Memori Kolektif dan Memori Individu
Oleh : Abdul Syukur
Menarik mengikuti perdebatan soal history, his story dan sorry dari Julius Pour, Rumekso dan Romo Baskara. Pada dasarnya ini adalah perdebatan sejarah paling tua, yakni perebutan klaim kebenaran antara collective memory dengan individual memory. Sudah lama sejarawan memperdebatkannya, karena sering kali collective memory bertentangan dengan individual memory. Belum lagi antar collective memory juga bertentangan, misalnya collective memory Jepang dengan bangsa-bangsa yang pernah dijajahnya. Kita juga mempunyai potensi bertentangan collective memory dengan Timor Leste. Namun saya tidak ingin membahas pertentangan antar collective memory ini, karena tidak berkaitan dengan polemik Julius, Rumekso dan Romo Baskara. Polemik ketiganya harus dilihat sebagai representasi dari polemik collective memory dan individual memory. Dalam hal ini Julius mewakili collective memory, sementara Yoyok dan Romo Bas mewakili individual memory.
Agak tergesa-gesa apabila vonis langsung dijatuhkan bahwa collective memory lebih terpercaya dari individual memory hanya karena collective memory sudah menjadi "kebenaran sejarah yang diterima". Bukankah kita juga sangat kritis saat mendengar legenda yang sudah menjadi collective memory. Mengapa? Karena isi legenda tidak dapat diterima oleh akal sehat kita. Lantas kita membuangnya jauh-jauh sebagai "berita bohong yang diwariskan" dan tidak ada manfaatnya untuk melakukan rekonstruksi masa lalu. Ini adalah contoh ekstrim dari collective memory yang kita tolak bersama. Mungkin kita akan bilang collective memory yang dipertahankan Julius sangat berbeda, karena penjelasannya terhadap peristiwa dapat masuk akal kita. Di samping itu juga, collective memory Julius didukung dokumen otentik. Saya jadi teringat dengan Leovold Von Ranke, sejarawan Jerman abad ke-19 yang sudah "dibaptis" menjadi "Bapak Ilmu Sejarah Modern". Ranke mengajarkan agar kita melakukan kritik terhadap sumber yang kita gunakan. Karena itu ada istilah kritik intern dan ekstern.
Berdasarkan ajaran Ranke itulah Julius ingin mengatakan, "Sorry, saya tidak percaya dengan individual collective karena sarat dengan his story". Informasi yang diberikan para tokoh individual memory, dalam hal ini Soebandrio, Andaryoko dan lainnya, bertentangan dengan informasi yang telah diberikan pelaku-pelaku sejarah pendukung collective memory, dan yang lebih penting bertentangan dengan dokumen. Kritikannya merupakan ciri khas Rankean atau Neorankean.
Julius menutup mata tentang kemungkinan adanya para pelaku sejarah yang melakukan kebohongan secara bersama-sama untuk kepentingan pribadi maupun bersama-sama karena ancaman secara langsung maupun tidak langsung. Saya katakan ancaman tidak langsung, artinya kita juga harus memahami struktur saat collective memory dibentuk. Inilah yang diabaikan Julius.
Bagi saya dokumen bukanlah satu-satunya alat bukti atau bukti yang selalu berkata benar tentang masa lalu. Pembuktiannya tidak harus bersandar dengan cara berpikir Rankean atau Neorankean. Kita tidak boleh berhenti pada jawaban apakah dokumen yang kita gunakan asli atau palsu, tapi apakah dokumen tersebut memberikan informasi yang benar tentang peristiwa masa lalu? Apa gunanya memperoleh dokumen yang asli tetapi tidak memberikan informasi yang benar tentang masa lalu? Pada tahap inilah individual memory harus dipertimbangkan untuk menguji kebenaran informasi dari dokumen. Adalah sangat mungkin individual memory dapat meruntuhkan penjelasan collective memory yang sudah "dipatenkan kebenarannya" oleh pemerintah.
Saya setuju dengan Julius bahwa penyusun buku sejarah berdasarkan individual memory juga harus melalui proses kritik agar kita tidak dicap sebagai "penyebar berita bohong". Ada satu prinsip kerja sejarawan yang perlu diingat dan dihormati, yakni diktum untuk tidak langsung percaya dengan informasi yang kita terima. Kita harus menguji setiap informasi yang kita peroleh. Apakah informasi tersebut masuk akal? Faktor masuk akal sangat penting diperhatikan agar ilmu sejarah tetap masuk dalam rumpun ilmu pengetahuan.
Saya teringat dengan jawaban yang diberikan Leovold von ranke untuk mengatasi ketidakcocokan antara collective memory dengan individual memory
Abdul Syukur, Dosen Jurusan Sejarah Universitas Negeri Jakarta, kandidat Doktor Ilmu Sejarah FIB UI.


Komentar
como se dice comúnmente,
como se dice comúnmente, 156-215 exam tinen cola de paja, pero el proyecto tiene que ver únicamente con el sisema audiovisual". Y luego les advirtió a los presentes que "seguramente, como toda cosa que afecta intereses, habrá piedras en el camino, voces 1Y0-A08 exam que se opongan, incluso algunos escribían artículos sobre una ley que no conocían... Entonces creo que tenemos que hacer un gran esfuerzo los argentinos para dejar de oponernos por oponernos. Que esta ley sea JN0-400 exam una voz plural,