reconciliation
REKONSILIASI, Menepis Stigma lewat Seni
Oleh: Pipit Ambarmirah
SALAH satu cara yang dapat digunakan untuk rekonsiliasi kultural adalah lewat kesenian rakyat. Selain bisa untuk mengobati trauma juga sebagai ajang melestarikan kesenian rakyat yang hampir dilupakan.
Pada Minggu terakhir Mei 2008, selama 4 hari berturut-turut tanggal 26, 28, 29 dan 30, Kulon Progo, Bantul, Yogyakarta dan Prambanan diadakan road-show ketoprak rakyat yang berjudul “Karto Pokil” dan teater remaja RDJ (“Ra Duwe Jeneng”).
Temu Kiprah Perempuan DIY dan Komnas Perempuan

Ibu-ibu survivors 65 DIY yang tergabung dalam KIPER, mengadakan diskusi dengan KOMNAS PEREMPUAN Divisi pengembangan sistem pemulihan pada Minggu 24 Agustus 2008 di rumah ibu Sumarmiyati, Yogyakarta, dalam pertemuan tersebut, anggota KIPER hadir kurang lebih 15 orang (ada anggota yang datang dari Bantul), sedangkan dari KOMNAS PEREMPUAN dihadiri oleh Ibu Nunuk , Ibu Azriana, Ibu Sri Wiyanti, Ibu Sawitri.
REKONSILIASI, Anak Muda Ngomong Sejarah dan Kekerasan
Sabtu, 29 Maret 08 pukul 10.00-15.00 WIB di Ruang Seminar lembaga studi Realino sekitar 20 anak muda berkumpul dan ngobrol bareng tentang Sejarah dan kekerasan yang bertajuk “Mendengar Indonesia”.
Kegiatan tersebut menghadirkan 3 orang pemapar yang bertutur tentang pengalamannya bergelut sejarah masa lalu. Mereka adalah Ngurah Termana, K. Hidayati dan Nining Suhartiningsih.
Ngurah (Taman 65 Bali) seorang anak muda yang lahir dan hidup dikawasan Bali. Belajar banyak hal di Taman Bali 65 yang merupakan wadah belajar bersama tentang sejarah maupun pelajaran-pelajaran yang lain yang diterapkan di Bali sebagai Kota Wisata, misal belajar bahasa Inggris. Selain itu Taman 65 Bali juga sebagai tempat berkumpul generasi tua dan generasi muda. Dengan demikian generasi muda bisa belajar sejarah versi kesaksian para pelaku sejarah yang tidak hanya tergantung dengan sejarah versi penguasa.
LAPORAN UTAMA, Budaya, Kacamata Yang Sering Terlupakan
APA yang terbersit di hati melihat kondisi negeri ini? Nyinyir. Itu mungkin kata yang bisa mewakili perasaan kita saat menyaksikan begitu banyak persoalan yang dihadapi entah karena warisan persoalan masa lalu atau karena ulah orang-orang baru.
Kondisi negeri selalu saja menggelisahkan. Sejak Orde Lama, Orde Baru sampai Orde Reformasi banyak masalah dimana rakyat – terutama rakyat kecil – selalu jadi korban. Mulai dari pelanggaran hak asasi manusia (HAM), krisis ekonomi, korupsi, pengangguran, kemiskinan dan banyak hal lagi yang kian rumit dipecahkan.
