
kerja partai kita. Kita sekarang mungkin harus mengikuti nasehat yang
diberikan Engels kepada kaum Sosialis Jerman: menterjemahkan dan
menyebarkan literatur intelektual Pencerahan Perancis abad ke-18 dan
kaum atheis. [36]

Namun bagaimanapun juga kita tidak boleh dan tidak patut untuk
jatuh dalam kesalahan menempatkan persoalan agama ke dalam sebuah
abstrak, kebiasaan jang idealistik, sebagai sebuah masalah
"intelektual" yang tak berhubungan dengan perjuangan kelas, seperti
yang tidak jarang dilakukan oleh kaum demokrat-radikal yang ada di
antara kaum borjuis. Tentulah bodoh untuk berpikir bahwa, dalam
sebuah masyarakat yang berdasar pada penindasan tanpa akhir dan
merendahkan massa pekerja, prasangka-prasangka agama bisa
disingkirkan hanya melalui metode propaganda melulu. Inilah
kesempitan cara berpikir borjuis yang lupa bahwa beban agama yanng
memberati kehidupann manusia sebenarnya tak lebih adalah sebuah
produk dan refleksi beban ekonomi yang ada di dalam masyarakat. Tak
satupun dari famplet khotbah, berabapun jumlahnya, dapat memberi
pencerahan pada kaum proletariat, jika ia tidak dicerahkan dengan
perjuangannya sendiri melawan kekuatan gelap dari kapitalisme.
Persatuan dalam perjuangan revolusioner yang sesungguhnya dari kelas
kaum tertindas untuk menciptakan sebuah sorgaloka di bumi, lebih
penting bagi kita ketimbang kesatuan opini proletariat di taman
firdaus surga.

Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kita tidak dan tidak akan
menyatakan atheisme dalam program kita, itulah mengapa kita tidak
akan dan tidak akan melarang kaum proletariat yang tetap memelihara
sisa-sisa prasangka lama untuk menggabungkan diri mereka dengan
Partai kita. Kita akan selalu mengkhotbahkan cara pandang ilmiah, dan
hal itu essensial bagi kita untuk memerangi ketidakkonsistenan dari
berbagai aliran "Nasrani". Namun bukan berarti bahwa pada akhirnya
persoalan agama akan dikembangkan menjadi persoalan utama, sementara
hal itu sudah tidak dipersoalkan lagi, atau bukan pula berarti bahwa
kita akan membiarkan semua kekuatan dari perjuangan ekonomi dan
politik revolusioner yang sesungguhnya untuk dipilah-pilah mengikuti
opini tingkat ketiga ataupun ide-ide yang tidak masuk akal. Karena
hal ini akan segera kehilangan semua arti penting politisnya, segera
akan disapubersih sebagai sampah oleh perkembangan ekonomi.

Dimanapun kaum borjuis reaksioner hanya memperhatikan dirinya
sendiri, dan sekarang sudah mulai memperhatikan dirinya di Rusia,
dengan menggerakkan perselisihan agama --karenanya dalam rangka
membelokkan perhatian massa dari problem-problem ekonomi dan politik
yang demikian penting dan fundamental, pada saat ini diselesaikan
dalam praktek oleh semua proletariat Rusia yang bersatu dalam
perjuangan revolusioner. Kebijaksanaan revolusioner yang
memecahbelahkan kekuatan kaum proletariat, dimana pada saat ini
manifestasinya muncul dalam program Black-Hundred, mungkin besok akan
menyusun bentuk-bentuk yang lebih subtil. Kita, pada setiap tingkat,
akan melawannya dengan tenang, secara konsisten dan sabar berkhotbah
tentang solidaritas proletarian dan cara pandang ilmiah --seorang
pengkhotbah yang asing pada apapun hasutan-hasutan perbedaan
sekunder.

Kaum proletariat reevolusioner akan berhasil dalam membentuk agama
menjadi benar-benar urusan pribadi, sejauh yang diperhatikan oleh
negara. Dan dalam sistem politik ini, bersih dari lumut-lumut abad
pertengahan, kaum proletariat akan keluar dan membuka pertarungan
untuk mengeliminasi perbudakan ekonomi, sumber yang murni dari segala
omong kosong relijius manusia.

Novaya Zhizn, No. 28.

3 Desember, 1905

Tertanda: N. Lenin

Diterbitkan sesuai dengan teks yang dalam Novaya Zhizn

Catatan

36. lihat Frederick Engels,
"Flüchtlings-Literatur", Volksstaat, No. 73, 22/6/1874, halaman
86.

from the Marxist Writers
Internet Archive