diskriminasi


Refresh Nasionalisme, Pluralisme, dan Sejarah Indonesia

ga_pidato

Kita, Sejarah dan Kebhinekaan:

Merumuskan Kembali Keindonesiaan*

Oleh: I Gusti Agung Ayu Ratih**

Di sini kami berdiri di ambang subuh jaman baru, jaman yang akan membawakan terang ke seluruh Jawa. Dan sekali jaman itu terbit, akan lebih banyak dituntut perjuangan, penderitaan, berperang dan memenangkannya; mula-mula sekali adalah melawan Sang Baginda Prasangka, kemudian Sri Ratu Kepicikan dan Kekerdilan, putri-putri, yang dipuja dan dituruti oleh sebagian terbesar penduduk Jawa. … Ada kami lihat Adipati-Adipati Sri Baginda Kepicikan, Kekerdilan, dan Prasangka menggigil sakit hati karena terhina undang-undangnya yang keramat itu tersentuh.
------- Kartini, Een Gouverneur-Generaalsdag

YuK!

PERNYATAAN SIKAP BERSAMA
Forum Yogyakarta untuk Keberagaman (YuK!)

Mengingat asas persatuan dan kesatuan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) kebhinnekaan merupakan harta yang paling berharga bagi masa depan bangsa Indonesia. Realitas bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang multikultur adalah sesuatu yang –TAK TERBANTAHKAN.

Oleh karena itu, segala upaya yang ditujukan untuk menjaga dan merawat kebhinnekaan merupakan keniscayaan bagi seluruh komponen masyarakat di Indonesia. Menyikapi munculnya problematisasi akan disahkannya RUU Pornografi, Forum Yogyakarta untuk Keberagaman (YuK!) keberatan dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut :

Membaca Sejarah secara Terbalik

Oleh: Rumekso Setyadi

Pertengahan 2006 sekelompok seniman Yogyakarta yang dimotori oleh Agus Suwage dkk yang disponsori oleh Cemeti Art House melakukan sebuah proyek seni rupa dengan tajuk “Masa Lalu, Masa Lupa”, kelompok seniman ini melakukan sebuah eksperimentasi untuk “bermain-main” dengan sejarah tetapi “serius” dengan penciptaan kreasi seninya.

Agus Suwage dkk membuat sebuah proyek membangun “Musium Kepahlawanan Sukrodimedjo”. Sukrodimedjo adalah tokoh rekaan yang sengaja dihadirkan untuk menguji sejauh mana sejarah dalam artian fakta itu cenderung lebih dekat dengan sebuah rekayasa yang disepakati dan mempunyai sifat yang rapuh dalam ingatan kolektif. Alhasil, dalam pameran seni ini, sang tokoh Sukrodimedjo dihadirkan secara visual melalui lukisan dan segala pernak-pernik memorabilia, yang khas kita dapatkan dalam sebuah museum, dipajang di pameran ini.

Gerakan Islam dan HAM di Tengah Kuasa Neoliberalisme

Gerakan Islam dan HAM di Tengah Kuasa Neoliberalisme1

Oleh Ahmad Suaedy2

Perdebatan wacana Islam dan HAM yang dimulai sejak sangat awal diperdebatkannya Deklarasi Universal HAM belum selesai hingga kini (Abdullah Said et. al., 2005). Namun tidak berarti pergulatan praksis dari mereka yang menuntut implementasi HAM tidak ditemui di negara-negara yang menerapkan otoritaritariame Islam sekalipun. Sehinga belum selesainya perdebatan dalam level wacana tidak menghalangi implementasi dalam praksis di sebagian dunia Islam. Tetapi tata dunia mutakhir yang praktis berpusat pada super power yang tunggal, yaitu Amerika yang lebih khusus neoliberalisme,  seolah kian menjauhkan pencarian titik temu keduanya.

REKONSILIASI, Menepis Stigma lewat Seni

Oleh: Pipit Ambarmirah

SALAH satu cara yang dapat digunakan untuk rekonsiliasi kultural adalah lewat kesenian rakyat. Selain bisa untuk mengobati trauma juga sebagai ajang melestarikan kesenian rakyat yang hampir dilupakan.
Pada Minggu terakhir Mei 2008, selama 4 hari berturut-turut tanggal 26, 28, 29 dan 30, Kulon Progo, Bantul, Yogyakarta dan Prambanan diadakan road-show ketoprak rakyat yang berjudul “Karto Pokil” dan teater remaja RDJ (“Ra Duwe Jeneng”).

OPINI, Melanggengkan Kekuasaan Lewat Dendam & kebencian

Oleh: Cyprianus Lilik K. P. *

Apa arti nasionalisme? Apa arti menjadi Indonesia? Tanyakan pada sekian banyak anak muda, tanyakan pada diri sendiri. Dan ternyata, kita dibuat gelisah karenanya. Barangkali, hanya anak-anak yang memiliki jawaban relatif lengkap dan positif. Tetapi itu takkan berlangsung lama. Tentu saja. Karena masih segar di kepala mereka pelajaran kebangsaan yang diperoleh. Sayangnya, biarpun mereka bisa menjawab toh jawaban-jawaban itu tak lagi selengkap anak-anak sekolah di zaman Orde Baru karena jawaban itu lahir dari indoktrinas. Akan tetapi ketidak-mampuan kita memandang positif rasa kebangsaan – bahkan merasakan kehadiran  kebangsaan – itu sebagai bagian eksistensial dari individualitas kita adalah sebuah kehilangan yang besar.

 

LAPORAN UTAMA, Perlu Kebijakan Kosisten dari Penyelenggara Negara

Oleh: Erwin Endaryanta

MASIH ingat peringatan hari kelahiran Pancasila 1 Juni 2008 di Monas Jakarta yang berakhir ricuh?  Peristiwa yang membuat tokoh-tokoh pendukung pluralisme berang ini mendapat tanggapan serius. Tak hanya dari tokoh-tokoh dalam negri tapi juga dari luar negri. The United Nations Committee against Torture (UNCAT) misalnya,  yang kemudian merekomendasikan bahwa Indonesia perlu menangani munculnya kekerasan terhadap minoritas agama tertentu. (Jakarta post, 22/05/2008). Akar persoalan peristiwa itu adalah munculnya kekerasan didalam menanggapi aksi yang mengusung agenda pengembalian nilai – nilai pluralisme dan toleransi terhadap perbedaan. Baik perbedaan agama, ideologi maupun politik, yang sebaiknya dikembalikan dalam ukuran-ukuran Pancasila.

Ahmad Tohari dan Rekonsiliasi

Keterlibatan seniman dalam berbagai masalah yang dihadapi masyarakatnya memiliki nilai istimewa. Menurut Lucien Goldman, sastrawan besar tidak sekedar menyampaikan pikirannya sebagai seorang idividu. Dia merepresentasikan pandangan dunia (world view, weltanschauung) bahkan semangat jaman (spirit of time) sebuah kelompok masyarakat (Damono, 1977). Dengan demikian, apa yang dikemukakan sang seniman ‘serius’ dapat dikategorikan sebagai memori kolektif sebuah komunitas bangsa.

Diskusi Buku Menyintas dan Menyeberang

Penelitian menunjukkan bahwa Islam terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan agama yang dianggap sangat dekat dengan pelaku kekerasan di masa itu. Persepsi itu terbangun dari keterlibatan sejumlah ormas Islam di beberapa daerah dalam menyikapi peristiwa 1965, dan itu dianggap sebagai representasi dari kelompok Islam secara keseluruhan. Sikap keras sebagian kelompok Islam terhadap orang-orang yang memiliki keterikatan dan keterkaitan dengan komunis banyak dipengaruhi ketidaktegasan pemisahan antara agama dan politik, dirasakan oleh korban sebagai sebagai citra Islam secara keseluruhan.

human rights defenders testimonies

THE JAKARTA POST, 8 June 2007
UN rep hears RI human rights defenders testimonies

Several Indonesian human rights activists delivered five-minute reports on their work at a public hearing with a special UN representative in the hope of receiving greater protection and attention from the world body.

Receiving the reports was Special Representative of the UN Secretary General on Human Rights Defenders Hina Jilani.