syair setambul tanahair

o jauh di mata
dalam kenangan
tetap terbayang*

tanah air tanah dan air
tumpah darah darah tumpah

dari guagarba dan pangkuanmu
tumbuh menghampar
segala aneka rupa kekayaanmu

dari rumputliar sampai padi
dari tumbuhan racun sampai penawar
dari pasir tanah sampai pasir permata

dari suburmu juga telah lahir
anak-anak tanah dan airmu
nyaring suara tanpa kentara
suara mencari kemerdekaan

dari cakrawalamu juga terbit
nafas demi nafas siang malam
lembut mendesau tanpa kentara
nafas-nafas perlawanan

aku terharu
siang malam 'ku menanti-nanti
tetap dan pasti
sehidup semati aku di sampingmu**

engkaulah itu! o, semua-muamu
lahir di tengah kancah
pencarian dan perlawanan
mencari ruang di tanah sendiri

engkaulah itu! o, semua-muamu
emoh menjadi duplikat dewatacengkar
tumpah darahmu ditutup sehelai destar
ajisaka yang bersimarajalela

adapun engkau, o semua-muamu
lenyap di dasar laut dalam kisah
bajulputih yang tak pernah timbul

pucuk-pucuk nyiurmu melambai-lambai
pucuk-pucuk bambumu berseru-seru
dari ujung barat sampai ke timur
dari garis utara sampai ke selatan

lambaian kebebasan
seruan kebebasan
yang hilang

sampai sekarang!
sampai sekarang!

kapan datang?
kapan datang?

* dari setambul "o, jauh di mata", anonim
** dari setambul "baju biru", hardiman

kockengen, 04 08 03