REKONSILIASI, Anak Muda Ngomong Sejarah dan Kekerasan
Sabtu, 29 Maret 08 pukul 10.00-15.00 WIB di Ruang Seminar lembaga studi Realino sekitar 20 anak muda berkumpul dan ngobrol bareng tentang Sejarah dan kekerasan yang bertajuk “Mendengar Indonesia”.
Kegiatan tersebut menghadirkan 3 orang pemapar yang bertutur tentang pengalamannya bergelut sejarah masa lalu. Mereka adalah Ngurah Termana, K. Hidayati dan Nining Suhartiningsih.
Ngurah (Taman 65 Bali) seorang anak muda yang lahir dan hidup dikawasan Bali. Belajar banyak hal di Taman Bali 65 yang merupakan wadah belajar bersama tentang sejarah maupun pelajaran-pelajaran yang lain yang diterapkan di Bali sebagai Kota Wisata, misal belajar bahasa Inggris. Selain itu Taman 65 Bali juga sebagai tempat berkumpul generasi tua dan generasi muda. Dengan demikian generasi muda bisa belajar sejarah versi kesaksian para pelaku sejarah yang tidak hanya tergantung dengan sejarah versi penguasa.
K. Hidayati (Syarikat Indonesia) perempuan ini bertutur tentang pengalamannya untuk menembus batas yang ditabukan oleh keluarganya, bergaul dengan korban kekerasan masa lalu adalah hal yang salah menurut keluarganya, bergerak bersama kaum yang termarginalkan hak-haknya adalah tindakan yang dikomuniskan, tetapi perempuan ini punya keyakinan bahwa tindakannya tidak pernah bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Nining Sunartiningsih (Yayasan Pondok Rakyat), mbak Nining yang lebih akrab dipanggil mbak Ninol memaparkan tentang proses yang dilakukan oleh YPR bagaimana anak gaul tidak alergi dengan sejarah yang sudah dibangun puluhan tahun sebagai sesuatu yang berdarah-darah, penuh dengan kekerasan dan menakutkan. Dengan media teater boneka dan musik hip-hop serta pembacaan puisi YPR mencoba mengajak anak muda menguak kekelaman sejarah masa lalu.
Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Pondok Rakyat bekerja sama dengan PusDEP Sanata Dharma, Syarikat dan Taman Bali 65 ini, ternyata anak muda lebih jujur memahami dan mendengar Indonesia, pengekangan terhadap kekebasan dirinya untuk mengetahui tentang sesuatu yang disembunyikan oleh bangsa ini sudah saatnya untuk diakhiri dengan segala bentuk media. Sehingga mampu menjangkau berbagai kalangan dan keluasan Nusantara ini dengan menciptakan sejarah yang mengajarkan pada generasi mendatang untuk tidak mencintai budaya kekerasan dan budaya ketidakjujuran. (chuss)

