Establishing the idea of nationality
The title of the above gives us the sense that nationality is not something that is round and fixed. We see for example, that in the 6th century BC the kingdom of Sriwijaya in South Sumatra have been visited by Fahien, who spread Buddhism in the area of Sriwijaya.
Etika Politik dan Visi Kebangsaan Khittah NU
Halaqah Nasional Alim Ulama PWNU DIY
“Etika Politik dan Visi Kebangsaan Khittah NU”
Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta
2 April 2009
Signifikansi Eksistensi, itulah dua kata yang sepanjang sejarah peradaban di Indonesia telah diperankan oleh NU dan ulamanya. Bahkan jauh hari sebelum NU sebagai jam'iyah diniyah ijtima'iyah, organisasi sosial keagamaan, dideklarasikan, 31 Januari 1926. Banyak indikasi riil menunjukkan signifikansi eksistensi tersebut. Kehidupan para wali dan ulama sesudahnya, telah bersengaja membangun model pendidikan pesantren yang tidak hanya sebagai benteng terakhir pengembangan dan cagar keberagamaan ASWAJA, TETAPI sekaligus sebagai benteng terakhir dalam mengawal kedaulatan rakyat dalam bermasyarakat dan berbangsa.
Merajut Akar-Akar Kebangsaan Indonesia
Merajut Akar-Akar Kebangsaan
Oleh: Abdurrahman Wahid*
Judul diatas memberikan pengertian kepada kita bahwa kebangsaan kita bukanlah sesuatu yang bersifat bulat dan tetap. Kita lihat umpamanya, bahwa pada abad ke-6 masehi kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan telah di datangi oleh Fahien, yang menyebarkan agama Budha di daerah Sriwijaya. Ketika kemudian Sriwijaya mengirimkan orang-orang Budha ke pulau Jawa pada abad ke-8 maka mereka mendarat di pelabuhan Pekalongan dan meneruskan perjalanan ke Selatan melalui Keras, Kajen dan sebagainya. Mereka mendaki gunung Dieng, dan mendapati kerajaan Kalingga yang beragama Hindu. Kerajaan Kalingga itu dibiarkan saja mengikuti agama Hindu, dikawasan yang sekarang bernama kabupaten Wonosobo. Orang-orang Budha itu melanjutkan perjalanan melalui Kabupaten Magelang, dan mendirikan Candi Borobudur yang beragama Budha. Sebagian dari orang-orang Sriwijaya itu melanjutkan perjalanan ke daerah Yogyakarta. Di sana mereka mendirikan kerajaan Kalingga, tapi beragama Budha.
YuK!
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA
Forum Yogyakarta untuk Keberagaman (YuK!)
Mengingat asas persatuan dan kesatuan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) kebhinnekaan merupakan harta yang paling berharga bagi masa depan bangsa Indonesia. Realitas bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang multikultur adalah sesuatu yang –TAK TERBANTAHKAN.
Oleh karena itu, segala upaya yang ditujukan untuk menjaga dan merawat kebhinnekaan merupakan keniscayaan bagi seluruh komponen masyarakat di Indonesia. Menyikapi munculnya problematisasi akan disahkannya RUU Pornografi, Forum Yogyakarta untuk Keberagaman (YuK!) keberatan dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut :
Ramadhan dan Budaya bangsa
RAMADHAN DAN BUDAYA POLITIK BANGSA INDONESIA
*Oleh: Sapto Raharjanto
Marhaban ya Ramadhan, sudah hampir satu minggu ini seluruh umat Islam di berbagai penjuru dunia melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, termasuk di Negara kita, ada banyak kegiatan peribadatan di bulan yang penuh barokah ini, penulis sendiri ini ingin melihat sebuah sisi lain dari bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, yaitu bagaimana Ramadhan dan budaya politik di Indonesia, sebelum kita masuk lebih dalam untuk memaknai bulan Ramadhan dan budaya politik di Indonesia yang akhirnya banyak menimbulkan krisis multidimensional ini, alangkah baiknya terlebih dahulu kita mendefinisikan makna agama seperti yang dibangun oleh Max Weber yang menurut pengertiannya lebih pada serangkaian jawaban atas koherensi terhadap dilema eksistensi manusia seperti, kelahiran, kematian, sakit, yang membuat umat manusia harus menjawabnya dengan agama. Pengertian ini kemudian berimplikasi pada kepastian umat manusia untuk beragama, sebab umat manusia selalu dihadapkan pada masalah-masalah yang senantiasa eksis, seperti, kematian, kelahiran dan sakit.
Pancasila dan kaum muda
Pancasila dan kaum muda sebagai solusi problematika kebangsaan
*Oleh: Sapto Raharjanto
Ketika penulis menyaksikan berita di televisi mengenai adanya bantuan sembako yang diberikan kepada masyarakat miskin, maka sangat miris bagaimana kita saksikan antrean yang sampai ribuan orang yang terkadang ada banyak ibu-ibu yang terinjak injak, belum lagi bagaimana ibu-ibu berdemo untuk bisa mendapatkan minyak tanah, antrean masyarakat untuk mendapatkan gas LPG yang semakin hari harga LPG tersebut semakin melambung tinggi, lalu apakah ini wajah republik ini yang semakin lama banyak melahirkan OMB (Orang Miskin Baru) dan the lost generation sebagai imbas dari kemiskinan yang melilit rakyat Indonesia sehingga standarisasi gizi untuk anak yang merupakan generasi penerus pembangunan di Indonesia sangat rendah, dalam sepuluh tahun terakhir bangsa Indonesia semakin menjadi bangsa pengemis yang bisa kita definisikan menjadi sebuah pepatah dalam bahasa Inggris From king to beggar dan definisi untuk rakyat Indonesia sendiri menjadi semakin banyak tikus yang mati di lumbung padi.
LAPORAN UTAMA, Perlu Kebijakan Kosisten dari Penyelenggara Negara
Oleh: Erwin Endaryanta
MASIH ingat peringatan hari kelahiran Pancasila 1 Juni 2008 di Monas Jakarta yang berakhir ricuh? Peristiwa yang membuat tokoh-tokoh pendukung pluralisme berang ini mendapat tanggapan serius. Tak hanya dari tokoh-tokoh dalam negri tapi juga dari luar negri. The United Nations Committee against Torture (UNCAT) misalnya, yang kemudian merekomendasikan bahwa Indonesia perlu menangani munculnya kekerasan terhadap minoritas agama tertentu. (Jakarta post, 22/05/2008). Akar persoalan peristiwa itu adalah munculnya kekerasan didalam menanggapi aksi yang mengusung agenda pengembalian nilai – nilai pluralisme dan toleransi terhadap perbedaan. Baik perbedaan agama, ideologi maupun politik, yang sebaiknya dikembalikan dalam ukuran-ukuran Pancasila.
Ahmad Tohari dan Rekonsiliasi
![]() |
Keterlibatan seniman dalam berbagai masalah yang dihadapi masyarakatnya memiliki nilai istimewa. Menurut Lucien Goldman, sastrawan besar tidak sekedar menyampaikan pikirannya sebagai seorang idividu. Dia merepresentasikan pandangan dunia (world view, weltanschauung) bahkan semangat jaman (spirit of time) sebuah kelompok masyarakat (Damono, 1977). Dengan demikian, apa yang dikemukakan sang seniman ‘serius’ dapat dikategorikan sebagai memori kolektif sebuah komunitas bangsa. |
Misi dan Visi
Visi Syarikat Indonesia :
Mewujudkan transformasi sosial menuju masyarakat Indonesia yang adil, menghargai HAM dan kemajemukan, damai dan demokratis.
Misi dan Nilai Dasar:
LAPORAN UTAMA, Budaya, Kacamata Yang Sering Terlupakan
APA yang terbersit di hati melihat kondisi negeri ini? Nyinyir. Itu mungkin kata yang bisa mewakili perasaan kita saat menyaksikan begitu banyak persoalan yang dihadapi entah karena warisan persoalan masa lalu atau karena ulah orang-orang baru.
Kondisi negeri selalu saja menggelisahkan. Sejak Orde Lama, Orde Baru sampai Orde Reformasi banyak masalah dimana rakyat – terutama rakyat kecil – selalu jadi korban. Mulai dari pelanggaran hak asasi manusia (HAM), krisis ekonomi, korupsi, pengangguran, kemiskinan dan banyak hal lagi yang kian rumit dipecahkan.


