Ponari Putra petir, Kampanye damai pemilu dan Narsistik

Kampanye air damai pemilu Indonesia 2009 Kampanye air damai pemilu Indonesia 2009 Kampanye air damai pemilu Indonesia 2009 Kampanye air damai pemilu Indonesia 2009 Kampanye air damai pemilu Indonesia 2009

Ponari Putra Petir dan Kampanye damai Pemilu yang narsistik

Seorang bocah dari Jombang berusia sepuluh tahun itu tiba-tiba menjadi seorang tabib yang mumpuni. Kata seseorang ahli bahwa kemampuan potensi diri Ponari muncul dengan sendirinya karena triger petir yang sekaligus memberi kekuatan energi pada sebuah batu yang diyakini bertuah. Namun dia mengatakan pula bahwa power itu katanya tidak baik dan sangat kuat. Hanya dengan dicelupkan ke air dengan niat nama atau foto atau KTP atau apapun kemudian diminumkan ke pasien maka diharapkan akan segera sembuh.

Biaya murah masih menjadi harapan masyarakat luas, entah karena budaya kere, pelit, owel atau memang karena tidak mampu untuk membayar biaya kesehatan dan pengobatan konvensional melalui dokter atau rumah sakit yang saat ini diakui secara empiris dengan dukungan laboratorium yang cukup memadai saat ini. Namun betapa mahalnya pengobatan yang harus dibantu dengan tools yang harga pengadaannya sangat tinggi sekali, plus harus dioperasikan oleh tenaga profesional yang bayarannya mahal pula karena harus sekolah dan kriteria-kriteria jenjang pendidikan tertentu yang jelas tidak murah dan mudah untuk mencapainya.

Sampai ada pendapat untuk meneliti batu milik Ponari, kandungan apa yang ada didalamnya untuk diteliti secara ilmiah. Ah.. sampe segitukah kecemasan para ilmuwan tentang pengobatan tanpa resiko apapun dari Ponari. Tidak ada resiko luka, keracunan, infeksi karena operasi dan lain sebagainya, apalagi dengan harga yang murah meriah, sehingga tidak keberatan untuk merogoh kocek demi suatu harapan sembuh tanpa sakit. Begitu ampuhkah si Ponari Putra Petir itu?.Betapa inovasi yang sangat jenius dan super hebat, laksana jargon Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 yang memberikan harapan-harapan namun masih kurang dalam kandungan nilai penyembuhan penyakit-penyakit absurd yang menggejala secara damai dalam nurani para politisi yang busuk. [semoga tidak menulari yang masih baik].

Sementara bapak Wapres khawatir bahwa negeri ini akan gagal mencapai Indonesia sehat pada tahun yang sudah lama dicanangkan, mungkin apabila melongok kepada keajaiban Ponari ada harapan juga untuk tercapainya Indonesia yang sehat damai dan sejahtera karena biaya pengobatan yang terjangkau, dan bahkan penyakit-penyakit yang mematikan memiliki harapan untuk sembuh seperti sedia kala. Dengan begitu maka akan mendongkrak harapan hidup insan di negeri ini untuk hidup lebih damai dan sehat. Tentusaja dengan kampanye yang damai antara ahli penyembuhan akademis dan non akademis di tahun 2009 ini, wallahu alam.

Penjinakan-penjinakan kepada warganegara dalam hal golput yang diharamkan, sosialisasi pencontrengan yang berbarengan dengan suasana kampanye adalah hal yang sangat aneh bin ajaib, mengapa karena porsi masyarakat untuk dapat mengakses program dan isu-isu yang diusung oleh caleg dan partai jadi terganggu karenanya. Tebak saja sendiri mana yang tidak profesional dan mana yang profesional memanajemen waktu ini. Betapa kemiskinan informasi masih dijadikan senjata dimana seharusnya keran informasi pemilu, politik dan kampanye masing-masing caleg atau partai kontestan kampanye pemilu harus lebih utama daripada urusan contreng mencontreng yang muncul secara tiba-tiba dan membuat para lansia tidak damai dalam menikmati kampanye dan pemilu 2009 ini.

Seperti hanya dalam proses menuju kesembuhan lewat Ponari arus antrian yang banyak menjadi kendala dan pernah memakan korban jiwa. Pemilu kali inipun akses antrian informasi dari para calon legislatif peserta pemilu yang seharusnya berkampanye secara gencar pun terhambat, apalagi masyarakat yang mengharapkan bisa bertemu muka dalam kampanye dialog yang tidak kunjung datang. Entah apakah kita hanya dipuaskan untuk melihat kenarsisan para calon legislatif yang memasang foto gede-gede di pinggir jalan untuk kampanye yang tidak damai karena harus berurusan dengan para satpol PP yang juga memiliki tugas menjaga keamanan, kenyamanan, kedamaian dan kebersihan kota baik pra maupun pasca kampanye pemilu 2009 di seluruh Indonesia.

Trackback URL for this post:

http://www.syarikat.org/en/trackback/430

Ancene jaman wis bubrah

Ono ing ngendi-ngendi ono demonstrasi, pejabat wakil kawulo dipateni neng ngarep umum, ora iso diatur kanthi boso lan toto kromo, opo maneh nganggo tulisan, kudu nganggo pentungan koyo angon bebek, isih lumayan bebek penthunge ora ngenani.
Menungso k...

Comments

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly. If you have a Gravatar account, used to display your avatar.