victim
OPINI, Poligami Dan Potensi Kekerasan Terhadap Kaum Perempuan
OPINI
Poligami dan Potensi Kekerasan
Terhadap Kaum Perempuan
Oleh : Ahmad Nawawi ‘Aqiel
NAMANYA sederhana, Sujana. Pria berusia 36 tahun yang sehari-hari punya profesi sebagai pedagang tanaman hias ini tidak setenar Aa Gym, profesinya pun tidak berhubungan langsung dengan sesuatu yang berkaitan dengan dakwah. Tetapi dalam hal jumlah istri, Mang Jana begitu panggilan akrabnya, tidak kalah dengan Aa Gym. Mang Jana memiliki dua orang istri. Istri terakhirnya ia nikahi tiga bulan yang lalu.
REKONSILIASI, RAKA SWASTA, Nasi Sudah Jadi Bubur, Tak Perlu Disesali
SENIMAN adalah manusia merdeka. Tapi di era Soekarno mereka harus memilih tempat untuk mengekspresikan karyanya. Ada yang ikut Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), ada yang ikut LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) dan ada pula yang masuk Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia).
Celakanya, begitu negeri ini dilanda prahara politik tahun ’65, banyak seniman anggota dan simpatisan Lekra ditangkap dan dipenjara karena dituduh PKI. Padahal karya-karya mereka begitu bermakna bagi tumbuh suburnya jiwa nasionalisme. Satu di antaranya adalah Raka Suwasta, seniman lukis bali yang dipenjara karena menjadi anggota Lekra. Berikut ini penuturannya kepada RUAS.
Temu Rindu Menggugat Senyap : Catatan Pandangan Mata
Pengantar:
Pada 24 Juli 2005 Lingkar Tutur Perempuan mendapat kehormatan menjadi saksi sejarah reuni para perempuan korban Tragedi 1965 di Yogyakarta. Acara yang diberi nama “Temu Rindu Menggugat Senyap” ini berlangsung selama kurang lebih 5 jam tanpa ada gangguan yang berarti dan membuka ruang pengungkapan kebenaran tentang salah satu tragedi kekerasan paling berdarah di negeri ini. Di bawah ini adalah catatan pengamatan kami selama acara berlangsung. Selamat membaca!
Membuka Ruang Jumpa dan Mengungkap Rasa
