Perlu Gerakan Menagih Janji KKR Wawancara dengan Priyambudi Sulistyanto
WAWANCARA : Perlu Gerakan Menagih Janji KKR
Dalam ‘Debat Capres’ yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum beberapa waktu lalu, isu rekonsiliasi yang sudah mulai senyap digulirkan kembali. Salah satu capres yaitu, Susilo Bambang Yudoyono (SBY) bahkan berjanji akan membentuk KKR kembali. Lalu bagaimana sebenarnya masa depan KKR di Indonesia, berikut wawancara Pipit Ambarmirah dari RUAS dengan Priyambudi Sulistiyanto yang saat ini menjadi staf pengajar di Universitas Flinders Australia dan aktif menulis beberapa buku dan artikel tentang studi perbandingan politik di Indonesia, masalah otonomi daerah dan isu-isu HAM.
Rekonsiliasi sudah sering kita dengar sejak lama, sejak zaman reformasi sampai kemudian muncul KKR sebagai salah satu bentuk respon terhadapnya. Meskipun kemudian KKR sendiri dibatalkan oleh MK, tetapi kemarin dalam debat capres yang pertama isu tentang KKR ini digulirkan kembali. Apa tanggapan Anda?
WAWANCARA, Diskriminasi Anak TAPOL Di Era Demokrasi
WAWANCARA:
Diskriminasi Anak Tapol
di Era Demokratisasi
Pengantar Redaksi:
PERKAWINAN adalah perjalanan hidup yang harus dilalui. Tetapi sering juga dijumpai banyaknya kendala untukmenuju ke sana. Dalam tradisi jawa menentukan pasangan calon selalu mempertimbangkan bibit, bebet dan bobot.Hal itulah yang sering membenturkan kita dalam impian untuk berumah tangga, terlebih lebih kalau sudahdihadapkan pada black list dari daftar keluarga. Untuk itu Ruas mewawancarai ibu Maspiah (43 th), pengurusPaguyuban Petani Perempuan Manyaran - BanyakanKediri yang juga pernah jadi pengurus PMII tentangpersoalan itu. Berikut ini cuplikannya:
WAWANCARA, Rakyat Butuh Guru Demokrasi
PERSOALAN Parpol tak hanya menyangkut warga perkotaan tapi juga para petani. Untuk mencari gambaran tentang bagaimana sikap dan harapan para petani di Batang, RUAS melakukan wawancara dengan Handoko SH (42 th) salah satu pendiri Forum Perjuangan Petani Batang (FPPB) yang tinggal di desa Cepoko Bandar Batang. Berikut ini hasil petikannya.
Bagaimana komentar Anda tentang para pemimpin kita?
Pemimpin sekarang miskin visi kerakyatan. Bisanya mengumbar program dan bicara soal kesejahteraan tetapi minim implementasi. Maka jangan heran kalau rakyat beralih sandaran pada pemimpin diluar birokrasi dan partai.
Termasuk di Batang?
Visi kerakyatannya cuma dijabarkan dalam bentuk kunjungan kerja. Tapi kurang integral atau holistik. Contoh paling riiladalah masalah pupuk. Para pemimpin kita tak bisa memutus mata rantai dari “smokle” pupukyang kadang-kadang hilang saat petani membutuhkan.
Kenapa bisa begitu?
Wawancara, Benahi Budaya, Hapus Kekerasan, Anarki Dan Korupsi
BERKALI-KALI ganti pemerintahan namun bangsa kita tetap terpuruk. Krisis ekonomi yang berkepanjangan, anarkisme yang merajela, politisasi agama dan konflik kepentingan terus saja terjadi. Kenapa? Karena kita lebih menghargai budaya asing dibanding budaya sendiri. Akibatnya, terjadilah apa yang disebut sebagai krisis kebudayaan sebagaimana diungkap wawancara RUAS dengan KH. Maftuh Kholil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Bandung.

