Tanggapan NeoFasis

Tulisan Garda Mendiri sebenarnya merupakan ajakan untuk bersatu menghadapi kaum Neo Fasis. Bukan Cuma ajakan untuk bersatu tapi juga merupakan anjuran agar waspada! Tentu saja ini merupakan tulisan yang sangat penting untuk disimak. Karena uraian dari bung Garda, dimulai dari rentetan sejarah masa lalu, yang patut dijadikan bahan pelajaran. Dengan demikian maka semua pembaca terutama kaum pro demokrasi akan dapat mewaspadai golongan tertentu yang mungkin bisa mengarah pada fasisme itu.
Tepatlah jika dikatakan bahwa kaum fasis hampir selalu melakukan tindakannya secara irrasional. Karena kepada mereka telah dicekoki ajaran bahwa mati demi mempertahankan golongan itu mulia. Membunuh demi kepentingan golongannya itu pembunuhan yang mulia. Bahkan dianggap psebagai “pembunuhan yang syah dan suci!” Bukankah ini irrasional?Akibatnya sejarah mencatat, berapa banyak korban yang dilahirkan oleh fasisme Jerman dengan Nazi nya? Juga oleh militer yang bernaung di bawah Hino Maru? Dan bukankah hampir semua terbunuh secara keji? Bukan Cuma terbunuh di medan pertempuran. Tapi juga di kamp-kamp penyiksaan! Dan sejarah membuktikan bahwa antara kaum Kapitalis dan komunis bisa bekerjasama sebagai sekutu ketika harus menghancurkan fasisme!Tapi ketika fasisme berhasil mereka punahkan, barulah tampak konfrontasi antara komunis dan kapitalis.

Kontradiksi intern yang tak terselesaikan di kubu komunisme telah membuat mereka mengkristal (terjadi kristalisasi secara besar-besaran) mengikuti nasib fasisme. Punah! Secara bertahap. Namun punahnya komunisme bukan berarti dunia sudah aman dari ancaman kontradiksi. Karena kemudian muncul secara sporadis kaum fasisme baru, atau neo fasisme!
Dulu, kaum fasis hanyalah merupakan pengejawantahan dari ubber alles! Dan ketika mereka memegang kekuasaan dan memenangi berbagai medan tempur, tindakan mereka menjadi semakin sukar dinalar! Namun kaum neo fasisme nampaknya lebih radikal dari mereka. Sebenarnyalah pandangan yang primordial justru cenderung memicu lahirnya neo fasisme. Karena pandangan primordial ini seringkali disertai oleh fanatisme yang kebuta-butaan! Bahkan tindakan-tindakan yang anarkis. Itu sebabnya memang perlu waspada. Sebab mereka ada di mana-mana.
Teror adalah ciri khas dari fasisme itu. Mereka menciptakan kengerian, ketakutan di mana-mana. Sehingga membuat kepala manusia tidak pernah berani tegak menatap ke depan. Apalagi mendongak! Bukan lain dari Amerika sendiri yang merasakan. Semula Amerika yang menciptakan dan mepersenjatai kelompok Talib dan Osama. Tapi siapa pun terperangah ketika para pilot yang direkrut oleh kaum fasis itu meluluhlantakkan World Trade Center 11 September 2002!

SIAPA DAN BAGAIMANA KAUM NEO FASIS ITU?
Terlalu naif jika kita menuduh kelompok tertentu. Tapi yang jelas ada beberapa golongan kecenderungannya bisa menjadi fasis jika mereka berhasil memenangkan perjuangan mereka. Tidak bisa dipungkiri bahwa golongan tertentu yang berpandangan primordialis cenderung menjadi fasis. Golongan ini, apakah suatu suku tertentu, aliran politik tertentu, bahkan agama apa saja, bisa saja menganggap diri mereka terbaik, terunggul, dan serba ter … lalu menciptakan fanatisme yang berlebihan atau kebuta-butaan, sehingga mereka merasa perlu untuk tidak memberi hak hidup pada golongan lain atau golongan tertentu!Jika diperhalus perkataan merasa perlu tidak memberi hak hidup buat lainnya itu, ialah memaksakan kehendak pada orang lain untuk menjadi sama dengan golongan mereka.
Luar biasanya, jika tidak waspada kaum neo fasis ini bisa menyelundup dalam gerakan demokrasi. Bagaimana itu? Kaum demokrat pastilah tidak hanya ingin meneriakkan suaranya dengan tanpa mau mendengar suara orang lain. Kaum fasis dengan begitu pintarnya memelintir gerakan demokrasi menjadi demokrasi protuktif. Demokrasi yang memaksakan kehendak, dengan disertai anakhisme! Dalam peradaban modern seperti sekarang ini masih dikembangkan amuk. Bukan mensuarakan demokrasi secara rasional.
Belum lagi jika kaum fasis hinggap dan menunggangi kaum religi. Sangat menyakitkan memang jika kita mengatakan bahwa kaum agamawan ditunggangi. Tapi itulah kenyataan. Bahwa Agama apa saja asal pandangan primordialnya kuat pasti cenderung mudah ditunggangi. Berapa orang yang menjadi “martir” di Irlandia, karena ditunggangi oleh kaum fasis? Bukankah Irlandia adalah negeri dengan basis kaum Nasrani? Kenapa mereka bisa saling bertempur? Bukankah itu memunggungi ajaran Kristus dengan konsepsi kasih?
Siapa yang dapat membantah bahwa teror di India sebagian besar adalah pengejawantahan dari primordialisme, dan fanatisme pada aliran agama tertentu? Bom di Bali dan di Gereja-Gereja, bukankah juga akibat dari fanatisme yang primordial? Bukankah mereka juga rela atau bahkan dengan senang hati mati syahid demi memperjuangkan kepercayaan, atau Ideologi yang mereka anut.
Pemaksaan yang irrasional demikian itulah yang patut diwaspadai oleh siapapun juga. Juga di negeri ini, jika hal-hal demikian dibiarkan, maka dapat dipastikan negeri ini tidak akan pernah stabil. Dengan demikian cita-cita akan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat negeri ini hanya akan tinggal menjadi slogan kosong!
Sudah waktunya kita menyongsong era baru, yang seirama dengan kenyataan di Indonesia. Ekstrim kiri maupun kanan sudah punah! Tapi sikap neo fasisme akan selalu muncul setiap waktu, saat pikiran-pikiran yang tidak realis dibiarkan merajalela. Waktunya fajar baru tiba, bahwasanya primordialis dan fanatisme yang kebuta-butaan harus diakhiri. Perjuangan dengan nuansa keteduhan, dinantikan oleh banyak golongan. Sehingga tidak melahirkan korban yang tidak perlu.

Perjuangan yang sekarang seharusnya dipahami bukan sebagai merebut kemerdekaan dari tangan kaum penindas. Tapi mengisi kemerdekaan, sehingga tidak seharusnya diwarnai oleh darah yang tertumpah di mana-mana. Dan Indonesia sekarang ini membutuhkan seorang pemimpin yang dapat mengayomi keanekaragaman. Membawa Indonesia yang bersatu, membudidayakan seluruh potensinya untuk menantang masa depan.