Tidak mudah dimengerti tapi benar adanya!


syarikat - Posted on 08 September 2003

Lebih dua tahun yang lalu MBAK PON menerima manuskrip PIAGAM WERTHEIM tsb
dalam keadaan kumal, yang diterimanya dari tangan ke tangan. Dengan teliti
dan hati-hati Mbak Pon membukanya, merumatinya dan kemudian diberi bingkai
dan dipasangnya dengan penuh kebangaan menghiasi dinding rumahnya.

Dengan PIAGAM WERTHEIM menghiasi dindingnya, dalam hati Mbak Pon semakin
kuat keyakinan, bahwa WIJI THUKUL punya kawan dimana-mana, sampai ke
Nederland sejauh itu. Semakin kuat pula keyakinan Mbak Pon bahwa apa yang
dinyanyikan Wiji Thukul dalam syair-syairnya adalah penuh mengandung
humanisme sekaligus sarat dengan perlawanan terhadap ketidak-adilan. Yang
amat melegakan hati Mbak Pon, ialah, bahwa karya-karya WIJI THUKUL mendapat
penghargaan mancanegara.

Lebih dari duabelas tahun yang lalu, Stichting Wertheim menilai a.l. WIJI
THUKUL sebagai salah seorang penyair teladan Indonesia, yang pada umurnya
yang masih muda telah memberikan sumbangannya terhadap usaha EMANSIPASI
RAKYAT INDONESIA.

Timbul pertanyaan kecil: -- Mengapa begitu lama Mbak Pon baru menerima
ditangannya sendiri, PIAGAM WERTHEIM tsb? Nyatanya, baru kemarin pada
tanggal 21 Agustus 2003, Mbak Pon mengerti apa sesungguhnya isi Piagam
Wertheim yang dipasangnya dengan penuh hormat pada dinding rumahnya yang
amat sederhana, --- kalau tidak hendak dikatakan terus terang, sungguh
rumah seorang yang "tidak berpunya".

Rasa terharu dan hormat mengisi rongga dadaku, ketika aku berkesempatan
mengunjungi rumah Mbak Pon di Solo, pada tanggal 21 Agustus y.l. Dengan
gembira, sebagai Sekretaris Stichting Wertheim, kusampaikan salam hangat dan
hormat Pengurus Stichting Wertheim kepada Mbak Pon. Mbak Pon yang sudah
begitu lama menanti, baru dua tahun belakangan ini menerima di tangannya
sendiri Piagam Wertheim yang telah diserahkan oleh St Werheim.

Pada saat inilah aku berkesempatan untuk membacakan kembali teks PIAGAM
PENGHARGAAN ST. WERTHEIM dalam teks bahasa Belandanya, dan kemudian
menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, seperti terlampir dalam tulisan
di bawah ini.

Mengapa sampai terjadi begitu? Banyak faktor yang menyebabkannya.

Namun, penyebab yang terpokok, ialah --- bahwa penyair kita WIJI THUKUL,
pada periode Orba, telah dijadikan orang buronan politik dikejar-kejar
terus, sehingga Wiji boleh dikatakan tidak pernah tinggal di rumah sejak
itu, selalu berpindah tempat tinggal. Rumahnya yang ketika itu hanya
ditinggali Mbak Pon dan dua orang anak-anaknya, seorang putri dan seorang
putra yang masih kecil, berkali-kali didatangani aparat, dan dengan bengis
mengancam menanyakan kepada Mbak Pon, dimana Wiji Thukul!

Menjelang jatuhnya Suharto, ketika tindakan-tindakan teror Orbanya Suharto
semakin mengganas, tiba-tiba tidak terdengar lagi berita sedikitpun dari dan
tentang WIJI THUKUL. Siapapun tak tahu dimana rimbanya. Wiji Thukul
mengalami nasib ORANG HILANG. Kemungkinan Wiji telah menjadi korban intel
Orba yang keji itu.

Jatuhnya Suharto telah membawa sedikit perubahan pada keadaan Mbak Pon.

Namun, sampai kini tetap tidak ada berita tentang Wiji Thukul. Mbak Pon yang
mengalami penderitaan diisolasi dan dinajiskan oleh penguasa, karena dirinya
adalah istri Wiji Thukul, belakangan ini, nyatanya semakin menjadi tempat
penduduk sekitar menanyakan segala sesuatu bila menghadapi pelbagai soal
kehidupan, khususnya mengenai urusan yang menyangkut penguasa setempat.
Kejujuran, keberanian dan semangat memperhatikan nasib para tetangga dan
penduduk setempat, menimbulkan respek yang wajar di kalangan penduduk
setempat terhadap Mbak Pon.

Demikianlah suka-duka yang dihadapi oleh Mbak Pon, sebagai istri dari
penyair teladan dan pejuang Wiji Thukul.

Dalam rangka usaha mengenangkan kembali tokoh Wiji Thukul, Stichting
Wertheim, Leiden, dalam waktu dekat ini akan meluncurkan edisi kedua
KUMPULAN SYAIR-SYAIR WIJI THUKUL, dalam bahasa Belanda. ****
--------------------------------------------

==LAMPIRAN==
PIAGAM PENGHARGAAN STICHTING WERTHEIM.

Het Bestuur v.d. WertHeim Stichting heeft besloten om de aanmoedigingsprijs
v.d. Stichting toe te kennen aan de Indonesiche dichter, Wiji Thukul, voor
zijn
verdiensten voor de emancipatie v.h. Indonesishce volk in het bijzonder op
het gebied
van de letteren en de theater kunsten . De prijs wordt o 4 julie 1991 in de
aula v.d
Universiteit van Amsterdam, uitgereikt door Prof. W.F. Wertheim.

Amsterdam, 4 juli 1991.

Sekretaris: C.J.G. Holtzappel Voorzitter: J. Huizer.