1965


Jangan Lagi Ada yang Menjauh

Oleh: Ahmad Tohari

Belum lama ini, terbit sebuah buku berjudul Menyintas dan Menyeberang karya Singgih Nugroho. Buku yang ditulis berdasarkan penelitian lapangan ini mencoba mengungkap penyebab perpindahan agama sekelompok masyarakat di sebuah desa di wilayah Salatiga, Jawa Tengah.

Terungkap bahwa di desa tersebut cukup banyak warga masyarakat yang berpindah dari agama Islam ke agama Kristen. Motivasinya macam-macam. Sebagian mengaku berpindah keyakinan atas pilihan sadar mereka. Tetapi, ada juga yang mengaku pindah agama untuk memenuhi keinginan mencari rasa lebih nyaman.

Catatan Bedah Buku Ketika Sejarah Berseragam

Empat Catatan Membaca Buku Ketika Sejarah Berseragam
Oleh: Yoshi Fajar Kresno Murti.

Pertama,

Kate McGregor dalam bukunya Ketika Sejarah Berseragam mengakui di bagian pendahuluannya, bahwa dengan momen lengsernya Suharto, bukunya itu menjadi suatu rekaman beku tentang cara militer merekam masa lalu selama niasa Orde Baru (ha1.32)

LAPORAN UTAMA, Belum Sepenuhnya Negara Menjamin Hak Ekosob Warganya

HASIL penelitian jaringan Syarikat Indonesia di 26 kota di Jawa, hampir semua korban tragedi politik 1965-66 mengalami pergeseran dalam organisasi dan pekerjaan sebelum dan sesudah peristiwa berdarah itu.Yang semula aktif menjadi ragu dan takut terlibat dalam organisasi, apapun bentuk dan tujuannya. Demikian juga dalam hal pekerjaan, yang awalnya berstatus PNS (Pegawai Negri Sipil) sekarang harus kerja serabutan. Demikian pula yang dulunya  berstatus pelajar/ mahasiswa, saat ini banyak yang menganggur. Kebanyakan dari mereka mencoba bertahan hidup dengan bekerja seadanya.

Temu Kiprah Perempuan DIY dan Komnas Perempuan

Ibu-ibu survivors 65 DIY yang tergabung dalam KIPER, mengadakan diskusi dengan KOMNAS PEREMPUAN Divisi pengembangan sistem pemulihan pada Minggu 24 Agustus 2008 di rumah ibu Sumarmiyati, Yogyakarta, dalam pertemuan tersebut, anggota KIPER hadir kurang lebih 15 orang (ada anggota yang datang dari Bantul), sedangkan dari KOMNAS PEREMPUAN dihadiri oleh Ibu Nunuk , Ibu Azriana, Ibu Sri Wiyanti, Ibu Sawitri.

Diskusi Buku Menyintas dan Menyeberang

Penelitian menunjukkan bahwa Islam terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan agama yang dianggap sangat dekat dengan pelaku kekerasan di masa itu. Persepsi itu terbangun dari keterlibatan sejumlah ormas Islam di beberapa daerah dalam menyikapi peristiwa 1965, dan itu dianggap sebagai representasi dari kelompok Islam secara keseluruhan. Sikap keras sebagian kelompok Islam terhadap orang-orang yang memiliki keterikatan dan keterkaitan dengan komunis banyak dipengaruhi ketidaktegasan pemisahan antara agama dan politik, dirasakan oleh korban sebagai sebagai citra Islam secara keseluruhan.

Post-Suharto Muslim engagements

Martin van Bruinessen, "Post-Suharto Muslim engagements with civil society and democracy”, paper presented at the Third International Conference and Workshop “Indonesia in Transition”, organised by the KNAW and Labsosio, Universitas Indonesia, August 24-28, 2003. Universitas Indonesia, Depok.

Post-Suharto Muslim engagements
with civil society and democratisation

Martin van Bruinessen
ISIM / Utrecht University

Does Islam as a system of beliefs or as a political force have something positive to contribute to the hoped-for democratisation of Indonesia, or will it largely be an impediment and a threat to the emergence of an open society? Many participants in the political process have strong opinions on these questions. There are those who argue — and not without some justification — that reformist political Islam represents the only significant alternative to the patrimonial, authoritarian and corrupt political culture pervading almost all parties and thereby is the country’s only hope for democracy. Others — and these include many committed Muslims besides secular nationalists and non-Muslims — fear that the Muslim ambition of turning Indonesia into an Islamic state is perhaps the most serious threat the country is presently facing, the more so since radical Muslim groups appear to be courted by power-greedy military and civilian elite factions. There is a widespread and understandable fear of resurgent political Islam — but this resurgent political Islam is itself in large measure a response to another perceived threat, the fear that Islam’s very presence in Indonesia is being threatened. 

Menyintas dan Menyeberang

Menyintas dan Menyeberang :

Perpindahan Massal Keagamaan Pasca 65 di Pedesaan Jawa

ISBN : 978-979-1287-01-3
Penulis : Singgih Nugroho
Penerbit : Syarikat Indonesia
Tanggal : Juli 2008
Halaman : xx + 329
Ukuran : 14 x 21cm
Berat : -0-
Kategori : Sejarah
Harga Toko: Rp. 40.250,-
Distributor : Jagad Media Inc.

Pesan via e-mail : terbit@syarikat.org

Ketika Sejarah Berseragam

Ketika Sejarah Berseragam:

Membongkar Ideologi Militer
Dalam Menyusun Sejarah Indonesia

No. ISBN : 978-979-1287-01-2
Penulis : Katharine E. Mcgregor
Penerbit : Syarikat Indonesia
Terbit: Juli 2008
Jumlah Hlm : xxvii + 459
Ukuran : 14 x 21 cm
Berat Buku : -0-
Kategori : Sejarah
Harga Toko : Rp. 55 000,-
Distributor : Jagad Media Inc

Pesan via e-mail : terbit@syarikat.org

Seeing the Indonesia’s past from my village

budiawan

By Budiawan

Mdm. Francois Mitterand’s visit

I had never dreamed before that the river near the village where I grew up was visited by the former first lady of France, Mdm. Francois Mitterand. It was February 2, 1999, eight months after Suharto stepped down following the mass student demonstrations and racialized pogroms in a number of big cities in Indonesia, Mdm. Mitterand and a number of French and Indonesian human rights advocates visited the river. Another group of visitors coming with them were tens of former political prisoners who had been accused of being involved in the September 30, 1965 events, i.e., the kidnapping and killing of six top army officers and a lieutenant. (Since the Indonesian Communist Party [or the PKI] was accused of having masterminded the killing, anybody having been associated with the Party was either killed or imprisoned without trials for years).  

Pengungkapan Fakta 1965 Tanpa Disertai Ancaman

SLEMAN, KOMPAS - Sebagai upaya rekonsiliasi mewujudkan perdamaian di Indonesia, masyarakat perlu memberi kesempatan bagi pengungkapan fakta-fakta yang terjadi di seputar tahun 1965. Karena ada berbagai macam fakta di lapangan, pengungkapannya diharapkan dapat dilakukan tanpa disertai ancaman pada kelompok lain yang berbeda pandangan.