Wacana

Masa Lalu Ter(Di)lupakan

Sab, 22/08/2009 - 01:05 - syarikat |
Cover RUAS V 2009

Hingar-bingar praktik politik yang sedang berlangsung telah berhasil menyedot perhatian massa rakyat Indonesia. Semua energi politik yang ada di masyarakat tumpah mengikuti proyek politik (baca: pemilu) yang sedang berlangsung. Betul-betul seperti candu lima tahunan yang melenakan berbagai pikiran kritis.

Sejenak upaya membuka kotak pandora tentang berbagai luka kebangsaan Indonesia, sejak tragedi kemanusiaan 1965-1966 hingga tindakan yang menafikan nilai-nilai kemanusiaan semasa ORBA, “dihentikan”. Memori kolektif tentang luka kebangsaan diistirahatkan dalam hingar-bingar praktek politik yang sedang berlangsung. Seolah-olah dikatakan lukanya ditahan dulu hingga perhelatan politik selesai. Luka tidak perlu menjadi discourse dalam pesta, luka itu menjijikkan dan luka membuat trauma. Karena yang sedang dilakukan adalah proses pembangunan nasional dan menata masa depan Indonesia. Lagi-lagi, masa lalu tidak pantas dibincangkan hari ini.

Undang-Undang Pornografi

Sel, 09/06/2009 - 16:57 - syarikat |
diana karmilah

“Akankah Kita Mengulang Sejarah ’65?

Oleh: Dianah Karmilah

RANCANGAN Undang-undang Pornografi yang sebelumnya bernama RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi ternyata disahkan juga tanggal 28 Oktober 2008. Padahal hampir 11 tahun RUU ini menjadi polemik dimasyarakat baik pro dan kontra dengan berbagai alasan.

Indonesia dalam Satu Coretan

Kam, 19/03/2009 - 19:27 - antok |

Indonesia dalam Satu Coretan

INDONESIA 10 tahun terakhir ini (1998 – 2008), menjadi titik refleksi bersama bahwa eksperimentasi untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia masih belum  terealisasi. Dalam pencapaian tersebut pranata demokrasi yang berubah drastis telah diujicobakan. Ujicoba ini dibangun melalui berbagai pelembagaan politik mulai level nasional sampai lokal.

Ambil contoh saja lembaga komisional, badan penanggulangan narkotika sampai urusan agama. Disamping itu, proses pemilihan langsung menjadi mekanisme baru demokrasi. Tidak berlebihan juga bahwa kepadatan dalam berdemokrasi prosedural di Indonesia dibangun dengan melibatkan partisipasi baik aktif maupun pasif. Keseluruhan bangunan ini cukup menjadi citra diri bagi Indonesia untuk bergerak dari posisi negara otoritarian menjadi negara demokratis terdepan di Asia.
Corak ini bagi ukuran demokrasi Barat dengan sarat kondisi masyarakat industrinya boleh disebut layak karena tuntutan kesejahteraan masyarakatnya terpenuhi. Tapi di Indonesia? Cermin model kesejahteraan ala Amerika atau Eropa, tak kunjung sampai.

Konflik berkesinambungan

Sab, 14/03/2009 - 15:26 - antok |

Regenerasi Konflik di Indonesia

Erwin Endaryanta

Dalam masyarakat yang heterogen, konflik dapat dipandang sebagai tenaga perubahan masyarakat maupun penghambat dalam perubahan masyarakat. Realitas heterogenitas Indonesia, baik dalam dimensi suku, agama, ras maupun sebaran sumber daya alam dan manusia yang beragam membutuhkan pengelolaan konflik sebagai manifestasi dari perubahan.

Refresh Nasionalisme, Pluralisme, dan Sejarah Indonesia

Jum, 14/11/2008 - 14:10 - syarikat |

ga_pidato

Kita, Sejarah dan Kebhinekaan:

Merumuskan Kembali Keindonesiaan*

Oleh: I Gusti Agung Ayu Ratih**

Di sini kami berdiri di ambang subuh jaman baru, jaman yang akan membawakan terang ke seluruh Jawa. Dan sekali jaman itu terbit, akan lebih banyak dituntut perjuangan, penderitaan, berperang dan memenangkannya; mula-mula sekali adalah melawan Sang Baginda Prasangka, kemudian Sri Ratu Kepicikan dan Kekerdilan, putri-putri, yang dipuja dan dituruti oleh sebagian terbesar penduduk Jawa. … Ada kami lihat Adipati-Adipati Sri Baginda Kepicikan, Kekerdilan, dan Prasangka menggigil sakit hati karena terhina undang-undangnya yang keramat itu tersentuh.
------- Kartini, Een Gouverneur-Generaalsdag

Antara Menulis Sejarah dan Mengkaji Politik Ingatan

Kam, 16/10/2008 - 17:03 - syarikat |

Oleh Budiawan

Setiap upaya mengungkap misteri sejarah hampir selalu mengundang kontroversi. Sebab, misteri sejarah itu sendiri meninggalkan sikap ambivalen. Di satu sisi ada hasrat yang menggebu untuk ingin tahu; tetapi di sisi lain ada keraguan apakah hasrat ingin tahu itu bisa terpuaskan.

Keraguan itu sendiri bersumber dari kondisi bahwa suatu peristiwa atau episode atau tokoh sejarah disebut diselimuti misteri karena jejak-jejak historis yang ditinggalkannya – apapun bentuknya – sangat tidak mencukupi sebagai bahan rekonstruksi masa lalu. Itulah sebabnya orang cenderung menerima narasi sejarah yang telah menjadi semacam “kesepakatan umum”, namun tetap tak mampu membunuh, jika bukan memelihara, hasrat ingin tahu itu. Tidaklah mengherankan, munculnya setiap upaya mengungkap misteri sejarah dengan menyodorkan “fakta-fakta baru” hampir selalu mengundang antusiasme publik. Tetapi, hal ini tidak dengan sendirinya membuat “fakta-fakta baru” itu diterima sebagai “kebenaran baru”. Di sinilah letak kontroversi itu.

Memori Kolektif dan Memori Individu

Jum, 19/09/2008 - 15:37 - antok |

Oleh : Abdul Syukur

Menarik mengikuti perdebatan soal history, his story dan sorry dari Julius Pour, Rumekso dan Romo Baskara. Pada dasarnya ini adalah perdebatan sejarah paling tua, yakni perebutan klaim kebenaran antara collective memory dengan individual memory.  Sudah lama sejarawan memperdebatkannya, karena sering kali collective memory bertentangan dengan individual memory. Belum lagi antar collective memory juga bertentangan, misalnya collective memory Jepang dengan bangsa-bangsa yang pernah dijajahnya. Kita juga mempunyai potensi bertentangan collective memory dengan Timor Leste. Namun saya tidak ingin membahas pertentangan antar collective memory ini, karena tidak berkaitan dengan polemik Julius, Rumekso dan Romo Baskara. Polemik ketiganya harus dilihat sebagai representasi dari polemik collective memory dan individual memory. Dalam hal ini Julius mewakili collective memory, sementara Yoyok dan Romo Bas mewakili individual memory.

Membaca Sejarah secara Terbalik

Kam, 18/09/2008 - 17:05 - antok |

Oleh: Rumekso Setyadi

Pertengahan 2006 sekelompok seniman Yogyakarta yang dimotori oleh Agus Suwage dkk yang disponsori oleh Cemeti Art House melakukan sebuah proyek seni rupa dengan tajuk “Masa Lalu, Masa Lupa”, kelompok seniman ini melakukan sebuah eksperimentasi untuk “bermain-main” dengan sejarah tetapi “serius” dengan penciptaan kreasi seninya.

Agus Suwage dkk membuat sebuah proyek membangun “Musium Kepahlawanan Sukrodimedjo”. Sukrodimedjo adalah tokoh rekaan yang sengaja dihadirkan untuk menguji sejauh mana sejarah dalam artian fakta itu cenderung lebih dekat dengan sebuah rekayasa yang disepakati dan mempunyai sifat yang rapuh dalam ingatan kolektif. Alhasil, dalam pameran seni ini, sang tokoh Sukrodimedjo dihadirkan secara visual melalui lukisan dan segala pernak-pernik memorabilia, yang khas kita dapatkan dalam sebuah museum, dipajang di pameran ini.

Supriyadi, Sejarah dan Narasi Masyarakat

Sel, 16/09/2008 - 17:18 - antok |

Oleh Baskara T. Wardaya

Belum lama berselang seorang Sejarawan senior menulis di harian Kompas dengan judul “History”, “His Story” atau Sekadar “Sorry” (Kompas 13/9/2008)—judul yang tentu sangat menarik. Dengan menarik pula sejarawan tersebut mengulas sejumlah buku yang ditulis berdasarkan tuturan para pelaku sejarah. Menurutnya buku-buku seperti itu perlu dipertanyakan karena cenderung hanya merupakan kumpulan “his story” tanpa bukti. Dia terkesan bersorak ketika ada buku yang dibakar hanya karena ada bagian-bagian tertentu yang dianggapnya “ajaib”. Mengingat bahwa salah satu buku yang diulas adalah buku berjudul Mencari Supriyadi, kiranya sebuah catatan perlu disampaikan di sini.

"History", "His Story", atau Sekadar "Sorry"

Sel, 16/09/2008 - 14:37 - antok |
BUKU SUPERSEMAR / Kompas Images
Soebandrio, eks Wakil Perdana Menteri I, di muka sidang Mahmillub, 3 Oktober 1966.

Sabtu, 13 September 2008 | 03:00 WIB