Diskusi Pengarusutamaan Gender dalam Resolusi Konflik

Dalam diskusi selasa-an ini Syarikat Indonesia mengangkat tema gender dan rekonsiliasi. Tema ini menempatkan gender sebagai analisa sosial yang didalamnya menitikberatkan pada analisa peran, kedudukan dan relasi perempuan di dalam dimensi konflik. Analisa ini diharapkan mampu mendudukkan kesetaraan dan keadilan gender dalam pilihan – pilihan resolusi konflik yang feasible di Indonesia. Konteks konflik yang terjadi di dalam dinamika sosial kita menunjukkan bahwa regerasi konflik memiliki berdimensi keterikatan kuat dengan masa lalu. Dengan konteks konflik ini, pelacakan geneologi lemahnya gender mainstreaming maupun pelanggengan “double exploitation” tidak mungkin terlepas dari sejarah kelam penghancuran gerakan perempuan di Indonesia sebagai satu dari agen of change di Indonesia.

Resolusi konflik dengan dimensi konflik masa lalu tenyata tidak mudah. Kesulitan terbesar adalah menempatkan kembali cara pandang dan elemen perempuan sebagai unitas yang mengalami eksploitasi ganda untuk berperan aktif kembali sebagai aktor utama resolusi. Kemudian, hal ini menjadi nadi dalam perekatan kembali kohesi sosial yang telah runtuh. Resolusi konflik paling tidak mensaratkan 3 langkah yang ditempuh secara komprehensif. Pertama adalah bagaimana mencari kebenaran ditengah kekerasan yang terlembaga di Indonesia baik secara struktural maupun kultural. Kedua adalah menemukan keadilan atau justice dengan memperkuat reintegrasi, kompensasi, rehabilitasi, repatriasi. Sehingga transformasi konflik kekerasan masa lalu tidak memiliki regenerasi konflik dimasa depan. Dan ketiga adalah menemukan cara dalam membangun visioning bersama. Didalam masing-masing pentahapan tersebut, tentulah menempatkan kembali gender sebagai analisa maupun perempuan sebagai korban dalam setiap lapisan konflik menjadi penting.

Berangkat dari ini, elaborasi lanjut dan pendalaman – pendalaman tentang gender mainstreaming dalam resolusi konflik yang berdimensi kekerasan masa lalu, diharapkan memberikan pengantar dan masukan-masukan baik konseptual maupun implementasi resolusi konflik. Sekaligus untuk merayakan hari Kartini diskusi ini terselenggaran dengan narasumber ibu Anik Setyowati dari LOD DIY

Komentar

Maaf... Analisa peran,

Maaf...
Analisa peran, kedudukan dan relasi perempuan di dalam dimensi konflik ini sesungguhnya diletakan pada bingkai nilai-nilai filosofi kemanusiaan yang mana?

Tak ada yang bebas nilai...

Teks tanpa konteks, cuma rangkaian kata-kata tanpa makna.

Maaf... Analisa peran,

Maaf...
Analisa peran, kedudukan dan relasi perempuan di dalam dimensi konflik ini sesungguhnya diletakan pada bingkai nilai-nilai filosofi kemanusiaan yang mana?

Tak ada yang bebas nilai...

Teks tanpa konteks, cuma rangkaian kata-kata tanpa makna.