Syarikat Indonesia Regional Jawa Timur


syarikat - Posted on 24 May 2006

Ceramah Agama dan Diskusi

KH. Solahudin Wahid (Gus Sholah) / PP Tebuireng Jombang :

Dalam Surat Ali Imron kita diharapkan jadi orang yang bertakwa, yaitu orang yang mau memberi maaf. Kita lihat sekarang apa yang ada di depan kita. Beberapa hari yang lalu saya membaca pernyataan dari Presiden Afrika Selatan bahwa perjuangan  rekonsiliasi Afrika Selatan bukan pekerjaan yang mudah. Afrika Selatan beruntung mempunyai tokoh Nelson Mandela. Dia mengatakan  akan memberi maaf kepada orang-orang yang telah membuat dia menderita dan mengajak untuk merajut kembali persaudaraan. Kuncinya adanya tokoh yang menjadi penggerak dan motivator.

Di Indonesia banyak sekali peristiwa yang  menyebabkan konflik. Menjelang reformasi, peristiwa Tri Sakti, Semanggi I, II. Di  Sambas, Ambon dan Poso. Sampai hari ini di Poso masih terjadi kekerasan, sampai ada mutilasi. Gus Dur melontarkan gagasan pencabutan Tap MPRS 66. Mungkin ia terinspirasi oleh Nelson Mandela. Gus Dur saat itu ada di luar negeri sehingga tidak tahu sepenuhnya tentang peristiwa 65. Bagaimana kita? Kita mau rekonsiliasi tidak dan kenapa rekonsiliasi ini tidak jalan? Karena pertama, persepsi pada peristiwa tidak sama. Kedua, saling menyalahkan satu sama lain. Ketiga, para pelaku mengelak dari tuduhan. Sekali lagi saya katakan belum ada tokoh yang mampu menjadi motivator rekonsiliasi.

Ulama tentu saja menganjurkan adaya rekonsiliasi. Tidak menggantungkan pada Negara dan KKR yang sampai saat ini belum jelas. Saya ingin melihat kenyataan seperti apa adanya. Sangat traumatic bagi keluarga korban dan pelaku tindak kekerasan. Saya membaca cerita Hartiningsih. Saya menangis membaca cerita tersebut.

Bulan Oktober 1965, mulai terjadi tindak kekerasan. Waktu itu tidak ada alat komunikasi. Kenapa kawan-kawan kita melakukan tindakan seperti itu. Anggota Ansor yang datang ke  Jakarta, saat ditanya oleh keluarga Gus Solah, menjawab karena situasi menciptakan demikian.

Cerita lain ada seorang putri bahwa ayahnya merasa salah. Kemudian ia mendatangai korban. Lalu diperingatkan oleh ayahnya “kamu tidak perlu melakukan itu. Kemudian ia di usir, lalu ia pergi.

Kita harapkan upaya rekonsiliasi sosial budaya menjadikan korban memperoleh hak-hak mereka. Bagaimana kita merajut kembali persaudaraan kita. Cukup berat memang.

 

Pdt. Ruswanto Tiknohadi (Banyuwangi) :

Terima kasih. Babak ibu saudara. Disini Bapak Ruswanto dikatakan sebagai pendeta. Tapi disini saya tandaskan bahwa saya bukan pendeta. Tapi paham sebagai pengkabar injil. Bagi saya ibu dalam bahasa arabnya kumna.

Sebetulnya landasan semua kita nanti adalah dari kalangan kita ini di dalam rangka merajut silaturahmi sesungguhanya apa yang dilakukan di Gereja tercantum dalam ajaran baku, khususnya dalam ajaran Gereja Jawi Wetan.

Salib, yang ke atas mencintai yang atas dengan akal dan budi. Yang ke samping yaitu mencintai sesama. Sebagaimana yang dimuat di matius dinyatakan kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap akal budimu, jiwamu. Kasihilah sesama seperti dirimu sendiri.

Ringkasan dari ini sesungguhnya apa uang dibuat orang lain, bagaimana saya melakukan lebih dulu. Apakah ada orang yang mau menjatuhkan diri sendiri? Tidak ada.

Saya mau saudara-saudara berbuat tertib tetapi belalah mereka yang lemah. Bagi kami rekonsiliasi bagaimana dilakukan lebih dahulu dengan hukum. Jadi rekonsiliasi pada hakikatnya permintaan ampunan. Dalam UU KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) pasal 27 harus ditinjau kembali. Jadi, di sana ada beberapa pasal yang perlu ditinjau.

Bagaimana rekonsiliasi perlu dikembangkan sampai akar rumput. Para pimpinan agama bersatu dalam sikap untuk mengungkap sejarah yang masih penuh mistrei. Saya seorang guru Vaksentral, saya baru dibebaskan akhir 1979-an. Setelah saya pulang saya dijumpai saudara-saurdara Syarikat. Saya menitikkan air mata, karena ada anak-anak nahdliyin yang memperhatikan.

Leonard :

Saya setuju dengan pendapat Dr Arif Budiman. Kalu kita ingin membuat peta konflik yang dialami bangsa ini. Pertama, konflik perimbangan kekuasaan pusat dan daerah. Kedua, pertarungan ideologi pancasila dan komunisme. Dampak psikologis peristiwa 65 masih terasa sampai kini bahkan terwariskan. Ketiga, persaingan sosio ekonomi dan budaya. Pandangan antara mereka yag disebut China dan Pribumi. Apakah masih relevan istilah tersebut ? Keempat, pertikaiaan dan persaingan berabad-abad antara Islam dan Kristen. Itulah garis besar peta konflik yang kita miliki.

Nah, bagaimana peran kelompok agama disini? Bukankah justru elit-elit agama yang mendorong unculnya perpecahan di antara kita. Dalam kilasan sejarah yang mengambil keputusan pasti orang-rang besar.

Siapakah yang mengobarkan api agar orang mau mati untuk agama? Terlalu berharap kita mengharapkan pada kelompok elit agama. Orang harus berdamai. Saya pikir harus belajar untuk percaya pada orang kecil dari pada orang besar yang duduk di belakang kursi. Kita harus lebih percaya pada anak-anak kita. Pada mereka yang selama ini tidak diperhituungkan sebagi agen perdamian.

Bukan berarti kelompok agama tidak punya peran. Kekuasaan bisa jadi positif untuk mendorong rekonsiliasi. Dalam situasi masyarakat yang besar ketergantungan pada ulama, pendeta, kita bisa meminta pada mereka untuk menggunakan otoritasnya untuk menyuarakan kebaikan antar sesama. Saya ingat suatu saat gereja katolik di Surabaya, KH Said Agil Siraj untuk naik ke atas mimbar pada hari Minggu. Itu menjadi preseden bagi kaum Katolik. Itu berarti otoritas di setara dengan room. Gus Solah bagi saya adalah panutan iman.

Hal yang kedua, yang bisa dilakukan elit agama adalah meminta maaf. Simple sederhana tapi sulit dilakukan. Paus Paulus mau minta maaf kepada kaum Yahudi. Bukan hanya itu beliau juga meminta maaf atas perang saling 10 abad yang lalu. Akan tetapi warisan kebencian masih terwariskan sampai sekarang. Padahal pelaku perang sadah pada meninggal. Institusi religius mesti meminta maaf kalau kita ingin melahirkan masa depan baru.

Saya kira demikian. Tidak ada agenda tetapi potensi masa depan dilakukan mulai dari hal yang kecil. Tuhan memberkati kita semua.

Imam Aziz (Direktur Syarikat Indonesia) :

Posisi saya berbeda dengan nara sumber yang lalu. Saya santri jadi kami para penggagas dari forum ini masih santri, belum kyai. Dalam posisi itu memang untuk merajut silaturahmi dalam trdisi pesantren, santrilah yang harus sowan ke kyainya. Kita sudah memulai program ini sejak 2001. Agak lama. Dimulai dari ketika itu, mengenai pentingnya merajut kembali persaudaraan yang pernah terluka.

Upaya untuk merajut ini bertahap. Dalam UU KKR disebutkan rekonsiliasi harus dimulai dari pengungkapan fakta. Ada empat hal tragedi 65 yang harus dicermati. Pertama, mengenai G 30 S. Karena hanya orang-orang elit yang tahu sebetulnya G 30 S. Perdebatan soal itu kita belum selesai. Apa betul yang terlibat itu PKI, Soeharto atau Soekarno? Kita belum tahu. Sampai sekarang pun belum ada kesepakatan. Kedua, fakta tentang pembantaian orang-orang yang dituduh atau tertudah sebagai pemberontak G 30 S. Korban mencapai jutaan jiwa. Ketiga, penyiksaan dan pemenjaraan tanpa proses hukum. Kita yang hadir disini adalah orang-orang yang pernah mengalami ini semua. Keempat, stigmatisasi baik itu keluarga korban baik tadi yang dipenjara, disiksa dan dikucilkan dari masyarakat sampai yang sampai sekarang masih terjadi.

Kebanyakan kita selalu berdebat soal G 30 S, tapi fakta kedua, ketiga dan keempat, kita sulit mengungkapnya. Kita sama-sama mengalami trauma dan mungkin stigma yang sama. Inilah rumitnya tragedy 65 terletak pada sulitanya mengurai. Kunci bagi Syarikat adalah mencari pendukung dan teman sebanyak-banyaknya. Terutama dari kalangan nahdliyin sendiri, secara formal dari pengurus NU. Kita sudah sowan ke pengurus-pengurus NU baik kyai formal pengurus mupun kyai kultural.

Pada tahun 90-an, pada waktu itu Kyai Yusuf Hasyim datang ke Yogja karena ada teman saya yang jual buku pak Pram (Pramoedya Ananta Toer). Penjual itu ditangkap, dipenjara dan dipecat dari UGM (Universitas Gajah Mada). Yang membela adalah Kiai Yusuf Hasyim dari Tebuireng (Jombang). Kami meminta pada beliau untuk mendukung usaha-usaha untuk membebaskan. Kami merasa ini persoalan luar biasa. Bahwa di Syarikat kadang-kadang muncul rasa takut. Makanya orang takut pasti cari temen. Kita beruntung misalnya pada forum ini hadir Gus Solah yang posisinya kini kembali sebagai Pengasuh (Pondok Pesantren) Tebuireng. Serah terimanya bulan Juli nanti. Juga disini terlihat hadir kyai-kyai dari Jombang (Kiai Hasan Tambakberas, Fatayat Jatim, Ibu guru dari Jakarta, Komnas Perempuan dari Jakarta, Bu Mida). Jadi kita ingin memperbanyak teman.

Tetapi bahwa urusan fakta itu urusan berikutnya. Yang paling penting adalah ada rasa kesetiakawanan diantara kita. Ingatan mengenai dendam dan seterusnya mulai ditanggalkan. Karena Selama masih ada itu, kita sulit mengungkap fakta-fakta di atas.

SESI  DIALOG

Solihin SH. (Sumenep Madura) Telp.  032-866199

Terima kasih pada nara sumber yang telah memberi pandangan apa yang dinamakan Tragedy 65 sampai saat sekarang. Dalam korban 65 tingkat pusat dan daerah sudah ada lembaga, seperti  LPRKROB, Paguyuban Korban 65, LPKP dan YPKP. Tentu dalam kesempatan ini saya salut atas kehadiran Gus Solah yang saat itu menjadi anggota Komnas HAM. Di situ ada pengungkapan yang masih terbelenggu. Pasca peristiwa 65 yang jelas-jelas banyak memakan korban. Jadi pelaku jelas atas perintah ketua tim screening yang pada waktu itu tentara. Dan tentara karena itu ada perintah diatasnya pemerintah daerah dan disitu ada komkamtib yang mendapat perintah Presiden yang saat itu soeharto. Saat sekarang tidak mempunyai daya apapun kecuali ada seperti Syarikat, pendeta, kelompok agama seperti Gus Solah. Maka saya titip pada Gus Solah untuk memperjuangkan nasib kami.

Kalu kita berbicara rekonsiliasi nasional yang digagas pemerintah, yang terpenting dalam ini satu sama lain harus bisa membedakan siapa pelaku pembantaian 65-66. Sedangkan korban jelas kita-kita ini sampai korban keturunan. Sekarang kita mendapat ujuian tentang tanggapan pemerintah. Kalau kita lihat beberapa bulan yang lalu ada tamu pengemplang BLBI. Lantas sekarang ada isu tutup pemerikasaan Soeharto. Tapi dalam Tap MPR mengharuskan pemberantasan korupsi. Saya minta kesadaran para nara sumber untuk mengungkap peristiwa 65 yang sebenarnya tidak perlu dirumitkan. Terakhir saya sampaikan pada Syarikat ucapan terima kasih yang tak terhingga.

Ibu Putmainnah (Blitar)

Saya masuk dalam laskar Persindo dan sebagai Gerwani mendidik perempuan Indoensia duduk bersama setara dengan laki-laki. Saya kumpul bersama Sarwo Edi Wibowo. Saya tertangkap di Blitar dan dibuang berpindah-pindah, sampai akhirnya dibuang di plantungan Selama 10 tahun. Saya bebas tahun 1978. Kakek saya H. Abdurrahman takut sekali menemui saya. Setelah pertemuan dengan Lakpesdam saya terkesan bagaimana anak-anak NU untuk mengerti sejarah 65. Sejarah kebenaran 1 Oktober ini dikuasai oleh generasi kita. Kalau saya sudah tua. Kami rasa sekian saja ungkapan perasaan kami.

KH. Hasan (PP. Tambak Beras Jombang)

Bismillahirrohmanirrohim

Saya mohon maaf yang sampaikan tidak runtut. Dan kami tidak bisa mengungkapkan fakta-fakta. Berbicara rekonsiliasi kata kuncinya yaitu ketulusan untuk hidup bersama berdampingan dan ketulusan untuk meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan. Kita adalah satu kelompok dalam keseluruhan zaman. Ditambh lagi, kita juga mau metani koreksi diri (instropeksi) sehingga rekosiliasi bisa terwujud.

Kemudian toleransi, saya teringat dengan Bapak Wahid Hasyim sebagai perintis kemerdekaan. Kami ingat dengan jiwa besar tokoh Indonesia yang mau menghapus tujuh kata (dalam rumusan Pancasila). 

Kedua, masalah perbedaan pikiran dan pendapat. Sampai sekarang bangsa ini belum merdeka betul. Segala tingkah laku dan perbedaan masih tergantung pada situasi internasional. Untuk itulah kita harus berpikir seperti yang diamanatkan UUD 45 yaitu ikut mewujudkan perdamaian dunia. Selama ini kita didikte terus, kita tidak bisa mewujudkan itu. Sampai sekarang isu-isu yang mengadu domba adalah perpanjangan isu internasional.

Ketiga, peran tokoh agama saya kira setuju ketika kita mau kembali pada agama. Karena agama ya rohmatallilalamiin yang pasti tidak ingin mencari perbedaan. Terima kasih dan mohon maaf.

Sulasto (Jombang).

Pada waktu perubahan orla ke orba saya menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDI 88. Saya bukan seorang PKI tapi sejak orde baru saya dikomuniskan. Di PKI kan terus. Selama jadi Ketua Cabang kalau dulu mengikuti pencalonan anggota DPRD tidak lulus kalau ada litsus. Saya sudah urus dari pihak berwajib Kodam. Saya ke Mabes ABRI dilempar ke Dirjen Sospol dilempar lagi ke Mendagri. Saya ketemu Rudini. Jadi kalau peristiwa saya amati, saya simpulkan komunis itu jadi alat kekuasaan untuk membungkam kelompok yang kritis pada kekuasaan. Tahun 67 yang berani melakukan kegiatan kaderisasi PDI yang di desa saya. Saya kira cukup sekian.

TANGGAPAN NARA SUMBER

Leonard :

Kebanyakan pertanyaan yang disampaikan bukan pertanyaan tetapi ungkapan hati dan curhat. Tapi itu terpenting. Ada yang mengaku sebagai pelaku kekerasan dan ada korban. Ada pertaubatan secara publik. Jika dilakukan secara publik dampaknya luas. Kalau ada pengakuan yang satu ini pelaku, yang satu ini korban maka pengampunan juga harus dilkukan secara publik. Saya demikian pada kasus soeharto. Ia harus mempertanggungjawabkan secra publik, Baru bisa dimaafkan.

Kemudian, hal lain, soal ketakutan bagaimna komunis itu bangkit lagi. Mengapa komunisme bangkit lagi. Karena rohnya tidak pernah mati. Yaitu bahwa manusia adalah bukan alat untuk memperbesar modal. Kalau kita memahami concernnya itu, tanpa sebagai orang komunis saya kira tidak perlu takut sebagai orang yang beriman dan bertaqwa. Mari kita mulai dari pengakuan desa. Dari gereja, dari masijid. Secara teknis kami tidak bisa memberikan cara bagaimana mengungkap.

Gus Solah:

Saya ingin menanggapi Leonard tentang Budiman.  Ada yang terlupa,  pertikaian antara si kaya dan si miskin.  Kemudian mas Imam tentang empat hal. Sebenarnya proses hukum  pernah terjadi pada masa Bung Karno. Saya sepakat berbicara yang tiga. G 30 S itu penculikan dan pembunuhan. Kudeta adalah pengumunan Dewan Revolusi Indonesia yang dikuti pendirian di kota-kota lain, seperti Pandeglang, Yogyakarta, Solo, dll.

Menurut saya pribadi, komunisme bukan ancaman melainkan tantangan. Negara kita menurut aturan adalah negara hukum, tapi negara undang-undang. Banyak UU tapi tidak berjalan. Yang harus kita lawan adalah kemiskinan, ketidakadilan, dan kebodohan. Jadi ini sejalan dengan pernyataan bahwa roh komunisme belum mati. Karena rohnya terletak pada pembelaan pada kaum yang lemah. Sekali lagi mudah-mudahan apa yang kita lakukan ini mampu menggugah kesadaran kita bersama. Jadi kekhawatiran ini yang perlu kita redam. Berbicara ini berbicara kemanusiaan bukan dari politik.

Ruswanto Tiknohadi :

Buat kita bersama tidak lagi takut. Yang sesungguhnya terjadi, Abdurrahman Wahid telah menghapus Litsus. Setelah pemerintah SBY mengembalikan kurikulum sejarah yang sudah dirintis Gus Dur Mega. Nun masyarakat tidak memperhatikan ke sana. Bapak Soeharto harus diselidiki keterlibatannya dalam ekonominya, peristiwa 65. Kenapa makin tidak diungkap, saya mengutip dari Pramudya Ananta Toer. Pram ditanya, apabila bapak ditanya, apakah bapak memberi ampunan? Kalau orang lain memaafkan lidah saya sampai matipun tidak bisa memaafkan.

Disini saya sampaikan bahwa tahap-tahap kehidupan orang-orang beragama, sebagai berikut. Tahap ignoran, tahap eksistensi, tahap saya ada, menjadi sing apik sopo, sing apik aku. Kini sampai pada tahap trilogy kerukunan. Ada tahap terakhir yaitu koeksistensi. Di Genteng Banyuwangi pernah ada pentas seni agama bersama. Di sana dinyanyikan lagu kalau kita dekat maka Tuhan dekat, kalau saya jauh Tuhan jauh. Sesungguhnya kita bisa satu dalam ini.

 

TERMIN II

Ny. H. Umi Hasunah (Rejoso Peterongan Jombang)

Saat ini betul-betul pertanyaan. Di saat ini kehidupan umat beragama kita diramaikan dengan Lia Eden dengan tuduhan mencampuradukkan ajaran agama. Bagaimana sikap pendanpat Bapak terhadap ajaran Lia Eden.

Saadah (Guru sejarah tambak Beras)

Salah satu yang menjadi kendala ketika saya menjelaskan sebuah fase peristiwa yaitu 65 meski saya sudah benayk membaca buku. Yang saya harapkan sekali saya mengenl ibu dan bapak yang pernah merasakan peristiwa itu terjadi. Awal silaturahmi yaitu menghilangkan sekat siapa aku siapa kamu. Saya ingin ada orang yang mau memberikan testimoni atau kesaksian di depan kelas.  Saya mohon maaf jika saya sebagai orang yang berprofesi guru telah memberikan penjelasan sejarah yang tidak sesuai.

Suami saya guru sampai sekarang tidak bisa dinas lagi.

Kurroti’ayun (Lakpesdam NU Bangil)

Saya bukan bagian dari korban tapi saya trenyuh. Teryata mereka lebih kritis dan proporsional dalam memandang sejarah. Terkait dengan Pendidikan sejarah. Ketika guru menghadirkan fakta kebenaran, tetapi kendalanya kita masih mengacu pada kurikulum yang lalu. Mungkn Gus Solah dan para pendeta di depan punya andil dalam membuat batasan jawaban teks-teks sejarah yang memberikan guru jawaban-jawaban yang proporsional.

TANGGAPAN NARA SUMBER

Mas Imam :

Pekerjaan yang berkaitan dengan kurikulum sejarah. Ada bu Retno yang  ahli di bidang tersebut. Selebihnya upaya-upaya yang kita senantiasa kita lakukan. Prospeknya seperti apa. Kita terus optimis, upaya ini berjalan lancar. Kami mohon doa restu bangsa kita berjalan lebih baik. Hal-hal buruk masa lalu tidak terulang. Sehingga Negara ini akan menajdi Negara yang berwibawa. Mungkin kita tidak merasakan hasilnya melainkan anak dan cucu kita.

Ruswanto :

Tentang pengembalian hak. Ada organisasi pengembalian hak-hak korban melakukan usaha pendataan atas kerugian hak korban. Untuk itu ada lembaga yaitu lembaga korban orde baru. Tapi respon pemerintah tidak maksimal. Kami mengadakan naik banding  yang sasarannya sampai presiden.

Gus Solah :

Tentang kurikilum, beberapa tahun lalu Mega membentuk tim untuk menulis sejrah Indonesia yang diketuai Taufiq Abdullah. Saya mengusulkan untuk menuliskan semua versi yang menyangkut tahun 65. Bagi saya mengungkap siapa di balik 65 sangat sulit. Begitu banyak versi saya yakin tidak bisa dicapai sutu kesepakatan antar ahli sejarah tersebut. Dan Taufiq Abdullah tampaknya mengakui kemungkinan apa yang dikemukakan saya yang akan dipakai.  Biarkan masyarakat yang membaca dan menilainya.

Ibu Retno :

Saya bukan guru sejarah, tapi PPKN dan menulis buku. Buku saya PPKN 2005 saya dituntut hukum oleh Akbar Tanjung. Karena dipandang mengancam orde baru. Saya menyajikan sebuah fakta agar anak mau belajar dari peristiwa yang sungguh terjadi. Kelihatannya capai kita kalau mau merubah cara pandang yang tua. Makanya saya dengan temen-temen guru sejarah dan PPKn menontonkan film tentang penggusuran yang sempat dikecam temen-temen. Tapi wajar karena mereka adalah produk pendidikan dengan konsep lama. Waktu itu saya bingung memberi fakta baru. Tidak hanya saya tapi murid saya juga bingung. Jadi kita tidak usah takut dengan posisi sebagai guru yang harus memegang kurikulum

Caranya kita bisa memutar film atau menghadirkan korban. Menurut saya kita tidak perlu menutup-nutupi dan justru membantu pengungkapan ini. Lainnya kita harus bersama-sama. Untuk merubah kurikulum kita perlu bersama-sama bergerak. Saya keluar dari PGRI karena tidak melindungi kebebasan akademis saya. Kita juga tidak perlu khawatir karena kita diberi kebebasan memlilih organisasi guru.

Leonard :

Ibu Hasunah, apakah saya marah karena gerakan Lia Eden membahayakan ajaran agama saya. Saya orang yang percaya pada Tuhan. Ketika ada orang yang bilang pada saya Tuhan tidak ada, apakah Tuhan kemudian jadi tidak ada karenanya. Saya pikir kita perlu membedakan kepada siapa kita beriman. Kita bukan beriman pada gereja, melainkan pada Tuhan. Jika Lia Eden mempercayai bahwa Imam Mahdi mempunyai anak Yesus, itu tidak akan mengubah eksistensi Tuhan. Meskipun berbeda dengan ajaran kami, saya kira tidak usah bagi kami unruk mengerahkan massa. Saya pikir kita perlu belajar untuk mengatasi perbedaan khususnya soal iman, dengan cara-cara yang tidak menggunakan kekerasan. Mengetahui komunis tidak harus menjadi komunis. Dan perlu menata kehidupan kita bersama secara arif an bijaksana, kendatipun terdapat perbedaan yang serius. Saya yakin bahwa gerakan-gerakan yang membahayakan kemurnian agama tidak membahayakan kita sepanjang kita mau mendiskusikan.

Gus Sholah :

Menyikapi pandangan Ruswanto tentang Komnas membuat tim untuk mengungkap pelanggaran berat Soeharto. Kasus yang diangkat 65, Petrus yang sekarang ada istilah baru matius (mati misterius di Poso). Saya juga pernah diberi tugas penyidikan penahanan di Pulau Buru. Sebetulnya ajaran komunisme dilarang dalam Tap MPR, tapi sekarang banyak buku-buku yang memuatnya. Tapi biarlah, meski untuk mencabut tap tersebut sangat sulit.

Di NU ada Banser berdiri 62 untuk melawan PKI. Kita telah belajar atas kesalahan besar masa lalu. Dan saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Akan lebih baik diperbanyak dialog dari forum terkecil sampai skoup nasional.

Moderator :

Demikian dialog yang kita laksanakan. Semoga silaturahmi melahirkan tali toleransi yang lebih dan membawa pencerahan bagi kita semua. Aplouse…Wassalamualaikum……